Archive for January, 2007

Agar ibadah diterima disisi Alloh

Wednesday, January 31st, 2007

Pernahkah terlintas di benak kita suatu pertanyaan "Apakah ibadah yang telah saya kerjakan diterima di sisi Alloh SWT…???" Lalu apa sih syarat diterimanya suatu amal ibadah? Apakah ikhlash saja sudah cukup??? Ternyata tidak cukup dengan ikhlash, tapi kita juga harus mengikuti tuntunan Rasululloh SAW, sebagaimana dalam sabda beliau:

"Barangsiapa yang melakukan
satu amalan (ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak
.”(Shohih, HR
Muslim). Nah.. untuk mengetahui apakah amalan yang kita lakukan sudah ada dasarnya/sesuai dengan tuntunan Rasululloh SAW apa belum, maka kita harus perbanyak belajar ilmu agama terutama berhubungan dengan amalan2 wajib seperti sholat, puasa dll. Berikut adalah pembahasan selengkapnya….

      Alloh
yang Maha Bijaksana tentulah tidak menciptakan sesuatu kecuali dengan hikmah
yang agung. Alloh berfirman,”Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.
”(Adz Dzariyat:56).
Mungkin kita sudah hafal tujuan tersebut karena sering kita dengar, tapi
pernahkah terlintas di benak kita apakah ibadah kita itu diterima ataukah
tidak? Maka, tidak ada seorangpun yang dapat menjamin hal ini, sehingga sudah
seharusnya bagi tiap mukmin untuk beramal dengan senantiasa berharap dan cemas.
Berharap agar ia mendapat ridho Alloh serta janji-janji yang sudah ditetapkan
Alloh dalam Al Qur’an dan cemas kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Dan janganlah
ia berdecak kagum atas amal yang ia lakukan dan merasa bahwa ibadahnya pasti
diterima.

Ingatlah
firman Alloh, "
Katakanlah: "Maukah
Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?"
Yaitu orang-orang yang telah
sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka
bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya
." (Al Kahfi:103,104).
Siapakah yang lebih rugi dari orang semacam ini?, yang telah beramal dengan
susah payah sewaktu masih hidup di dunia tapi ternyata sia-sia dan tidak
diterima oleh Alloh Ta’ala. 

 

Apakah Makna Ibadah?

Ibadah secara
bahasa bermakna merendahkan diri dan tunduk. Sedang secara istilah, ulama
banyak memberikan makna. Namun makna yang paling lengkap adalah seperti yang
didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu: suatu kata yang meliputi
segala perbuatan dan perkataan; zhohir maupun batin yang dicintai dan diridhoi oleh
Alloh Ta’ala
. Dengan demikian ibadah terbagi menjadi tiga , yaitu: ibadah
hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan.

Syarat diterimanya
Amal ibadah

Ketahuilah, semua
amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi dua syarat,
yaitu Ikhlash
dan mutaba’ah
(mengikuti tuntunan Nabi Shollallohu ‘alaihi
wassalam
). Kedua syarat ini terangkum dalam firman Alloh, "…Barangsiapa mengharap perjumpaan
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah
ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.
"
(Al Kahfi:110). Beramal sholih
maksudnya yaitu melaksanakan ibadah sesuai dengan tatacara yang telah diajarkan
oleh Nabi, dan tidak mempersekutukan dalam ibadah maksudnya mengikhlashkan ibadah hanya untuk Alloh
semata.

Hal ini diisyaratkan
pula dalam firmanNya, (Tidak demikian) dan bahkan
barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Alloh, sedang ia berbuat kebajikan,
maka baginya pahala pada sisi Robbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati
.”(Al-Baqoroh:112). Menyerahkan diri
kepada Alloh berarti mengikhlashkan seluruh ibadah hanya kepada Alloh saja.
Berbuat kebajikan (ihsan) berarti mengikuti syari’at Rosululloh. 

Syarat
pertama (ikhlash) merupakan konsekuensi dari syahadat pertama (persaksian tiada
sesembahan yang benar kecuali Alloh semata). Sebab persaksian ini menuntut kita
untuk mengikhlashkan semua ibadah kita hanya untuk Alloh saja. Sedang syarat
kedua (mutaba’ah) adalah konsekuensi dari syahadat kedua (persaksian
Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya).

Ikhlash dalam
ibadah

Seluruh
ibadah yang kita lakukan harus ditujukan untuk Alloh semata. Walaupun seseorang
beribadah siang dan malam, jika tidak ikhlash (dilandasi tauhid) maka
sia-sialah amal tersebut. Alloh berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus
."
(Al Bayyinah:5). Maka
sungguh beruntunglah seseorang yang selalu mengawasi hatinya, kemanakah maksud
hati tatkala ia beribadah, apakah untuk Alloh, ataukah untuk selain Alloh.

 

Perhatikanlah jenis amal-amal berikut:

Amalan riya’ semata-mata,
yaitu amalan itu dilakukan hanya supaya dilihat makhluk atau karena tujuan
duniawi. Amalan seperti ini hangus, tidak bernilai sama sekali dan pelakunya
pantas mendapat murka Alloh.

Amalan yang ditujukan kepada Alloh dan
disertai riya’ dari sejak awalnya
, maka
nash-nash yang shohih menunjukkan amalan seperti ini bathil dan terhapus.

Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai
niat lain selain riya’
. Seperti jihad yang diniatkan untuk
Alloh dan karena menghendaki harta rampasan perang. Amalan seperti ini
berkurang pahalanya dan tidak sampai batal dan tidak sampai terhapus amalnya.

Amalan yang awalnya ditujukan untuk Alloh kemudian terbesit riya’ di tengah-tengah,
maka amalan ini terbagi menjadi dua, jika riya’ tersebut terbersit sebentar dan
segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Namun jika riya’
tersebut selalu menyertai amalannya maka pendapat terkuat diantara ulama salaf menyatakan
bahwa amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana pendapat Hasan
Al Bashri. Namun dia tetap berdosa karena riya’nya tersebut dan tambahan amal (perpanjangan
amal karena riya’) terhapus.

 Sedang amal yang ikhlash karena Alloh
kemudian mendapat pujian sehingga dia senang dengan pujian tersebut, maka hal
ini tidak berpengaruh apa–apa terhadap amalnya.

 

Beribadah hanya dengan syari’at Rosululloh

Ketahuilah, ibadah
bukanlah produk akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan sesuatu yang
diridhoi Alloh, dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhoi Alloh
kecuali setelah Alloh kabarkan atau dijelaskan Rosululloh. Dan seluruh kebaikan
telah diajarkan Rosululloh, tidak tersisa sedikitpun. Tidak ada dalam kamus
ibadah sesorang melaksanakan sesuatu karena menganggap ini baik, padahal Rosululloh
tidak pernah mencontohkan. Sehingga tatkala ditanya, "Mengapa engkau
melakukan ini?"
lalu ia menjawab, "Bukankah ini sesuatu yang
baik? Mengapa engkau melarang aku dari melakukan yang baik?"
Saudaraku,
bukan akal dan perasaanmu yang menjadi hakim baik buruknya. Apakah engkau
merasa lebih taqwa dan sholih ketimbang Rosululloh dan para sahabatnya? Ingatlah
sabda Rosululloh, "Barangsiapa yang melakukan
satu amalan (ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak
.”(HR
Muslim).

Perhatikanlah, ibadah
kita harus mencocoki tatacara Nabi dalam
beberapa hal:

Sebab. Ibadah kepada Alloh dengan sebab yang tidak
disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima. Contoh:
Ada orang melakukan sholat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan Rojab,
dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’roj Rosululloh (dinaikkan ke atas
langit). Sholat tahajjud adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab yang
tidak ditetapkan syari’at maka sholat karena sebab tersebut hukumnya bid’ah.

Jenis. Artinya ibadah harus sesuai dengan syariat dalam
jenisnya, contoh seseorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah,
karena menyalahi syari’at dalam jenisnya. Jenis binatang yang boleh dijadikan
kurban adalah unta, sapi dan kambing.

Kadar (bilangan).
Kalau ada seseorang yang sengaja menambah bilangan raka’at sholat zhuhur
menjadi lima roka’at, maka sholatnya bid’ah dan tidak diterima, karena tidak
sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan roka’atnya. Dari sini
kita tahu kesalahan orang-orang yang berdzikir dengan menenentukan jumlah bacaan
tersebut sampai bilangan tertentu, baik dalam hitungan ribuan, ratusan ribu
atau bahkan jutaan. Mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali capek dan murka
Alloh.

Kaifiyah (cara). Seandainya
ada seseorang berwudhu dengan cara membasuh tangan dan muka saja, maka wudhunya
tidak sah, karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syariat.

Waktu. Apabila
ada orang menyembelih binatang kurban Idul Adha pada hari pertama bulan Dzulhijjah,
maka tidak sah, karena syari’at menentukan penyembelihan pada hari raya dan
hari tasyriq saja.

Tempat. Andaikan
ada orang beri’tikaf di tempat selain Masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab
tempat i’tikaf hanyalah di Masjid.

Wahai
saudaraku…..Marilah kita wujudkan tuntutan dua kalimat syahadat ini, yaitu kita
menjadikan ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untuk Alloh dan kita
beribadah hanya dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam setiap tarikan
nafas dan detik-detik kehidupan kita, semoga dengan demikian kita semua menjadi
hamba-Nya yang bersyukur, bertaqwa dan diridhoi-Nya.Wallohu a’lam bish showaab.
[Bambang
Abu Abdirrohman Al Atsary Al Bayaty], pendahuluan oleh Yanto Abdurrahman
 

Puasa Asyura

Friday, January 19th, 2007

Dasar puasa Asyura:

        Dari Ibnu Abbas ra, ketika
Rasulullah SAW tiba di kota Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (tgl 10
Muharam) maka beliau bertanya: “Hari apakah ini?” mereka menjawab: “ini adalah
hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah SWT menyelamatkan bani Israil dari
musuhnya, maka Musa AS berpuasa pada hari itu karena bersyukur
kepada Allah SWT. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya.”
Rasulullah SAW bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa
daripada kalian.” Maka Rasulullah SAW berpuasa pada hari itu (berpuasa Asyura)
dan memerintakan kaum muslimin untuk berpuasa padanya
. [HR Bukhori (no 2004) & Muslim (no 1130)]

Akan tetapi stlh itu Rasulullah
SAW memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya
(yaitu tanggal 9 Muharam) atau sehari sesudahnya (yaitu tanggal 11 Muharam).
Atas dasar itu yang paling utama adalah berpuasa pada hari tanggal 10 Muharam
ditambah satu hari sebelum/sesudahnya. Syaikh Utsaimin rhm berkata: Tambahan
puasa di hari ke 9 lebih utama dari heri ke 11. Pernyataan beliau diperkuat
hadits berikut:

Sahabat berkata: ”Ya Rasulullah,
sesungguhnya Asyura itu hari yang
diagungkan oleh orang Yahudi &
Nasrani
.” Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Tahun
depan InsyaAllah kita akan puasa (juga) pada hari kesembilan.”
[HR Muslim No. 1134, dari Ibnu Abbas]

Jadi berdasarkan
dalil & uraian diatas, yang lebih utama adalah puasa Asyura pada tanggal 9
dan 10 Muharam

Keutamaan puasa Asyura:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda: ”Puasa yang paling utama
setelah puasa pada bulan Romadlon adalah puasa pada bulan Muharam
. Dan
sholat yang paling utama selah sholat fardlu adalah sholat malam.” [HR Muslim]

Dari Abu Qotadah Al Anshari,
bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Arofah, sabdanya: “Ia menebus
dosa tahun yang lalu dan yang akan datang.” Ketika ditanya tentang puasa Asyura
beliau bersabda: “menebus dosa tahun yang lalu…”
[HR Muslim].

Dalam riwayat yang lain (tentang
keutamaan puasa Asyura) Rasulullah SAW bersabda: “Aku
mengharap kepada Allah untuk menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya

[HR Muslim 1162

Tentang puasa di hari jum’at:

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: ”janganlah kamu khususkan sholat malam jumat saja, dan
janganlah kamu khususkan puasa pada hari jumat saja, kecuali jika hari jumat
itu bertepatan/jatuh pada giliran puasa sunnah yang biasa dilakukan seseorang

[HR Muslim]

Dalam hadits yang lain “kecuali ia berpuasa pada hari
sebelum/sesudahnya” [HR Bukhori & Muslim]

Sekalipun bulan Muharam memiliki
keutamaan (bulan Muharam adalah 1 dari 4 bulan yang mempunyai keutamaan
dibandingkan bulan lainnya, selain Ramadlan, Sya’ban dan Dzulhijjah) akan
tetapi kita tidak bisa begitu saja memuliakan bulan ini, apalagi memuliakan
dengan ibadah ibadah tertentu yang dikhususkan pada bulan ini tanpa adanya
dalil yang jelas dan shohih. Pengkhususan suatu ibadah pada waktu tertentu /
dengan cara tertentu, tanpa adanya dalil/tuntunan dari rasulullah bisa
dikategorikan sebagai bid’ah, sekalipun diniatkan ikhlash untuk Allah SWT dan
hanya mengharap ridlonya. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: Man ‘amila ‘amalan
laysa ‘alaihi amruna fa huwa roddun, yang artinya kurang lebih: "Barang siapa yang melakukan suatu amalan tanpa ada perintahnya
dari kami, niscaya amalan itu tertolak
" [HR
Muslim
]. Kalau kita melakukan bid’ah dan resikonya adalah amalan kita
tertolak (tidak diberi pahala oleh Allah SWT/tidak dianggap oleh Allah SWT),
itu adalah masih mending, karena dalam hadits yang lain Rasulullah SAW
bersabda: Fa inna khoirol hadiits kitabulloh. Wa khoirol hadyi hadyu Muhammad
SAW. Wa syarrul umuuri muhdatsaatuhaa, Fa inna kulla muhdatsatin bid’ah. wa
kulla bid’atin dlolalah. Wa kulla Dlolalatin finnaar. Yang artinya kurang
lebih: "Sebaik-baik perkataaan adalah kitabulloh
(AL Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh SAW. Dan
seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (dalam agama). Maka semua
perkara yang baru (dalam urusan agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat,
dan semua kesesatan tempatnya di neraka
" [HR
Muslim
]. Jadi perkara bid’ah bukan perkara yang sepele, bukan hanya
masalah diterima/tidaknya suatu amalan, tetapi juga berhubungan dengan
persaksian kita bahawa Muhammad SAW adalah Rasulullah…

InsyaAllah, nanti akan ada
saatnya membahas tentang bid’ah, terutama masalah bid’ah hasanah. Yang
terpenting pada pembahasan kali ini adalah tentang puasa asyura. Jika ada yang
mengatakan adanya puasa tanggal 1 Muharam, sholat sunnah pada malam 1 Muharam
atau dzikir-dzikir/amalan-amalan/ibadah-ibadah tertentu yang dikhususkan pada
bulan Muharam (ataupun bulan lainnya) harus bisa membawakan / punya dalil yang
shohih sebagai hujjah. Karena hukum asal ibadah adalah haram, sampai datangnya
dalil dari Al Qur’an / As Sunnah (Hadits). Karena sebaik apapun amal ibadah
kita jika hanya didasarkan persangkaan baik menurut akal kita, tanpa ada dasar dari syariat, maka amalan itu termasuk
bid’ah dan tertolak.. Karena semua kebaikan (dalam urusan agama/ibadah) sudah
disampaikan oleh Rasulullah SAW, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar ra;
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT mengutus
seorang nabi kepada suatu umat sebelumku, melainkan dia wajib menunjuki umatnya
kepada kebaikan yang dia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang
dia ketahui
” [HR Muslim].

Dalam riwayat yang lain dari Abu Dzar Al Ghifari ra, ia
berkata: Rasulullah SAW meninggalkan kami dan tidak ada seekor burung yang
mengepakkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau menyebutkan kepada kami
ilmu tentangnya. Ia berkata, lalu Rasulullah SAW Bersabda: “Tidak tersisa sesuatupun yang mendekatkan ke surga dan
menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepadamu
” [HR Thabrani, di shohihkan imam Syafi’i dan As Suyuthi rhm]

Di mana ALLAH…???

Tuesday, January 16th, 2007

<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
H3 { margin-bottom: 0.21cm }
–>

Penulis: Abu
Ibrohim Hakim

Pada
masa sekarang ini, di mana banyak diantara kaum muslimin yang sudah
sangat menyepelekan masalah aqidah shahihah yang merupakan masalah
paling pokok dalam agama ini, maka akan kita dapati dua jawaban yang
batil dan kufur dari pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
. Yang pertama
mereka yang mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam diri setiap kita?
Dan kedua yaitu yang mengatakan Alloh ada di mana-mana atau di segala
tempat?

Seorang
Budak Pun Tahu Dimana Alloh

Ketahuilah wahai
Saudaraku, pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
adalah
pertanyaan Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

kepada seorang budak perempuan kepunyaan Mu’awiyah bin Hakam As
Sulamiy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya.
“Beliau bertanya kepada
budak perempuan itu, ‘Dimanakah Alloh?’ Jawab budak perempuan,
Di atas langit’ Beliau bertanya
lagi, Siapakah aku? Jawab budak perempuan, ‘Engkau adalah
Rosululloh’, Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Karena
sesungguhnya dia seorang mu’minah (perempuan yang beriman)’.”

(
HR. Muslim dan lainnya)

Maka perhatikanlah
dengan seksama masyarakat tersebut, yang mana Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada
para penggembala kambing sekalipun, yang mana perjumpaan (pergaulan)
mereka dengan Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

sangat sedikit, seperti penggembala kambing ini. Kemudian
bandingkanlah dengan realita kaum muslimin sekarang ini, niscaya akan
kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh.

Keyakinan di mana
Alloh termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya
yaitu penetapan sifat
Al-’Uluw
(sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa Dia di atas
seluruh mahluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan
penetapan
Istiwa’
(bersemayam)-Nya di atas
Al-’Arsy,
berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya sebagaimana yang
diyakini oleh kaum
Wihdatul
Wujud
, yang telah
dikafirkan oleh para ulama kita yang dahulu dan sekarang. Dan
dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak,
sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah,
ijma’, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai
perkara yang bisa diketahui secara mudah oleh setiap orang dalam
agama yang agung ini.

Dalil-Dalil
Al Qur’an

Alloh Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
(Robb)
Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”

(Thoha: 5)
. Dan pada enam tempat dalam Al-Qur’an, Allah
Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Kemudian
Dia Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy.”

(
Al-A’raf: 54). ‘Arsy
adalah makhluk Alloh yang paling tinggi berada di atas tujuh langit
dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas,
“Dan
‘Arsy tidak seorang pun dapat mengukur berapa besarnya.”

(Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, sanadnya Shahih). Ayat ini
jelas sekali menunjukkan ketinggian dan keberadaan Alloh Subhanahu wa
Ta’ala di atas langit serta menutup jalan untuk meniadakan atau
menghilangkan sifat ketinggian-Nya atau mentakwilkannya. Para ulama
Ahlus Sunnah pun sepakat bahwa Alloh
Subhanahu wa Ta’ala ber-istiwa’ di atas
‘Arsy-Nya
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa mempertanyakan
bagaimana cara/
kaifiyat istiwa’-Nya.
Dan perlu diketahui bahwa penetapan sifat ini sama dengan penetapan
seluruh sifat Alloh yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar
penetapan sifat Alloh sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa
ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya.

Dalil-Dalil
As Sunnah

Adapun dalil-dalil
dari As-Sunnah juga sangat banyak, di antaranya adalah sabda
Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam
,
“Tidakkah kalian
percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di atas
langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.”

(
HR. Bukhori-Muslim). Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa
sallam
juga bersabda,
“Orang-orang yang
penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja
yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Yang berada di
atas langit.”
(
HR
Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al-Albani
).
Begitu pula dengan hadits pertanyaan Rosululloh kepada budak
perempuan yang telah disebutkan di atas. Imam Adz-Dzahabi berkata
setelah membawakan hadits budak perempuan di atas, “Demikianlah
pendapat kami bahwa setiap orang yang ditanyakan di manakah Alloh,
dia segera menjawab dengan fitrahnya, ‘Alloh di atas langit!’ Dan
di dalam hadits ini ada dua perkara yang penting; Pertama
disyariatkannya pertanyaan, ‘Dimana Alloh?’ Kedua,
disyariatkannya jawaban yang ditanya, ‘Di atas langit’. Maka
siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia
mengingkari Al-Musthofa shollallohu ‘alaihi wa sallam
“.
(
Mukhtashor Al-’Uluw)

Akan tetapi
realita kaum muslimin sekarang amat sangat memprihatinkan. Pertanyaan
ini justeru telah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang
dipertanyakan oleh sebagian jama’ah-jama’ah dakwah di zaman ini?
Ataukah justru pertanyaan ini telah menjadi bahan olok-olokan semata?
Ataukah kaum muslimin sekarang ini telah memahami pentingnya berhukum
dengan hukum yang diturunkan Alloh, meskipun mereka menyia-nyiakan
hak Alloh? Maka kapankah Alloh akan mengizinkan untuk melepaskan,
membebaskan dan memerdekakan kita dari orang-orang kafir yang
menghinakan dan merendahkan kita sebagaimana telah dibebaskannya
seorang wanita dari hinanya perbudakan setelah ia mengenal dimana
Alloh?

Konsekuensi
Jawaban Yang Keliru

Alangkah batilnya
orang yang yang mengatakan bahwasanya Alloh berada di setiap tempat
atau Alloh berada di mana-mana karena konsekuensinya menetapkan
keberadaan Alloh di jalan-jalan, di pasar bahkan di tempat-tempat
kotor (seperti toilet/wc, kandang babi dan tempat-tempat najis
lainnya) dan berada di bawah makhluk-Nya. Kita katakan kepada mereka,
“Maha Suci Alloh dari
apa-apa yang mereka sifatkan.”

(Al-Mu’minun: 91). Dan sama halnya juga dengan orang yang
mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam setiap diri kita (??) karena
konsekuensinya Alloh itu banyak, sebanyak bilangan makhluk? Maka
aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidahnya kaum Nashrani yang
mengakui adanya tiga tuhan (trinitas). Lebih-lebih lagi mereka yang
mengatakan bahwa Alloh tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan,
tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena hal ini
berarti Alloh itu tidak ada (??) maka selama ini siapa Tuhan yang
mereka sembah? Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan,
“Kami
tidak tahu Dzat Alloh di atas ‘Arsy atau di bumi”

mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Alloh
Subhanahu wa Ta’ala telah mensifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat
yang salah satunya adalah bahwa ia
istiwa’
(bersemayam) di atas
‘Arsy-Nya
supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam”
darinya dengan ucapan
“Kami
tidak tahu”

nyata-nyata telah berpaling dari maksud Alloh. Pantaslah jika Imam
Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, tentunya
setelah ditegakkan hujjah atas mereka.

Dalil
Fitrah

Sebenarnya tanpa
adanya
dalil naqli
tentang keberadaan Alloh di atas, fitrah kita sudah menunjukkan hal
tersebut. Lihatlah jika manusia berdo’a khususnya apabila sedang
tertimpa musibah, mereka menengadahkan wajah dan tangan ke langit
sementara gerakan mata mereka ke atas mengikuti isyarat hatinya yang
juga mengarah ke atas. Maka siapakah yang mengingkari fitrah ini
kecuali mereka yang telah rusak fitrahnya? Bahkan seorang artis pun
ketika ditanya tentang kapan dia mau menikah maka dia menjawab,
“Kita
serahkan pada Yang di atas!”

Maka mengapa kita tidak menjawab pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
dengan fitrah
kita? Dengan memperhatikan kenyataan ini, lalu mengapa kita lebih
sibuk menyatukan suara kaum muslimin di kotak-kotak pemilihan umum
sementara hati-hati mereka tidak disatukan di atas aqidah yang
shahih? Bukankah persatuan jasmani tidak akan terwujud bilamana
ikatan hati bercerai-berai? Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Kamu mengira mereka
itu bersatu, padahal hati-hati mereka berpecah-belah.”

(Al-Hasyr: 14). Hanya kepada Alloh-lah kita memohon perlindungan.

 

Tuk siapa cinta kita…???

Monday, January 8th, 2007

<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>

    Hanya ada satu cinta
yang tidak boleh berkurang/pupus/meredup, juga tidak boleh kita
putus, yaitu cinta kita kepada Allah SWT di atas segalanya. Jangan
sampai kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah SWT.
Karena sesungguhnya jika kita sudah mencintai Allah SWT dengan
sebenar-benarnya, niscaya Allah SWT pun akan mencintai kita. Jika
Allah SWT sudah mencintai kita, maka kita akan senantiasa bahagia dan
mendapat ridloNYA, segala kebaikan akan terlimpahkan kepada kita,
sekalipun tampak seperti bencana/musibah. Karena tiada suatu
musibah/bencana yang menimpa seorang muslim melainkan akan
menghapuskan dosanya dan menambah pahalanya, tentu saja jika orang
tersebut sabar dan ikhlas dari awal sampai akhir dalam menerima
musibah tersebut (ada haditsnya lho…). Sehingga tiada sesuatupun di
muka bumi ini yang dapat menyengsarakan kita, tiada yang dapat
menyempitkan dada kita. Cinta kepada Allah akan membawa kebahagiaan
dunia dan akhirat.

        Sungguh amat besar
kecemburuan dan kemurkaan Allah SWT terhadap orang yang menduakan
cinta kepadaNYA, yaitu mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada
Allah SWT, terlebih lagi dalam hal ibadah…

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita malas menggerjakan sholat wajib
tepat waktu. Jika suara adzan berkumandang kita masih menonton TV dan
mengakhirkan sholat, ini berarti cinta kita kepada Allah kalah dengan
acara TV…

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita enggan/menunda menggerjakan
perintah Allah, padahal jika disuruh sang kekasih/atasan/yang lainnya
untuk mengerjakan sesuatu pastilah kita kerjakan seketika itu juga.
Ini berarti cinta kita kepada Allah kalah dengan cinta kita kepada
makhluk…

        Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita enggan/malas untuk mengerjakan
sesuatu yang bisa mendatangkan cinta Allah kepada kita, yaitu
perkara-perkara yang bersifat sunnah.

        Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita senang dan sering melakukan
sesuatu yang bisa mendatangkan kebencian Allah kepada kita, yaitu
perkara-perkara yang bersifat makruh.

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita sering melakukan perbuatan
maksiat dan dosa, padahal perbuatan itu bisa menjauhkan cinta-NYA
dari kita..

        Padahal menduakan Allah
dalam hal ibadah termasuk menyekutukan Allah (syirik), namun tentunya
tingkatan syiriknya berbeda-beda, tergantung perbuatan yang
dilakukan. Namun yang perlu diperhatikan, seringan-ringannya syirik
adalah dosa besar yang paling besar
, lebih besar dosanya daripada
orang yang zina, lebih besar dosanya daripada membunuh, lebih besar
dosanya daripada merampas harta/kehormatan/jiwa seorang muslim.
Karena syirik adalah merampas hak Allah, dzat yang maha agung dan
maha segalanya…
Terkadang, bahkan seringkali kita merasa gerah jika ada hak manusia yang dirampas oleh orang lain. Kadang kita marah ketika ada orang yang memperkosa ibunya/tetangganya. Sering ada protes jika hak-hak manusia dilanggar, namun kita sering pula berpangku tangan/berdiam diri ketika hak Allah SWT dirampas… Na’udzu billahi min dzalika…

 

  Ya Allah, Tuhan
yang maha pengampun

            Ampunilah hambamu
yang lalai ini…

            Ya Allah, Tuhan yang
maha pemberi petunjuk

            Tunjukilah kami
jalan yang lurus

            Jalan yang Engkau
ridloi

            Aamiin…

 

==>> Dari hamba
yang lalai dan penuh dosa, namun selalu mengharap cintaNYA
[DesYanto
DR--Yanto Abdurrahman
] <<==

ADAB PADA HARI JUM’AT

Thursday, January 4th, 2007

ADAB PADA HARI JUM’AT SESUAI
SUNNAH  NABI SAW

 
Hari Jum’at adalah hari
yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Hari
Jum’at merupakan hari raya bagi uma islam yang ada setiap minggu (selain ‘idul
fitri dan ‘idul ad-ha). Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk
mempelajari petunjuk Rosululloh SAW dan sahabatnya RA, bagaimana seharusnya menyambut
hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Alloh
Ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim
yang ingin menghidupkan syariat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam pada
hari Jum’at :

1. Memperbanyak
Sholawat Nabi

 Rosululloh SAW bersabda
yang artinya, ”Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari
Jum’at, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian
akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata :” Bagaimana ditunjukkan
kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah? Nabi bersabda:”Sesungguhnya
Alloh mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”
(Shohih. HR Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari jum’at
wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadist Abu Sa’id Al
Khudri, dimana Rosululloh bersabda yang artinya, ”Mandi pada hari
Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang baligh”
(Shohih. HR. Bukhori dan
Muslim). Mandi Jum’at ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh,
tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir.
Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jum’at. Adapun tatacara
mandi Jum’at ini seperti halnya mandi janabat biasa. Rosululloh bersabda yang
artinya, “Barangsiapa mandi jum’at seperti mandi janabat…” (Shohih. HR
Bukhori dan Muslim).

3. Menggunakan
minyak wangi

Nabi Shollallohu
‘alaihi wa Sallam
bersabda yang artinya, ”Barangsiapa mandi pada hari
Jum’at dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi
kemudian berangkat kemasjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lau sholat
sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan
mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at
berikutnya”.
(Shohih. HR Bukhori dan Muslim).

4. Bersegera untuk berangkat
ke masjid

Anas bin
Malik berkata, ”Kami berpagi-pagi menuju sholat jum’at dan tidur siang
setelah sholat jum’at
.” (Shohih. HR. Bukhori). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, ”Makna
hadist ini yaitu para shahabat memulai sholat Jum’at pada awal waktu sebelum
mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat dhuhur ketika
panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika
matahari telah rendah panasnya.” (Lihat”Fathul Bari”  II/388)

5. Sholat sunnah ketika
menunggu imam atau khotib

Abu Huroiroh rodhiyallohu
’anhu
menuturkan bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
” Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat jum’at, lalu ia
sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian
sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at
ini sampai
jum’at berikutnya ditambah tiga hari”.
(
Shohih. HR Muslim)

6. Tidak duduk dengan memeluk
lutut ketika khotib berkhutbah

Sahl bin
Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rosululloh melarang Al Habwah (duduk
sambil memegang lutut) pada saat sholat jum’at ketika imam sedang berkhutbah.” (Hasan. HR Abu Dawud, Turmidzi).

7. Sholat sunnah setelah
sholat Jum’at

Rosululloh
bersabda yang artinya, ”Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat
jum’at, maka sholatlah empat rekaat.”
Amr menambahkan dalam riwayatnya dari
jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, ”Apabila engkau tergesa-gesa karena
sesuatu, maka sholatlah dua rekaat dimasjid dan dua rekaat apabila engkau
pulang.
” (
Shohih.
HR Muslim, Turmudzi).

8. Membaca Surat Al kahfi

Nabi bersabda
yang artinya, ”Barangsiapa yang membaca surat Al kahfi pada hari jum’at maka
Alloh akan meneranginya diantara dua jum’at”.
(HR Imam Hakim dalam
Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim
yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu
alaihi wa Sallam
ketika di hari
Jum’at.
Semoga kita menjadi
hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah diatas
jalan-Nya.

[Di
sarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh
Abu Abdirrohman Bambang Wahono]