Hari Valentin dalam syariat islam

March 1st, 2009 by yanto82dr

Menanggapi comment dari artikel valentin yang telah lalu, saya sajikan artikel berikut…

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.
Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Penutup

Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.muslim.or.id

Bahaya Syubhat & Syahwat

May 21st, 2008 by yanto82dr

MEWASPADAI
BAHAYA SYAHWAT DAN SYUBHAT

 Sungguh
umat ini akan ditimpa dengan berbagai macam fitnah. Dan fitnah yang akan menimpa umat ini ada dua, yaitu fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Rosululloh shollallohualaihiwasallam telah mengkhawatirkan fitnah kesesatan syahwat dan syubhat terhadap umatnya, sebagaimana yang telah disabdakan beliau yang artinyaSesungguhnya diantara yang
aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti hawa nafsu pada perut kamu dan kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (
Shohih, HR Ahmad)

Sebab
Munculnya Syubhat dan Syahwat

Kalau
dirunut kebodohan merupakan sumber segala kerusakan yang ada.

Banyak
para pemuda Islam yang tertimpa penyakit yang satu ini yaitu kebodohan terhadap agama mereka.

Salah satu dampak yang di timbulkan oleh kebodohan ini adalah munculnya penyakit syahwat dan syubhat pada pemuda Islam. Oleh karena itu dibutuhkan cara untuk menghadapi penyakit tersebut dan menghilangkannya dari dada-dada
kaum muslimin.

Sebab
munculnya syahwat adalah cinta terhadap dunia dan tidak tahu bahwasanya akhirat lebih mulia dari pada dunia ini.

Sebagaimana
yang digambarkan oleh Rosululloh shollallohualihi wasallam didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodiyallohuanhu,
yang artinya "Dua
perkara yang senantiasa
membuat hati seorang tua awet muda, cinta dunia dan panjang angan-angan."

Nasehat
syaikh Muhammad bin Sholih
Al- ‘Utsaimin rohimahulloh

 Orang
yang tidak tidak mengenal kemuliaan akhirat dan malas beribadah akan menganggap dunia sebagai negeri yang senantiasa ia tempati. Ia selalu merasa kurang terhadap apa yang dimilikinya, tanpa pernah merasa cukup mengejar dunia hingga segala keinginannya terpenuhi. Padahal semua itu tidak akan memberi kepuasan bagi mereka, bahkan mampu membawa kesengsaraan. Seharusnya dia menyadari bahwa sebentar lagi kematian akan menghampirinya. Adapun orang yang mendapat taufik, dia menyadari bahwa dunia dan segala keindahannya itu hanyalah tipuan belaka, sehingga dia tidak terperdaya bahkan sebaliknya akan bergegas menuju ampunan Alloh serta surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. (Majaalis
Syahri Ramadhan
, Syaikh Muhammad
bin Sholih al ‘Utsaimin)
    Fitnah
syahwat yang terbesar

Rosululloh
shollallohualaihiwasallam telah memperingatkan
bahaya fitnah wanita ini kepada umatnya dan ini merupakan bukti bahwasanya Rosululloh shollallohualaihiwasallam telah menyampaikan risalah dari Alloh subhanahuwata’ala yaitu
dengan menjelaskan segala sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi umatnya, sehingga tidak ada satu kebaikanpun yang tidak disampaikan oleh Rosululloh shollallohualaihiwasallam kepada umatnya dan tidak ada satu kejelekanpun yang akan menimpa umat ini kecuali telah diperingatkan oleh beliau agar kita menjauhinya. Salah satu fitnah syahwat yang membahayakan adalah fitnah wanita yang merupakan fitnah pertama dan terbesar bagi kaum muslimin khususnya bagi para pemuda islam. Rosululloh shollallohualaihiwasallam
memperingatkan dari bahaya fitnah wanita, sebagaimana sabda beliau yang artinya Tidakkah aku meninggalkan fitnah, setelah aku(wafat), yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita” (HR Bukhori dan Muslim)

Dampak
mengikuti seruan syahwat

  Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rohimahulloh memberikan
penjelasan
 untuk

kita semua tentang akibat mengikuti seruan syahwat. Beliau berkata bahwa terus menerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Alloh subhanahuwata’ala, dan
lemahnya iman. Sebab, iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal maka ia akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi, pelaku maksiat akan sulit melepaskan diri dari maksiatnya, dan syaithan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh sebab itu, ahli ilmu dan ahli akhlak berkata: "Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, di mana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, setahap demi setahap sampai ia berpaling dari agamanya." Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan taufik dan keselamatan kepada kita semua. (Majaalis syahri Ramadhan)

Penyebar
syubhat pada kaum muslimin

Kaum munafiqin
merupakan penyebar syubhat terbesar bagi kaum muslimin.

Kaum muslimin terus menerus merasakan kepedihan dan musibah akibat dari perbuatan mereka. Kaum munafiqin terus menerus melemparkan syubhat-syubhat ke tubuh kaum muslimin sedikit demi sedikit  sehingga
tidaklah heran jika pada masa sekarang banyak pemikiran-pemikiran yang
menyesatkan dan menggelincirkan kaum muslimin. Mereka berpaling dari al Qur’an dan as Sunnah dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya. Alloh subhanahuwata’ala
berfirman, yang artinya
Alloh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”(al Baqoroh: 15).

Diantara
ciri kaum munafiq ialah tidak mau beriman sebagaimana keimanan para sahabat dan mencela salafush sholeh bahkan mereka mengatakanAkankah kami beriman sebagaimana keimanan orang-orang yang bodoh itu?’. Orang-orang munafiq ini menuduh para sahabat sebagai orang-orang yang bodoh.
Namun Alloh Ta’ala membuka kedok mereka bahwa sebenarnya merekalah orang-orang yang bodoh, Alloh berfirman, Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, akan tetapi mereka tidak mengetahui(Al Baqoroh : ).
Mereka
mencela cara para sahabat dalam beragama, mereka menganggap para sahabat itu
tidak berilmu padahal mereka itulah yang tidak berilmu. 

Cara
menghadapi fitnah syahwat dan syubhat

Fitnah
syubhat dapat dihadapi dengan ilmu.

Sebagaimana perkataan
Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh :Seseorang yang kokoh dalam ilmu jika datang syubhat-syubhat kepadanya sebanyak ombak lautan tidak akan menggoyahkan keyakinannya, dan sama sekali tidak menimbulkan keraguan sedikitpun pada hatinya. Karena jika seseorang telah kokoh dalam ilmu maka tidak akan digoyahkan oleh syubhat, bahkan jika datang syubhat kapadanya akan ditolak oleh penjaga ilmu dan pasukannya sehingga syubhat tersebut akan kalah dan terbelenggu”. (Miftah Daris Sa’adah).

Sedangkan
fitnah syahwat dapat diredam dengan takwa, oleh karena itu Alloh subhanahuwata’ala berfirman yang
artinya Sesungguhnya yang takut kepada Alloh adalah ulama’.”. para ulamadengan bekal ilmu yang mereka warisi dari para Nabi dapat mencapai tingkat takwa yang paling tinggi yaitu khosyatulloh (takut
kepada Alloh). Oleh karena itu, kita meminta kepada Alloh subhanahuwata’ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih, agar diberikan rasa takut yang rasa takut tersebut dapat menghalangi kita dari berbuat maksiat kepadanya. [Didik Abul Abbas]

Desyanto DR ST MT

May 12th, 2008 by yanto82dr

Hmmm…
Lama ga posting…
belum sempet posting neh…
Tunggu aja yah…

Eits,.. Dari pada ga posting..
aku kasih deh…

Desyanto Dwi Rahmadi ST MT
ST Aku peroleh dari Teknik Elektro UNDIP
MT Aku peroleh dari UGM (baca Universitas Gaya Motor, alamatnya Astra)

Hohoho…
Gitu aja yach…

Hakikat Tauhid

February 2nd, 2008 by yanto82dr

Hakekat dan Kedudukan Tauhid

 Tauhid merupakan kewajiban utama dan
pertama yang diperintahkan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat
disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti
hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang merupakan dasar agama
kita yang mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin
untuk mengerti hakekat dan kedudukan tauhid.
 Hakekat tauhid adalah mengesakan Alloh. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi
tiga yakni

Mengesakan Alloh dalam
Rububiyah-Nya,

 Maksudnya adalah kita meyakini
keesaan Alloh dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh
Alloh,tanpa bantuan siapapun, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta
beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya
yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh
manusia, tidak ada seorangpun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari
hal ini, seperti kaum komunis, pada kenyataannya mereka menampakkan
keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati
mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang
membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri.
Hal ini sebagaimana firman Alloh "Apakah mereka
diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan
?

Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan)
" (Ath-Thur: 35-36).

 Namun pengakuan seseorang terhadap
tauhid rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena
sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui
dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Alloh "Katakanlah: "Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh
dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?"

Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Alloh." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah
yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi,
tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu
mengetahui?"
 Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Alloh." Katakanlah: ", maka dari jalan manakah kamu ditipu?"
(Al-Mu’minun : 86-89). Dan yang
amat sangat menyedihkan adalah kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang
menganggap bahwa seseorang sudah dikatakan beragama Islam jika telah memiliki
keyakinan seperti ini. Wallohul musta’an.

Mengesakan Alloh dalam
Uluhiyah-Nya,

 Maksudnya adalah kita mengesakan
Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar,
menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah
lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya
kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan
merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana
yang difirmankan Alloh mengenai perkataan mereka itu "Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat
mengherankan.
"
(Shaad:5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy
mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh
semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan
Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam
semesta.

//Orang kafir
Quraysy meyakini bahwa yang menciptakan langit & bumi adalah Alloh, tapi
mereka tidak mau beribadah kepada Alloh. Mereka hanya beribadah kepada Alloh
& meninggalkan berhala-berhala jika
mereka sedang dalam kesempitan/kesulitan.

Mengesakan Alloh dalam
Nama dan Sifat-Nya
,

 Maksudnya adalah kita beriman kepada
nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Rosululloh, tanpa menakwilkan/mengkiaskan,merubah arti yang sesungguhnya. Dan
kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama
terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan
Asmaul Husna). Sebagaimana firman-Nya "Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang
Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.
" (Al-Hasyr
: 24).

Seseorang baru dapat dikatakan
seorang muslim yang tulen jika telah mengesakan Alloh dan tidak berbuat syirik
dalam ketiga hal tersebut di atas. Barangsiapa yang menyekutukan Alloh (berbuat
syirik) dalam salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia bukan muslim
tulen tetapi dia adalah seorang musyrik.

Kedudukan
Tauhid

Tauhid memiliki kedudukan yang
sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan
tentang kedudukan tauhid uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali
dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim
namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada
selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan
sebagainya.

//Oleh karena itu,
kunci surga adalah Laa ilaa ha
illalloh,
yaitu yakin dengan sepenuh hati bahwa Allohlah yang berhak
disembah, bukan yang lain. Alloh lah tempat kita memohon, bukan yang
lainnya…

Tauhid Adalah Tujuan
Penciptaan Manusia

Alloh berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah kepada-Ku.
"
(Adz-Dzariyat :56) maksud dari
kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Alloh dalam segala macam bentuk
ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu,
seorang sahabat ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan
penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh saja.
Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main
dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Alloh
 Dan
tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya
dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan,
tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat
demikian."
(Al
Anbiya 16-17). "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan
kamu secara main-main , dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
Kami?
" (Al-Mu’minun :115)

Tauhid Adalah Tujuan
Diutusnya Para Rosul

Alloh berfirman, "Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan) : "Sembahlah Alloh , dan jauhilah Thaghut itu
"
 (An-Nahl :36). Makna dari ayat ini adalah
bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad
shollallohu alaihi wa sallam diutus oleh Alloh untuk mengajak kaumnya
untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak memepersekutukanNya dengan
sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah "Sudahkah kita
memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam untuk
beribadah hanya kepada Alloh semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh
terhadap seruan Rosululloh ini? ". Tanyakanlah hal ini pada masing-masing kita dan
jujurlah.

Tauhid merupakan
perintah Alloh yang paling utama dan pertama

Alloh berfirman, "Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh
, dan teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri
"
(An-Nisa :36).
Dalam ayat ini Alloh menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan
adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan
daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka
sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia,
namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya
kepada Alloh semata.

Itulah hakekat dan kedudukan tauhid
di agama kita, dan setelah kita mengetahui besarnya hal ini akankah kita
tetap bersikap acuh tak acuh untuk mempelajarinya? [Abu Uzair Boris
Tanesia]

Kiamat

February 2nd, 2008 by yanto82dr

KIAMAT

Hari kiamat ialah hari yang dahsyatnya
luar biasa. Alloh banyak menjelaskan dalam kitab-Nya tentang kengerian yang
terjadi di hari tersebut, mulai dari digulungnya matahari, jatuhnya
bintang-bintang, hancurnya gunung-gunung, bergoncangnya bumi serta sederet
peristiwa mahadahsyat yang lain. Bencana tsunami yang menimpa Aceh beberapa
waktu lalu amat dahsyat, dan ketahuilah sungguh kiamat besar besok jauh lebih
dahsyat lagi. Alloh berfirman, "Dan apabila lautan dijadikan meluap". Dan
sudah seharusnya bagi kita memetik pelajaran berharga untuk bertobat dari
berbagai macam kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan yang selama ini kita
lakukan.

Hanya Alloh sajalah yang tahu kapankah
hari kiamat, bahkan Rosul-Nya dan malaikat-Nya yang paling mulia pun tidak
mengetahui waktunya.

Tanda hari kiamat

 Tanda-tanda munculnya hari kiamat amat
banyak, baik yang sudah terjadi, sedang terjadi ataupun belum terjadi.
Diantaranya yaitu diutusnya Muhammad rosululloh dan wafatnya beliau. Begitu pula
munculnya orang-orang bodoh yang justeru ditokohkan dan jadi panutan,
orang-orang berlomba-lomba untuk memegahkan bangunan masjid. Di samping itu akan
muncul tanda-tanda besar seperti Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa serta Ya’juj
dan  Ma’juj.  

 Dajjal ialah seorang pembohong besar yang akan keluar di akhir zaman yang
mengaku sebagai tuhan. Ia dinamai Al Masih karena menjelajah seluruh
dunia bagaikan hujan yang terbawa angin kecuali terhalang masuk Makkah dan
Madinah. Dajjal seorang yang buta sebelah dan tertulis diantara kedua matanya
‘kaf fa ro’ yang hanya dapat dibaca oleh orang mukmin. Dajjal hidup selama 40
hari; sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan dan
sisanya seperti hari biasa. Fitnahnya sangat besar diantaranya memerintahkan
langit untuk turunkan hujan dan turunlah, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan
tanaman dan tumbuhlah. Kemunculannya telah ditegaskan oleh Sunnah dan ijma’.
Dajjal ini kelak akan dibunuh oleh Nabi Isa. Nabi Isa ini wafat dan disholatkan
kaum muslimin. (Lihat keterangan lebih panjang dalam Syarah Lum’atul
I’tiqod
Syaikh Ibnu Utsaimin atau huru hara hari kiamat karangan ibnu
katsir)

Beriman kepada fitnah kubur,
siksa dan nikmat kubur.

Fitnah kubur yaitu pertanyaan kubur yang akan diajukan kepada orang mati setelah dikubur, yaitu "Siapakah Robbmu, nabimu dan apa agamamu" Alloh akan meneguhkan orang mukmin dengan ucapan yang benar dan lancar : "Robbku Alloh, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad". Adapun orang yang ragu atau munafik maka ia
mengatakan : "ha.. ha.. saya tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan
sesuatu maka aku tiru". (syarah Al Wajibat) Ini menunjukkan bahwa
pertanyaan tersebut tidak akan semudah dijawab dengan hanya dihafal di dunia.
Sungguh orang munafik yang hafal dan paham maknanya di dunia tetap saja tidak
akan mampu menjawabnya. Dan jawaban seorang hamba tidak akan terlepas
bagaimanakah keilmuannya terhadap jawaban tersebut dan amalnya ketika di
dunia.

Seluruh manusia pada hari itu
dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan

Termasuk
dalam unsur iman kepada hari akhir yaitu beriman kepada kebangkitan, yaitu dihidupkannya orang yang telah mati tatkala ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya.
 Manusia kala itu dikumpulkan dalam keadaan tak
beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan, namun urusan manusia tatkala itu
amat berat sehingga mereka tidak sempat memperhatikan aurat orang lain. Alloh
Ta’ala berfirman, "Kemudian setelah itu kamu sekalian benar-benar akan
mati, lalu kamu sekalian benar-benar akan dibangkitkan di hari kiamat"
(Al
Mu’minun : 15-16). Dan firman-Nya, "Katakanlah: "Sesunguhnya orang-orang yang
terdahulu dan orang-orang sesudahnya benar-benar akan dikumpulkan pada suatu
waktu yang dikenal."
(Al Waqi’ah : 49-50). Rosululloh bersabda, "Sungguh
kalian semua akan dikumpulkan dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang dan
tidak bersunat…"
(HR. Bukhori, Muslim).

Dihisabnya amal dan diganjar

Seorang hamba akan dihisab atas amal
perbuatannya dan diganjar sesuai dengan amalnya tersebut. Alloh Ta’ala
berfirman, "Kemudian kewajiban Kamilah menghisab mereka" (Al Ghosyiyah :
26). Alloh juga berfirman, "Barangsiapa membawa amal yang
baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang
membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang
dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan)."
(Al An’am : 160).

Umat Muhammad
sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah ummat yang pertama kali dihisab. Amal
hamba yang pertama kali dihisab berkaitan dengan hak Alloh adalah
sholat
, sedangkan yang
berhubungan dengan hak manusia adalah masalah pembunuhan. Seorang mu’min yang
dihisab maka Alloh memperlihatkan kepadanya amal-amalnya kemudian ia mengakui
dan merasa akan binasa, lalu Alloh berfirman kepadanya, "Aku telah menutupi
dosa-dosamu itu ketika di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya"

kemudian diberikan kepadanya catatan-catatan kebaikannya. Adapun orang-orang
kafir dan munafik maka diserukan kepada seluruh makhluk bahwa inilah orang-orang
yang mendustakan Robb mereka, ketahuilah bahwa laknat Alloh diberikan untuk
orang-orang yang berbuat zholim.

Amal manusia ditimbang dengan timbangan
pada hari kiamat. Timbangan ini adalah timbangan hakiki yang memiliki dua daun
timbangan. Alloh berfirman, "Barangsiapa yang berat timbangan
(kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan
.
Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah
orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka
Jahannam.
"
(Al Mu’minun :
102-103).

Surga dan Neraka

Mengimani adanya Surga dan Neraka termasuk
rangkaian iman kepada hari kiamat. Keduanya adalah kampung abadi bagi para
makhluk. Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang telah disediakan untuk
orang-orang yang beriman bertakwa, taat, ikhlas pada Alloh serta taat pada
Rosul-Nya. Kenikmatan dalam surga begitu besarnya, tak pernah terlihat oleh
mata, tak pernah didengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam benak
manusia. Alloh berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridha terhadap
mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi
orang yang takut kepada Tuhannya.
"
(Al Bayyinah : 7-8).

Adapun neraka adalah negeri yang penuh
dengan kesengsaraan dan berbagai adzab yang telah Alloh sediakan untuk
orang-orang kafir dan zholim, yang mereka kufur kepada Robbnya dan mendustakan
Rosul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai macam adzab yang tidak pernah
terlintas dalam hati. Alloh berfirman, "Sesungguhnya Kami
telah sediakan bagi orang orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung
mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan
air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang
paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
"
(Al Kahfi :
29)

Setelah masuknya penduduk surga yang
terakhir ke dalam surga, ‘kematian’ diwujudkan dalam bentuk domba, kemudian
domba itu disembelih (HR. Bukhori). Artinya tidak ada lagi kematian sejak saat
itu, maka kekallah penduduk surga di surga dan penduduk neraka di neraka
selama-lamanya.

(Syarah Tsalatsatu Ushul, Ibnu
Utsaimin). 
Wallohu a’lam [Abu Yusuf Johan]

Emansipasi

February 2nd, 2008 by yanto82dr

Emansipasi
Wanita

 Sungguh merupakan musibah besar yang melanda umat Islam tatkala kaum muslimah keluar dari rumahnya dalam keadaan berpakaian tetapi telanjang. Padahal Rosululloh shollallohualaihi
wa sallam
telah mengabarkan bahwa perempuan-perempuan semacam itu tidak akan mencium bau surga. Beliau bersabda, "

Ada

dua
golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya…(salah satunya) para wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berlenggak-lenggok. Rambut kepala mereka seperti punuk unta, mereka itu tidak akan mendapatkan baunya surga padahal bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian."
(HR.Muslim). Saudariku, kalau engkau masih mau mendengar nasihat Nabimu maka kenakanlah jilbabmu dengan benar!!.

Mengekor
barat

 Nabi telah memperingatkan bahwa akan ada diantara umat ini yang mengikuti
budaya orang-orang terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
Imam Bukhori telah mencatat sabda Beliau, "Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti

gaya

hidup
orang-orang sebelum kalian,
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai-sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis biawak) niscaya ada di antara kalian yang ikut masuk pula ke dalamnya."

 Lihatlah wanita-wanita muslimah di sekeliling kita, bukankah selama ini sebagian besar dari mereka menjadi korban budaya barat yang kafir itu?. Hampir segalanya mereka tiru; mulai dari cara berpakaian, cara berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan sampai pola pikir yang hedonis (mencari kesenangan dunia semata) dan ujung akhirnya mereka turut bercampur baur dengan kaum lelaki di kantor-kantor, di parlemen dan restoran-restoran. Kini terbuktilah perkataan Nabi yang mulia, dan sungguh sangat ironi tatkala mereka melakukan ini semua dengan bertameng emansipasi yang digembor-gemborkan oleh barat.

Ikutilah jejak ibunda

 Andaikata apa yang kalian lakukan ini dengan bercampur baur bersama kaum pria di pemerintahan, di kantor-kantor adalah kemaslahatan untuk kaum muslimah tentulah para isteri Nabi dahulu adalah orang pertama yang melakukan perbuatan sebagaimana yang kalian
lakukan sekarang ini? Lalu mengapa kalian melakukan apa yang tidak mereka lakukan? Apakah kalian merasa lebih cerdas dari ibundaAisyah yang menyadari kesalahannya tatkala berani memimpin pasukan ketika terjadi perang Jamal?. Beliau benar-benar menyesal karena melalaikan sebuah sabda Rosululloh, "Tidak akan pernah beruntung kaum manapun yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan" (HR.
Bukhori). Cobalah bandingkan dengan sebagian kaum muslimah dewasa ini yang dengan bangga memamerkan auratnya di layar kaca yang ditonton oleh ribuan pasang mata! Atau mereka yang dengan berapi-api berteriak-teriak berdemo di jalan-jalan dengan dalih untuk membela hak kaum muslimin, dan lebih lucunya lagi berdalil dengan perbuatan Aisyah yang telah disesali tersebut. Atau mereka yang berkoar-koar di atas mimbar demi mendapatkan kursi DPR serta rela bercampur baur dengan lelaki yang bukan mahromnya. Allohu akbar!!, hanya kepada-Nya lah kami mohon pertolongan.

Kembalilah ke istanamu

 Seorang muslimah yang sholihah yang senantiasa menjaga dirinya, memiliki rasa malu dan memelihara kehormatannya itulah yang dipuji oleh syari’at. Dengan aktivitasnya mengurus rumah dan membekali dirinya dengan ilmu syar’i atau mendidik anak-anak maka dengan demikian ia telah turut serta berusaha mewujudkan masyarakat islami. Melalui tangan-tangan dan didikan
merekalah akan terlahir pemuda-pemudi yang berbakti kepada Alloh dan Rosul-Nya. Namun sayang sekali betapa sedikitnya wanita semacam ini. [Ari Abu Mushlih]           

Masalah seputar Dakwah

January 29th, 2008 by yanto82dr

                     
                     
                      Salah Satu Syubhat Seputar Dakwah dan Jawabannya

                     

                     
                      Pertanyaan kepada Syaikh Abul Hasan
                      Mushthafa bin Ismail As-Sulaimani, dalam Silsilah Fatawa
                      Syar’iyyah no. 208.

                     

                                   Pertanyaan: Kita
                      melihat beberapa da’i dan pengikut mereka duduk-duduk atau
                      bermajlis bersama orang-orang yang menyeru selain Allah,
                      dan menyembelih  kepada selain Allah atau orang-orang yang
                      mengerjakan syirik besar. Mereka tidak mengingkari orang
                      yang mengerjakan syirik ini. Jika kami menegur mereka: "Mengapa
                      kalian tidak menerangkan kepada mereka hukum syar’i
                      tentang amalan mereka dengan penuh hikmah dan disertai
                      pengajaran yang baik ?" Mereka akan menjawab: "Kami
                      khawatir mereka akan lari dari kami, dengan demikian,
                      berarti kami telah memecah belah shaf-shaf kaum muslimin.
                      Kemudian mereka juga berkata: Kami diam dan tidak
                      menjelaskan dan mengingkari perbuatan mereka dengan tujuan
                      untuk menyatukan kaum muslimin. Karena, ketika Musa ‘alaihissalam
                     
mengingkari perbuatan Harun ‘alaihissalam yang
                      diam terhadap amalan Bani Israil ketika mereka menyembah
                      patung anak lembu, Harun berkata kepada Musa:

            

                      {
                      ϻ̳ K³jM Á» Ë ½ÎÖAjmG ÏÄI ÅÎI O³j¯ ¾Ì´M ÆC OÎra ÏÃG}

                     

                     
                      Aku Khawatir bahwa kamu akan berkata
                      kepadaku: Kamu telah memecah belah antarwa Bani Israil dan
                      kamu tidak memelihara amanatku.

                     

                     
                      Apakah ucapan mereka itu benar ? Apakah
                      dalil mereka dengan ayat itu telah sesuai pada tempatnya
                      atau tidak ?

                     

                     
                      Jawab:

                     

                     
                                   Kalau kita ingin mengetahui
                      pendalilan mereka itu. Maka, mari kita merujuk kembali
                      pada konteks ayat pada surat Al-A’raf dan surat Thaaha.
                     

                     

                     
                      Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat
                      150-151:

                     

                     
                      Á¸Ii j¿C

                     
                       ÁN¼V§C Ðf¨I Å¿ ÏÃÌÀN°¼a BÀn×I ¾B³ B°mC ÆBJz« ɿ̳ Ó»G ÓmÌ¿ ©Ui BÀ» Ë}
                     
pCjI haC Ë `AÌ»ÞA Ó´»C Ë

                     

                     
                        { ÅÎÀYAj»A ÁYiC OÃC Ë ¹NÀYi ϯ BļaeA Ë
 
                     
                       ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li ¾B³……………

                     

                     
                      Dan tatkala Musa telah kembali kepada
                      kaumnya dengan marah dan sedihhati berkatalah ia: "Alangkah
                      buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah
                      kepergianku ! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu
                      ?" Dan Musa melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang
                      (rambut) kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya.
                      Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini
                      telah menganggapku lemah dan hampir-hampir membunuhku,
                      sebab itu jangnlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira
                      melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam
                      golongan orang-orang yang zalim". Musa berdoa: "Ya Tuhanku,
                      ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam
                      rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara
                      para penyayang
".

                     

                     
                      Dan firman Allah dalam surat Thaaha ayat
                      88-94:

                     

                      Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka
                      (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara
[1],
                      maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa,
                      tetapi Musa telah lupa". Maka apakah mereka tidak
                      memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat
                      memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi
                      kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi
                      manfaat. Dan sesungguhnya Narun telah berkata kepada
                      mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesunggyhnya kamu hanya
                      diberi cobaandengan anak lembu itu dan sesungguhnya
                      Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku
                      dan taatilah perintahku". Mereka menjawab: "Kami akan
                      tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
                      kepada kami". Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang
                      menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga)
                      kamu tidak mengikuti aku ? Maka apakah kamu telah (sengaja)
                      mendurhakai perintahku ?". Harun menjawab: "Hai putera
                      ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan kepalaku;
                      sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku):
                      "Kamu telah memecah belah antara Baani Israil dan kamu
                      tidak memelihara amanatku
".

                     

Barang siapa yang merenungi keadaan Harun ‘alaihissalam
                      seperti yang tersebut dalam ayat tadi, maka akan jelas
                      diketahui bahwa keadaannya sangat jauh berbeda dengan
                      keadaan orang-orang seperti dalam pertanyaan diatas.
                      Perbedaan itu ada dalam beberapa segi:

                     

                      1. 
                     
Sesunguhnya Harun ‘alaihissalam telah
                      menasehati para penyembah patung anak lembu itu. Beliau
                      telah mengingatkan mereka akibat yang akan menimpa mereka
                      disebabkan amalan mereka tersebut. Ini sangat jelas
                      diterangkan dalam Al-Quran. Seperti firman Allah:

                                                                  
                     

                     
                      { ½J³ Å¿ ÆËiBÇ ÁÈ» ¾B³ f´» Ë }

                     

                     
                      Dan sungguh Harun telah berkata kepada
                      mereka sebelumnya.

                     

                      Yaitu, sebelum pulangnya Musa.
                                                                                                
                     

                     
                      { ÉI ÁNÄN¯ BÀÃG }

                     

                     
                      Sesungguhnya kamu telah diberi cobaan
                      dengan itu .

                     

                      Ada yang mengatakan bahwa kata ganti dalam
                      ayat itu bermakna patung anak lembu dan ada pula yang
                      mengatakan bahwa itu adalah Samiri.

                                                                                        
                     

                     
                      { ÅÀYj»A Á¸Ii ÆG Ë }

                     

                     
                      Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang
                      maha Pemurah
.

                     

                      Yaitu, Tuhan yang wajib kalian esakan
                      dalam ibadah. Disebutkan dengan lafal Ar-Rahman agar
                      mereka tidak putus asa untuk bertaubat kepada Allah.

                                                                               
                     

                     
                      { Ðj¿C ĄÎ?C Ë ÏĄ̃JMB¯ }

                     

                     
                      Maka ikutilah aku dan taatilah
                      perintahku
.
                     

                     

                      Yaitu, mengikuti beliau untuk mengesakan
                      Allah dalam segala peribadatan dan meninggalkan peribatan
                      kepada selain-Nya.

                                          
                     

                     
                      { ÓmÌ¿ BÄλG ©UjÍ ÓNY Åΰ·B§ Éμ§ `jJà Ż AÌ»B³ }

                     

                     
                      Mereka menjawab: "Kami akan tetap
                      menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
                      kepada kami"

                     

                     
                      Yaitu, Kami akan tetap pada keadaan kami
                      untuk menyembah patung anak lembu sampai Musa pulang.
                      Apakah ia menyetujui atau mengingkari perbuatan kami ini.

                     

                     
                      Coba perhatikan penjelasan di atas !
                      Apakah ada nasiahat dan kelembutan serta penjelasan yang
                      lebih banyak lagi daripada yang telah dilakukan oleh Harun
                      ‘alaihissalam ?

                     

                      2. 
                     
Sesungguhnya Harun ‘alaihissalam
                      setelah menjelaskan apa yang menjadi kewajibannya kepada
                      kaumnya, dan beliau melihat pembangkangan dan kelancangan
                      mereka terhadapnya, dan Harun ‘alaihissalam merasa
                      takut akan tertimpa sesuatu terhadap dirinya. Kemudian,
                      beliaupun diam.

                     

Ini telah dijelaskan dalam cuplikan ayat:
                     

                                                                                     
                     

                     
                      {ÏÃ̰¨zNmA ÂÌ´»A ÆG }

                     

Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.
                     

                     

Maksudnya, karena sedikitnya orang yang menolongku dan
                      kelancangan mereka terhadap diriku

                                                                                    
                     

                     
                      {ÏÄÃ̼N´Í AËeB· Ë }

                     

dan hampir saja mereka membunuhku.
                     

                     

Ibnul ‘Arabi telah berkata dalam kitab Ahkamul Quran
                     
(2/ 793): "Ayat ini menjadi dalil bahwasanya orang
                      yang khawatir dibunuh ketika mencegah kemungkaran, agar
                      diam."

                     

                      3. 
                     
Firman Allah yang menceritakan penuturan Harun:         
                                                                               
                     

                     
                      {ÕAf§ÞA ÏI OÀrM ݯ}
                     
Maksudnya, janganlah engkau membuat
                      orang yang menyembah patung anak sapi itu gembira karena
                      engkau mencelaku. Ini menunjukkan bahwasanya Harun
                      memusuhi para penyembah patung itu.. Berbeda dengan orang
                      yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, mereka terkadang
                      muncul rasa cinta kepada orang-orang yang berbuat syirik
                      besar, bahkan mungkin saja mereka membela dan menyepelekan
                      perbuatan kesyirikan, bahkan mungkin saja orang yang
                      berbuat syirik menganggap benar perbuatan berdoa kepada
                      selain Allah dengan dalih, bahwa amalan itu tidak
                      dibungkam dan tidak dicegah.

                     

Sedangkan Harun ‘alaihissalam, sangat jauh berbeda
                      dengan mereka. Beliau telah berkata seperti yang
                      difirmankan Allah:   
                     

                     

                                 
                      {ÅÎÀ»B¤»A ÂÌ´»A ©¿ Ïļ¨VM Ü Ë ÕAf§ÞA ÏI OÀrM ݯ }

                     

                     
                      Jangnlah kamu menjadikan musuh-musuh
                      gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke
                      dalam golongan orang-orang yang zalim.

                     

Harun ‘alaihissalam telah menganggap para penyembah
                      patung itu termasuk golongan orang-orang zhalim.

                     

                      4. 
                     
Telah banyak para ulama tafsir yang menjelaskan
                      bahwasanya Harun ‘alaihissalam telah berusaha keras
                      untuk mengingkari perbuatan penyembah patung anak lembu.
                      Seperti Abu Hayyan dalam Al-Bahrul Muhith (6/ 253),
                      Qummi An-Naisaburi dalam Tafsir Gharaibil Quran (4/
                      567), Al-Ulwusi dalam Ruhul Ma’ani (6/ 101), dan
                      Muhammad Rasyid dalam Al-Manar (9/ 209).

                     

Dan diantara para mufassir ada yang menyatakan bahwasanya
                      Harun ‘alaihissalam belum mengingkari perbuatan
                      Bani Israil yang menyembah patung anak lembu. Seperti
                      dalam Fathul Qadir (2/ 248), dan Al-Mawardi dalam
                      An-Nukat wal ‘Uyun (3/ 421).

                     

Barang siapa yang berkata seperti ini maka ia telah
                      menyelisihi ayat Al-Quran yang jelas menyatakan;

                     
                     

                     
                      {……..ÉI ÁNÄN¯ BÀÃG Ͽ̳ BÍ ½J³ Å¿ ÆËiBÇ ÁÈ» ¾B³ f´» Ë
                      }

                     

Dan sesungguhnya Harun ‘alaihissalam telah berkata
                      kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesunggyhnya kamu
                      hanya diberi cobaandengan anak lembu itu……..

                     

                     
                      Apabila ditanyakan: Apabila Harun ‘alaihissalam
                      telah menunaikan kewajibannya, yaitu mencegah kemungkaran.
                      Jadi, mengapa Musa ‘alaihissalam menarik kepala
                      Harun ‘alaihissalam ?

                     

                      Jawabannya: Musa ‘alaihissalam
                      mengira Harun ‘alaihissalam telah lalai menunaikan
                      perintahnya ketika Musa ‘alaihissalam meminta Harun
                      ‘alaihissalam untuk menggantikannya memimpin Bani
                      Israil. Dalam Al-Quran disebutkan ucapan Musa ‘alaihissalam
                      kepada Harun ‘alaihissalam:
                     
                                          
                     

                     
                      { ÅÍfn°À»A ½ÎJm ©JNM ÜË \¼uC Ë Ï¿Ì³ ϯ ÏݼaA }

                     

                      "Gantikanlah aku dalam (memimpin)
                      kaumku, dan perbaikilah
[2],
                      dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang
                      membuat kerusakan."

                     

                      Oleh karena itu Musa ‘alaihissalam
                      menjadi marah dan membuatnya sedih ketika melihat kaumnya
                      melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka akan binasa.
                      Akan tetapi, ketika Harun ‘alaihissalam menjelaskan
                      kepada Musa ‘alaihissalam yang sesungguhnya,
                      bahwasanya ia khawatir akan dibunuh oleh kaumnya dan
                      beliau sungguh telah berijtihad untuk memperbaiki keadaan
                      Bani Israil dengan nasehat dan bersikap lemah lembut.
                      Setelah mendengar penjelasan Harun tersebut Musa ‘alaihissalam
                      memaafkan dan meridhainya. Kemudian Musa berkata:

                                                                                    
                     

                     
                      {  ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li }

                     

                     
                      "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku."

                     

                      Yaitu, Ampunilah aku atas perbuatanku
                      terhadap saudaraku, Harun. Dan Ampunilah saudaraku, Harun
                      jikalau ia telah lalai ataupun tersalah dalam berijtihad
                      di saat memimpin kaumnya.

                                                      
                     

                     
                      { ÅÎÀYAj»A ÁYiC OÃC Ë ¹NÀYi ϯ BļaeA Ë }

                     

                     
                      dan masukkanlah kami dalam rahmat Engkau,
                      Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.

                     

                               Jika dikatakan – oleh orang yang
                      disebutkan dalam soal –: Sesungguhnya ucapan Musa:

                                                                                    
                     

                     
                      {  ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li }

                     

                      "Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku", menunjukkan bahwasanya Harun telah bersalah, dan
                      kesalahannya itu karena ia tidak mengingkari perbuatan
                      Bani Israil yang menyembah patung anak lembu.

                     

                     
                      Jawab: Dari pernyataan kalian itu, dapat
                      diambil dua persoalan — tidak ada yang ketiganya –.
                     

                     

                      1. 
                     
Telah benar sikap Harun tidak mengingkari perbuatan
                      Bani Israil yang menyembah patung anak lembu,– sebagaimana
                      dalil kalian yang tidak mau mencegah kemungkaran, seperti
                      tersebut dalam pertanyaan–, Jikalau memang perbuatan
                      Harun itu benar, mengapa kalian tadi menyatakan bahwasanya
                      Harun telah bersalah ?

                     

                      2. 
                     
Harun benar-benar telah salah karena tidak mencegah
                      perbuatan Bani Israil yang menyembah patung anak lembu.
                      jikalau memang demikian, mengapa kalian berdalil dengan
                      kesalahan Harun untuk membenarkan perbuatan kalian ?
                      Apakah seseorang akan menjadikan tauladan orang yang
                      bersalah ???

                     

                      Abul Mazhfar As-Sam’ani berkata dalam
                      Tafsirul Quran
(3/ 350-351) ketika menafsirkan ayat:

                                                                                                
                     

                     
                      {Ðj¿C OÎv¨¯C}

                     

                     
                      Maksudnya adalah, menyelisihi perintahku .

                     

                     
                      Jika ada yang berkata: Apakah kalian
                      mengatakan bahwasanya Harun menyelisihi Musa terhadap apa
                      yang diminta oleh Musa ? Dan Harun bersikap basa-basi
                      serta menyepelekan perbuatan peyembah patung anak lembu,
                      dan tidak bersikap tegas serta sungguh-sungguh untuk
                      mencegah perbuatan mereka ??

                     

                     
                      Jawabannya: Sesungguhnya Musa tidak
                      meminta kepada Harun kecuali hanyalah untuk menggantikan
                      Musa dalam memimpin kaumnya, dan agar Harun bersikap baik
                      dengan mereka. Maka Harun berpendapat untuk tidak
                      memerangi mereka, dan itu lebih baik menurut Harun.
                      Sedangkan Musa berpendapat untuk memerangi mereka dan itu
                      labih baik menurutnya. Ini hanyalah pendapat mujtahid.
                      Menyelisihi pendapat mujtahid tidaklah tercela. Hanyasanya
                      Musa mencela Harun, karena Harun tidak memerangi para
                      penyembah patung itu. Seandainya pada saat itu Musa berada
                      dalam posisi seperti Harun maka ia akan memerangi mereka.
                      Maka. "Mengapa engkau tidak memerangi mereka ?" Tanya Musa.
                      –Sekian perkataan Abul Mazhfar–.

                     

Para ulama telah berselisih pendapat tentang maksud firman
                      Allah:
      
                                                                                                      
                     

                     
                      {ŨJNM ÜC }

                     

                     
                      (Apa yang menghalangimu Sehingga) kamu
                      tidak mengikuti aku ?

                     

                     
                      Ada dua pendapat:

                     

                     
                      1.Ada yang mengatakan: Maksudnya, engkau
                      berserta orang-orang yang beriman bersamamu serta yang 
                      mengingkari para penyembah patung, agar mengikutiku ke
                      bukit Thuur.

                     

                     
                      2.Ada yang mengatakan: Maksudnya,
                      mengikutiku agar engkau beserta orang yang mentaatimu
                      memerangi orang-orang yang berbuat maksiat.

                     

                     
                      Para mufassir telah berpendapat dengan
                      kedua pendapat ini.

                     

                     
                      At-Thabari dalam Tafsirnya (9/ 204)
                      merajihkan pendapat yang pertama. Karena, telah ditetapkan
                      dengan dalil bahwasanya Harun ‘alaihissalam telah
                      melarang Bani Israil dari penyembahan patung.

                     

                      Dari dua pendapat di atas, para mufassir
                      juga berselisih pendapat tentang maksud firman Allah:

                           
                     

                      {
                      ϻ̳ K³jM Á» Ë ½ÎÖAjm
G
                      ÏÄI ÅÎI O³j¯ ¾Ì´M ÆC OÎra ÏÃG }

                     

                     
                      sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu
                      akan berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah belah antara
                      Baani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".

                     

                     
                      Orang yang berpendapat dengan pendapat
                      pertama tadi mengatakan: Maksud ayat tersebut adalah,
                      Sesungguhnya aku khawatir bila aku menemuimu di bukit
                      Thuur dengan sebagian orang dari Bani Israil dan aku
                      tinggalkan sebagiannya lagi engkau akan berkata: "Kamu
                      telah memecah belah antara Bani Israil".

                     

                     
                      Yang berpendapat dengan pendapat kedua
                      mengatakan: Maksud ayat tersebut adalah, Aku khawatir bila
                      aku memerangi para penyembah patung, maka bani Israil akan
                      terpecah menjadi beberapa kelompok. Yaitu satu kelompok
                      bersamaku dan satu kelompok menjadi musuhku, dan kelompok
                      lain berlepas diri dari kedua kelompok pertama. Dengan
                      demikian berarti aku telah memecah belah bani Israil dan
                      tidak mengerjakan perintahmu untuk memperbaiki keadaan
                      mereka.

                     

Coba lihat kitab Al-Bahrul Muhith, karya Abu
                      Hayyan (6/ 254); kitab Al-Muharrirul Wajiz, karya Ibnu ‘Athiyyah, (10/ 80); Tafsir Ath-Thabari
                      (6/ 229), (9/ 203-204); kitab At-Tashil, karya Ibnu Juzayi Al-Gharnathi (3/ 37); kitab An-Nukat
                      wal ‘Uyun,
karya Al-Mawardi (3/ 420); kitab
                      Zadul Masir,
karya Ibnul Jauzi (5/ 317); kitab,
                      Al-Wajiz, karya Al-Wahidi (2/ 703); kitab
                      Al-Futuhatul Ilahiyyah,
karya Al-Jamal (5/ 97);
                      kitab Ruhul Ma’ani, karya Al-Ulwusi, (9/
                      367).

                     

                      Beberapa ulama mufassirin berdalil dengan
                      firman Allah yang menyebutkan penuturan penyembah patung
                      anak lembu untuk membenarkan pendapat yang dirajihkan oleh
                      At-Thabari:

                                        
                     

                     
                      { ÓmÌ¿ BÄλG ©UjÍ ÓNY Åΰ·B§ Éμ§ `jJà Ż AÌ»B³ }

                     


                      "Kami akan
                      tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
                      kepada kami"

                     

                      Para mufassir
                      mengatakan Sesungguhnya Harun meminta kepada mereka untuk
                      menemui Musa, maka mereka mengucapkan

                      "Kami akan tetap menyembah patung anak
                      lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami"

                     

Sebagian mufasir mengatakan bahwasanya Harun belum
                      bersikap tegas dan berlebihan dalam mengingkari perbuatan
                      Bani Israil itu. Oleh karena Itu, Musa mengingkari sikap
                      Harun tersebut. Lihat kitabnya Al-Mawardi, An-Nukat wal
                      ‘Uyun
(3/ 420).

                     

Yang nampak dengan jelas maksud dari sikap tegas dan
                      berlebihan di sini adalah: Memerangi mereka. Ini seperti
                      yang disebutkan sebagian ulama ahli Tafsir.

                     

                     
                      Ada yang mengatakan pula: Sesungguhnya
                      Harun tidak memutuskan suatu keputusan terhadap Bani
                      Israil, karena beliau menunggu kepulangan Musa. Sebab,
                      Musa-lah yang memegang urusan Bani Israil.

                     

                     
                      Wallahu A’lam.

                     

                     
                      Kesimpulannya:   

                     

                     
                               Dimanakah bandingannya antara
                      Harun ‘alaihissalam dengan orang-orang yang
                      disebutkan dalam soal ?!!!!!

                     

                     
                      Tidak boleh mengatakan bahwasanya
                      merupakan bentuk hikmah dalam berdakwah ialah tidak
                      mengingkari kemungkaran jikalu akan menyebabkan perpecahan.
                      Karena, sesungguhnya kita –Alhamdulillah– menyeru
                      ke jalan Allah dengan hikmah dan penjelasan yang jelas
                      dengan disertai lemah lembut. Bukanlah disebut hikmah
                      apabila sering menyembunyikan kebenaran atau bahkan
                      menyembunyikannya untuk selamanya.  Jikalau para da’i
                      tidak menjelaskan bahaya syirik akbar selama
                      bertahun-tahun, maka persatuan yang bagaimanakah yang
                      diharapkan dari diamnya itu ?

                     

                     
                      Tidakkah kalian mengetahui perjalanan
                      siroh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam
                      menjelaskan kebenaran ?

                     

                     
                      Tidakkah kalian mengetahui bagaimana
                      petunjuk para salafus saleh dalam membela aqidah Ahlus
                      Sunnah wal Jamaah ?

                     

                      Kita telah mendengar orang yang mengatakan
                      bahwa menyibukkan diri dengan dakwah sepaerti itu adalah
                      menyibukkan diri dengan qusyur (kulit)
[3].

                     

                     
                      Sangat kita sayangkan. Kita telah melihat
                      banyak da’i yang menyiarkan kejelekan pemerintah muslimin
                      di atas mimba-mimbar. Kita juga menyaksikan mereka
                      mengerahkan massa untuk berdemonstrasi terhadap pemimpin
                      mereka. Tentu saja kita tidak ingin membenarkan perbuatan
                      orang-orang yang telah menyimpang dari jalan yang lurus –meskipun
                      mereka bermaksud baik ataupun bermaksud jahat–.

                     

                     
                      Akan tetapi, apakah kalian tidak merasa
                      heran terhadap orang-orang yang mengatakan: "Kami khawatir
                      apabila kami mengingkari perbuatan orang yang melakukan
                      syirik akbar akan menyebabkan kaum muslimin lari dan juga
                      akan memecahkan persatuan kaum Muslimin”.

                     

                     
                      Akan tetapi, dari arah lain kita melihat
                      mereka menyelinap dari pintu fitnah dan penyebab
                      perpecahan yang lebih luas lagi. Sesungguhnya
                      menghantamkan kaum muslimin dengan pemimpin mereka;
                      menyebabkan mengalirnya darah kaum muslimin; serta
                      tercabutnya keamanan dari suatu negeri, melahirkan fitnah
                      (bencana) dan perpecahan yang lebih dahsyat.

                     

                     
                      Semua kejadian ini tidak lagi samar bagi
                      seorangpun. Coba tanyakan kepada sejarah dan
                      kejadian-kajadian yang terjadi sehari-hari ! Apakah yang
                      telah menimpa kaum muslimin dibalik pengerahan massa untuk
                      berdemonstrasi terhadap penguasa ???????

                     

                     
                      Allahu Musta’an

                     

                     
                      Maraji’:

                     

  1.                         
                            Terjemahan Al-Quran

                     

                     
                      2. 
                     
Silsilah Fatawa Syar’iyyah no. 208, Syaikh Abul
                      Hasan Mushthafa bin Ismail As-Sulaimani

Jibab

January 29th, 2008 by yanto82dr

Saudariku, berjilbablah sesuai ajaran Nabimu !

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna,
sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling
mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai,
baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek
menurut Alloh. Alloh berfirman, “Boleh jadi kamu
membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai
sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allohlah yang Maha mengetahui
sedangkan kamu tidak mengetahui”
(Al Baqoroh : 216). Oleh karenanya
marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara
berpakaian.

Perintah
dari atas langit

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk
berjilbab sesuai syari’at.
Alloh berfirman, Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita
kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh
mereka.
 
Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan
tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang”
. (Al Ahzab : 59).

Ketentuan jilbab menurut
syari’at

Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika
seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang
bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom)
yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh
penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan
mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar
ketentuan Robbul ‘alamiin.

1. Pakaian
muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab : 59, An
Nuur : 31).
Selain keduanya seperti
leher dan lain-lain, maka tidak boleh
ditampakkan walaupun cuma sebesar uang
logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.

2. Bukan busana perhiasan yang justeru menarik
perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga
apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar
makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik !!!;
ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin

3. Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah,
dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak
dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu
sesuai syari’at atau tidak.

4. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing
syahwat lelaki yang mencium keharumannya.
Nabi shollallohu
alaihi wa
sallam
bersabda, Jika salah seorang
wanita diantara kalian hendak ke masjid,
maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian
(HR.
Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita
yang pergi ke kampus-kampuske pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis

kota

dengan
parfum yang menusuk hidung ?!. Wallohul musta’an.

5. Tidak menyerupai pakaian
laki-laki
seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori).

6. Tidak
menyerupai pakaian orang-orang kafir
. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya
dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.

7. Bukan
untuk mencari popularitas.
Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku ? Apakah kalian ingin
terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi
yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup
dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan
ummat ini?. Wallohul muwaffiq. (Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab
Wanita Muslimah
karya Syaikh Al Albani). 

Tingkatan Islam

January 29th, 2008 by yanto82dr

Islam, Iman dan Ihsan

 Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat
sufi sangat terkenal adanya pembagian agama menjadi 3 tingkatan yaitu : syari’at, ma’rifat
dan hakikat. Orang/wali yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi
terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak lagi
wajib untuk sholat dan bebas
melakukan apapun yang dia inginkandemikianlah
sebagian keanehan yang ada di seputar
pembagian ini.
Apakah pembagian semacam ini dikenal di
dalam Islam ?

Islam mencakup
3 tingkatan

 Rosululloh shollallahualaihi wa sallam
suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam wujud seorang
lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat
yang ada pada saat itu, dia
menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan.
Setelah beliau menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah
meninggalkan mereka, maka pada suatu
kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin Khoththob, Wahai Umar, tahukah kamu
siapakah orang yang bertanya itu ?
.
Maka
Umar menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun
bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian
untuk mengajarkan agama kalian
(HR. Muslim).  Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh
mengatakan : Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman,
Islam dan Ihsan semuanya diberinama ad din/agama (ta’liq Syarah Arba’in
hlm. 23). Jadi agama Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, iman
dan ihsan.

Tingkatan Islam

 Di dalam hadits
tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan (yang haq) selain Alloh dan
bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau
dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa Romadhon dan berhaji ke
Baitulloh jika engkau mampu untuk
menempuh perjalanan ke

sana

.
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan : Diantara faedah
yang bisa dipetik dari hadits ini
ialah bahwa Islam itu terdiri dari
5 rukun (ta’liq Syarah Arba’in hlm. 14). Jadi Islam yang dimaksud disini
adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman

 Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman.
Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau beriman kepada Alloh, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman
terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”
. Jadi Iman yang
dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah
yang ada di dalam hati. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan : Diantara faedah yang
bisa dipetik dari hadits ini adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi
apabila kedua-duanya disebutkan secara bersama-sama, maka ketika itu islam
ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan
dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan secara mutlak salah
satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang lainnya. Seperti
dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama
kalian”
(Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan
iman..
(ta’liq
Syarah Arba’in
hlm. 17).

Tingkatan Ihsan

 Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang
ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah
engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah)
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”
. Syaikh Ibnu Utsaimin
menjelaskan : Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah
penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah
yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga
diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling
sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya
dia berada di derajat kedua yaitu : menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang
dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi
bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”
artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka
sesungguhnya Dia melihatmu” (ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi
tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana
mengkompromikan ketiga istilah ini ?

 Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan iman
maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih
khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan.
Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya
dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat
iman. Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan
islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan
orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa
dibandingkan orang-orang muslim yang lain..(At Tauhid li shoffil awwal al
‘aali
, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63).

Muslim, mu’min
dan muhsin

 Oleh karena itulah
para ulamamuhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min
pasti muslim,
karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman
itu tertanam kuat di dalam
hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena
bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini
keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan
lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja
dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna.
Sebagaimana Alloh Ta’ala telah berfirman, “Orang-orang Arab Badui
itu mengatakan : Kami telah beriman. Katakanlah : Kalian belumlah beriman tapi
hendaklah kalian mengatakan : Kami telah berislam”
(Al Hujuroot : 14).
Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki
tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya.
Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu
adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At
Tauhid li shoffil awwal al ‘aali
, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64).

Kesimpulan

 Dari hadits serta
penjelasan di atas maka teranglah
bagi kita bahwasanya pembagian agama ini menjadi tingkatan syari’at, ma’rifat dan hakikat tidaklah
dikenal
oleh para ulama baik
di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini.

Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman dan ihsan dengan
penjelasan sebagaimana di atas.
Maka ini menunjukkan pula kepada kita alangkah
berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa
mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh
justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ?. Alangkah benar Nabi yang telah
bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya
dari kami maka amalan itu tertolak”
(HR. Muslim).  Barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin
maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat
sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai ma’rifat untuk meninggalkan
syari’at.
Wallohu a’lam. [Abu Mushlih Ari]
  

Valentin day???

January 25th, 2008 by yanto82dr

Valentine, Hari Raya
mengenang Pendeta
 

 Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak
media massa, mall-mall, pusat pusat hiburan bersibuk ria berlomba
menarik perhatian para remaja dengan
menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut
malam. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day
atau biasanya disebut hari kasih sayang. Pada tanggal 14 Februari itu mereka
saling mengucapkan "Selamat hari Valentine", berkirim kartu,
cokelat dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang
atau cinta.

Sejarah, asal-usul dan latar belakang

 Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal
adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di zaman
Raja Romawi Claudius II.
 Pada tanggal 14
Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine karena menentang
beberapa perintahnya. Claudius II melihat St.Valentine mengajak manusia kepada
agama Nasrani, lalu memerintahkan untuk menangkapnya.

 Dalam versi kedua, Claudius
II melihat bahwa para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada yang telah
menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang, lalu dia mengeluarkan
perintah yang melarang pernikahan. St.Valentine menentang perintah ini dan
terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui
dan dipenjarakan. Di penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga
penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta
kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan "Dari
yang tulus cintanya, Valentine."
Hal itu terjadi setelah anak tersebut
memeluk agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.

 Versi ketiga, ketika agama
Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi
yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu
berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis
desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil
salah satu nama dari kotak itu dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia
juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan "Dengan nama tuhan Ibu,
saya kirimkan kepadamu kartu ini."
Akibat sulitnya menghilangkan tradisi
ini, para pendeta memutuskan mengganti tulisannya menjadi "Dengan nama
Pendeta Valentine"
sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan
agama Nasrani.

 Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s
Day
yang
sebenarnya
(berdasarkan data yang ada -ed), yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme
orang musyrik, penyembahan berhala dan
 penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih
juga
 menyambut Hari Valentine? Adakah
ia merupakan hari
 yang istimewa? Adat, atau hanya
ikut-ikutan semata
?.  Bila demikian, sangat disayangkan banyak remaja Islam yang terkena penyakit mengekor budaya Barat dan acara ritual
agama lain. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan
gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil
mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan
cinta bagi orang-orang Romawi! Padahal Alloh berfirman, “Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak
 mengetahui tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran,
 penglihatan
dan hati, semuanya akan diminta
 pertangggungjawabnya” (Al Isro’ : 36).

Bolehkah memperingati hari Valentine ?

 Bila
dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak
disangsikan lagi bahwa ia telah melakukan perbuatan kekafiran. Adapun
bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran
yang besar
. Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahulloh berkata, “Memberi
selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati
bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa
mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang
mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan
perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang
menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah
dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamer atau
membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu
perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang
memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran
maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Alloh.”
Allohu a’lam bish showab. [Buletin At Tauhid
/ Abu Hasan
]

Tambahan: Jika kita hanya ikut-ikutan
acara valentin tersebut, tanpa meneniatkan mengenang sejarah terjadnya
valentin, maka MINIMAL kita terjatuh pada perbuatan tasyabbuh/meniru perbuatan
orang kafir. Padahal tasyabbuh kepada orang kafir telah dilarang oleh Alloh dan
Rosulnya, sebagaimana sabda Rasululloh SAW ”Man Tasyabbaha bi qoumin fa huwa
min hum” yang artinya kutang lebih: barang siapa bertasyabbuh (meniru) kepada
suatu kaum/kelompok orang, maka orang itu termasuk pada kelompok tersebut (HR
Ahmad, hasan). Oleh karena itu, apabila kita ingin meniru seseorang, tirulah
rasululloh, tirulah para sahabat atau orang-orang sholih lainnya agar kita
termasuk dalam golongan mereka.. Jangan meniru kepada orang2 kafir, karena bisa
jadi kita dimasukkan ke golongan mereka (orang kafir tersebut),na’uzhu
billah… Hanya kepada Allohlah kita memohon taufiq & perlindungan..
Wallohu a’lam

[Yanto
Abdurrahman
]