Hadits Dloif yang populer
Monday, February 12th, 2007Tuntutlah ilmu sekalipun
ke negeri Cina
Kita sering mendengar ungkapan:
"Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina". Kalo ungkapan tersebut
sebagai penyemangat tidak apa-apa.. tapi yang jadi masalah adalah ungkapan itu
dinisbatkan kepada Rasululloh SAW. Penisbatan (penetapan) ungkapan itu dari
Rasululloh adalah sesuatu yang perlu menjadi perhatian. Karena ternyata riwayat
tersebut adalah dloif, bahkan bathil, yaitu bukan dari Rasulullah, atau dengan
kata lain Rasulullah tidak pernah mengatakan ungkapan tersebut. Jadi kita tidak
boleh menisbatkan ungkapan tersebut kepada Rasulullah SAW, apapun alasannya
apalagi mengharap dapat pahala karena mengamalkan ungakapan tersebut. Karena
pada masa itu, sumber dari segala sumber ilmu adalah di Arab (baca: Mekah dan
Medinah), pernyataan ini diungkapkan oleh sahabat/tabi’ien. Berikut adalah
penjelasan ttg hadits tersebut oleh seorang ahli hadits yang tsiqoh
(terpercaya)…
Syaikh Muhammad
Nashruddin al-Albani Rohimahullah menulis:
Riwayat ini batil. Ini diriwayatkan
oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam
at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanad dari al-Hasan bin
Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik r.a. Kemudian
semuanya menambahkan lafazh fa inna thalabal ilmi faridlatun ‘ala kulli
muslimin. Ibnu Adi berkata, "Tambahan kata walaw bish Shin kami tidak
mengenalinya kecuali datang dari al-Hasan bin Athiyah." Begitu pula
pernyataan al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam
al-Fawa’id.
Kelemahan riwayat
ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi
sanad yang sangat dha’if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar
riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang
Abu Atikah ini.
Ringkasnya, susunan
dari hadits di atas adalah sangat dha’if atau bahkan sampai pada derajad batil.
Saya kira kebenaran ada pada ucapan Ibnu hibban dan Ibnul Jauzi yang berkata
bahwa hadits di atas tidak ada sanadnya yang baik atau bahkan dianggap baik
sampai derajad dapat dikuatkan atau saling menguatkan antara satu sanad dengan
sanad yang lainnya.
Adapun bagian kedua
(tambahannya), mungkin dapat dinaikkan derajadnya kepada hadits hasan, seperti
diutarakan oleh al-Mazi sebab sanadnya banyak yang bersumber pada Anas r.a.
Dalam hal ini dari hasil penyelidikan yang saya lakukan, saya telah menemukan
delapan sanad yang dapat diandalkan yang kesemuanya bersumber kepada sahabat
Rasulullah saw., diantaranya adalah Anas, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud,
Ali, Abu Said, dan sebagainya. Hingga kinipun saya masih menelitinya hingga
saya benar-benar yakin dalam memvonis shahih, hasan ataupun dha’ifnya
sanad-sanad tersebut. Wallahu a’lam.
Sumber:
Judul Asli: Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah Jakarta Gema Insani Press, 1994 Jakarta 12740
wal Maudhu’ah wa Atsaruhas-Sayyi’ fil-Ummah
Judul: Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’
Penulis: Muhammad Nashruddin al-Albani
Penterjemah: A.M. Basamalah, Penyunting: Drs.
Imam Sahardjo HM.
Cetakan 1,
Jln. Kalibata Utara II No.84
Cetakan Pertama, Shafar 1416H - Juli 1995M
Komentar/penjelasan saya: dari penjelasan
syaikh Al –Albani dapat ditarik kesimpulan:
- Tambahan
Lafazh “walaw bish Shin” (walau
sampai ke negriChina
)
adalah sangat dloif, bahkan imam Bukhori menyatakan mungkar, jadi tidak
boleh diamalkan.. - Lafazh
“fa inna thalabal ilmi faridlatun
‘ala kulli muslimin” (maka sesungguhnya menuntut ilmu adalah wajib
bagi setiap muslim (lelaki dan perempuan)) adalah hasan, jadi boleh
diamalkan…