Tuk siapa cinta kita…???

<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>

    Hanya ada satu cinta
yang tidak boleh berkurang/pupus/meredup, juga tidak boleh kita
putus, yaitu cinta kita kepada Allah SWT di atas segalanya. Jangan
sampai kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah SWT.
Karena sesungguhnya jika kita sudah mencintai Allah SWT dengan
sebenar-benarnya, niscaya Allah SWT pun akan mencintai kita. Jika
Allah SWT sudah mencintai kita, maka kita akan senantiasa bahagia dan
mendapat ridloNYA, segala kebaikan akan terlimpahkan kepada kita,
sekalipun tampak seperti bencana/musibah. Karena tiada suatu
musibah/bencana yang menimpa seorang muslim melainkan akan
menghapuskan dosanya dan menambah pahalanya, tentu saja jika orang
tersebut sabar dan ikhlas dari awal sampai akhir dalam menerima
musibah tersebut (ada haditsnya lho…). Sehingga tiada sesuatupun di
muka bumi ini yang dapat menyengsarakan kita, tiada yang dapat
menyempitkan dada kita. Cinta kepada Allah akan membawa kebahagiaan
dunia dan akhirat.

        Sungguh amat besar
kecemburuan dan kemurkaan Allah SWT terhadap orang yang menduakan
cinta kepadaNYA, yaitu mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada
Allah SWT, terlebih lagi dalam hal ibadah…

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita malas menggerjakan sholat wajib
tepat waktu. Jika suara adzan berkumandang kita masih menonton TV dan
mengakhirkan sholat, ini berarti cinta kita kepada Allah kalah dengan
acara TV…

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita enggan/menunda menggerjakan
perintah Allah, padahal jika disuruh sang kekasih/atasan/yang lainnya
untuk mengerjakan sesuatu pastilah kita kerjakan seketika itu juga.
Ini berarti cinta kita kepada Allah kalah dengan cinta kita kepada
makhluk…

        Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita enggan/malas untuk mengerjakan
sesuatu yang bisa mendatangkan cinta Allah kepada kita, yaitu
perkara-perkara yang bersifat sunnah.

        Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita senang dan sering melakukan
sesuatu yang bisa mendatangkan kebencian Allah kepada kita, yaitu
perkara-perkara yang bersifat makruh.

    Kita mengaku mencintai
Allah diatas segalanya, tetapi kita sering melakukan perbuatan
maksiat dan dosa, padahal perbuatan itu bisa menjauhkan cinta-NYA
dari kita..

        Padahal menduakan Allah
dalam hal ibadah termasuk menyekutukan Allah (syirik), namun tentunya
tingkatan syiriknya berbeda-beda, tergantung perbuatan yang
dilakukan. Namun yang perlu diperhatikan, seringan-ringannya syirik
adalah dosa besar yang paling besar
, lebih besar dosanya daripada
orang yang zina, lebih besar dosanya daripada membunuh, lebih besar
dosanya daripada merampas harta/kehormatan/jiwa seorang muslim.
Karena syirik adalah merampas hak Allah, dzat yang maha agung dan
maha segalanya…
Terkadang, bahkan seringkali kita merasa gerah jika ada hak manusia yang dirampas oleh orang lain. Kadang kita marah ketika ada orang yang memperkosa ibunya/tetangganya. Sering ada protes jika hak-hak manusia dilanggar, namun kita sering pula berpangku tangan/berdiam diri ketika hak Allah SWT dirampas… Na’udzu billahi min dzalika…

 

  Ya Allah, Tuhan
yang maha pengampun

            Ampunilah hambamu
yang lalai ini…

            Ya Allah, Tuhan yang
maha pemberi petunjuk

            Tunjukilah kami
jalan yang lurus

            Jalan yang Engkau
ridloi

            Aamiin…

 

==>> Dari hamba
yang lalai dan penuh dosa, namun selalu mengharap cintaNYA
[DesYanto
DR--Yanto Abdurrahman
] <<==

Leave a Reply