Di mana ALLAH…???

<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
H3 { margin-bottom: 0.21cm }
–>

Penulis: Abu
Ibrohim Hakim

Pada
masa sekarang ini, di mana banyak diantara kaum muslimin yang sudah
sangat menyepelekan masalah aqidah shahihah yang merupakan masalah
paling pokok dalam agama ini, maka akan kita dapati dua jawaban yang
batil dan kufur dari pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
. Yang pertama
mereka yang mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam diri setiap kita?
Dan kedua yaitu yang mengatakan Alloh ada di mana-mana atau di segala
tempat?

Seorang
Budak Pun Tahu Dimana Alloh

Ketahuilah wahai
Saudaraku, pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
adalah
pertanyaan Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

kepada seorang budak perempuan kepunyaan Mu’awiyah bin Hakam As
Sulamiy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya.
“Beliau bertanya kepada
budak perempuan itu, ‘Dimanakah Alloh?’ Jawab budak perempuan,
Di atas langit’ Beliau bertanya
lagi, Siapakah aku? Jawab budak perempuan, ‘Engkau adalah
Rosululloh’, Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Karena
sesungguhnya dia seorang mu’minah (perempuan yang beriman)’.”

(
HR. Muslim dan lainnya)

Maka perhatikanlah
dengan seksama masyarakat tersebut, yang mana Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada
para penggembala kambing sekalipun, yang mana perjumpaan (pergaulan)
mereka dengan Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam

sangat sedikit, seperti penggembala kambing ini. Kemudian
bandingkanlah dengan realita kaum muslimin sekarang ini, niscaya akan
kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh.

Keyakinan di mana
Alloh termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya
yaitu penetapan sifat
Al-’Uluw
(sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa Dia di atas
seluruh mahluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan
penetapan
Istiwa’
(bersemayam)-Nya di atas
Al-’Arsy,
berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya sebagaimana yang
diyakini oleh kaum
Wihdatul
Wujud
, yang telah
dikafirkan oleh para ulama kita yang dahulu dan sekarang. Dan
dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak,
sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah,
ijma’, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai
perkara yang bisa diketahui secara mudah oleh setiap orang dalam
agama yang agung ini.

Dalil-Dalil
Al Qur’an

Alloh Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
(Robb)
Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”

(Thoha: 5)
. Dan pada enam tempat dalam Al-Qur’an, Allah
Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Kemudian
Dia Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy.”

(
Al-A’raf: 54). ‘Arsy
adalah makhluk Alloh yang paling tinggi berada di atas tujuh langit
dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas,
“Dan
‘Arsy tidak seorang pun dapat mengukur berapa besarnya.”

(Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, sanadnya Shahih). Ayat ini
jelas sekali menunjukkan ketinggian dan keberadaan Alloh Subhanahu wa
Ta’ala di atas langit serta menutup jalan untuk meniadakan atau
menghilangkan sifat ketinggian-Nya atau mentakwilkannya. Para ulama
Ahlus Sunnah pun sepakat bahwa Alloh
Subhanahu wa Ta’ala ber-istiwa’ di atas
‘Arsy-Nya
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa mempertanyakan
bagaimana cara/
kaifiyat istiwa’-Nya.
Dan perlu diketahui bahwa penetapan sifat ini sama dengan penetapan
seluruh sifat Alloh yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar
penetapan sifat Alloh sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa
ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya.

Dalil-Dalil
As Sunnah

Adapun dalil-dalil
dari As-Sunnah juga sangat banyak, di antaranya adalah sabda
Rosululloh
shollallohu
‘alaihi wa sallam
,
“Tidakkah kalian
percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di atas
langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.”

(
HR. Bukhori-Muslim). Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa
sallam
juga bersabda,
“Orang-orang yang
penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja
yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Yang berada di
atas langit.”
(
HR
Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al-Albani
).
Begitu pula dengan hadits pertanyaan Rosululloh kepada budak
perempuan yang telah disebutkan di atas. Imam Adz-Dzahabi berkata
setelah membawakan hadits budak perempuan di atas, “Demikianlah
pendapat kami bahwa setiap orang yang ditanyakan di manakah Alloh,
dia segera menjawab dengan fitrahnya, ‘Alloh di atas langit!’ Dan
di dalam hadits ini ada dua perkara yang penting; Pertama
disyariatkannya pertanyaan, ‘Dimana Alloh?’ Kedua,
disyariatkannya jawaban yang ditanya, ‘Di atas langit’. Maka
siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia
mengingkari Al-Musthofa shollallohu ‘alaihi wa sallam
“.
(
Mukhtashor Al-’Uluw)

Akan tetapi
realita kaum muslimin sekarang amat sangat memprihatinkan. Pertanyaan
ini justeru telah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang
dipertanyakan oleh sebagian jama’ah-jama’ah dakwah di zaman ini?
Ataukah justru pertanyaan ini telah menjadi bahan olok-olokan semata?
Ataukah kaum muslimin sekarang ini telah memahami pentingnya berhukum
dengan hukum yang diturunkan Alloh, meskipun mereka menyia-nyiakan
hak Alloh? Maka kapankah Alloh akan mengizinkan untuk melepaskan,
membebaskan dan memerdekakan kita dari orang-orang kafir yang
menghinakan dan merendahkan kita sebagaimana telah dibebaskannya
seorang wanita dari hinanya perbudakan setelah ia mengenal dimana
Alloh?

Konsekuensi
Jawaban Yang Keliru

Alangkah batilnya
orang yang yang mengatakan bahwasanya Alloh berada di setiap tempat
atau Alloh berada di mana-mana karena konsekuensinya menetapkan
keberadaan Alloh di jalan-jalan, di pasar bahkan di tempat-tempat
kotor (seperti toilet/wc, kandang babi dan tempat-tempat najis
lainnya) dan berada di bawah makhluk-Nya. Kita katakan kepada mereka,
“Maha Suci Alloh dari
apa-apa yang mereka sifatkan.”

(Al-Mu’minun: 91). Dan sama halnya juga dengan orang yang
mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam setiap diri kita (??) karena
konsekuensinya Alloh itu banyak, sebanyak bilangan makhluk? Maka
aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidahnya kaum Nashrani yang
mengakui adanya tiga tuhan (trinitas). Lebih-lebih lagi mereka yang
mengatakan bahwa Alloh tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan,
tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena hal ini
berarti Alloh itu tidak ada (??) maka selama ini siapa Tuhan yang
mereka sembah? Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan,
“Kami
tidak tahu Dzat Alloh di atas ‘Arsy atau di bumi”

mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Alloh
Subhanahu wa Ta’ala telah mensifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat
yang salah satunya adalah bahwa ia
istiwa’
(bersemayam) di atas
‘Arsy-Nya
supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam”
darinya dengan ucapan
“Kami
tidak tahu”

nyata-nyata telah berpaling dari maksud Alloh. Pantaslah jika Imam
Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, tentunya
setelah ditegakkan hujjah atas mereka.

Dalil
Fitrah

Sebenarnya tanpa
adanya
dalil naqli
tentang keberadaan Alloh di atas, fitrah kita sudah menunjukkan hal
tersebut. Lihatlah jika manusia berdo’a khususnya apabila sedang
tertimpa musibah, mereka menengadahkan wajah dan tangan ke langit
sementara gerakan mata mereka ke atas mengikuti isyarat hatinya yang
juga mengarah ke atas. Maka siapakah yang mengingkari fitrah ini
kecuali mereka yang telah rusak fitrahnya? Bahkan seorang artis pun
ketika ditanya tentang kapan dia mau menikah maka dia menjawab,
“Kita
serahkan pada Yang di atas!”

Maka mengapa kita tidak menjawab pertanyaan
“Dimana
Alloh?”
dengan fitrah
kita? Dengan memperhatikan kenyataan ini, lalu mengapa kita lebih
sibuk menyatukan suara kaum muslimin di kotak-kotak pemilihan umum
sementara hati-hati mereka tidak disatukan di atas aqidah yang
shahih? Bukankah persatuan jasmani tidak akan terwujud bilamana
ikatan hati bercerai-berai? Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Kamu mengira mereka
itu bersatu, padahal hati-hati mereka berpecah-belah.”

(Al-Hasyr: 14). Hanya kepada Alloh-lah kita memohon perlindungan.

 

Leave a Reply