Sahabat
Sahabat tempat kita berbagi susah…
Sahabat tempat berbagi derita…
Sahabat tempat berbagi duka…
Sahabat tempat kita bersandar dikala
kita susah…
Sahabat berguna jika kita menderita…
Sahabat kita kunjungi jika kita sedang
berduka
Malangnya menjadi seorang sahabat yang
loyal…
Sahabat yang hanya berguna disaat-saat
susah…
Sahabat yang dicampakkan ketika derita
sudah hilang…
Habis manis sepah dibuang…
Saya kira tidak berlebihan apa yang saya tulis
dalam beberapa baris di atas. Terkadang kita begitu jahat memperlakukan teman,
bahkan sahabat kita. Seringkali kita begitu dekat kepada teman kita (terutama)
disaat kita butuh bantuannya. Namun ketika kita sudah tidak membutuhkan
bantuannya, kita meninggalkan teman kita begitu saja.. Habis manis sepah
dibuang.
Mungkin jika sekedar hubungan pertemanan hal itu
sudah biasa dan tidak terlalu “sakit hati”. Yang jadi masalah adalah jika yang
melakukan hal itu adalah seseorang yang kita anggap sebagai teman akrab/sahabat
karib kita. Tentu saja rasanya akan sangat lain. Hati kita yang merasa “dikhianati“
oleh sahabat jauh lebih sakit daripada dikhianati teman biasa.
Seringkali kita jumpai ada orang yang begitu
perhatian dan begitu baiknya kepada sahabatnya, apa yang sahabatnya perlukan
dia bantu mendapatkannya walau sahabatnya tersebut tidak meminta bantuannya. Seseorang
yang mendahulukan kepentingan sahabatnya di atas kepentingan dirinya sendiri…
Namun tak jarang juga kita jumpai, balasan dari sahabat yang mendapatkan
perlakuan baik itu justru sebaliknya. Sahabat tersebut memang dekat dikala dia
sedang kesusahan/menderita/butuh bantuan, tetapi giliran penderitaan/kesusahan
yang dia alami sudah hilang, dia begitu saja “menghilang” dan mencampakkan
sahabatnya tersebut… dan hanya kembali ke sahabatnya itu jika dia mengalami
penderitaan/kesusahan lagi…
Masih adakah orang yang tega berbuat seperti itu??
Tentu saja masih. Jujur saja, aku beberapa kali diperlakukan seperti itu. Tapi bagiku tak ada kata dendam.
Memang terkadang aku ingin membalasnya, dalam artian mau
meninggalkanya/menjauhinya. Tapi apa untungnya bagiku. Jika aku melakukan
seperti itu, berarti aku lebih jahat daripada orang yang aku balas. Bukankah
balas dendam selalu berbuat lebih kejam daripada apa yang telah diperbuat terhadap
kita. Selain Alloh melarang kita balas dendam sekalipun terhadap orang yang
telah berbuat jahat kepada kita, jika kita berniat menjauhi teman kita, berarti
kita telah memutus tali hubungan silaturrohmi, tentu saja dosanya jadi semakin
besar… Alhamdulillah, saya masih bisa berpikir jernih, dan semoga selamanya
bisa berpikir jernih untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Soal
teman/sahabat yang mau seenak hatinya memperlakukan teman/sahabatnya itu urusan
Alloh, biar Alloh yang menghakiminya. Syukur2 kita bisa memaafkan kesalahan
sahabat/teman kita yang berbuat demikian. Bukankah ada sahabat Nabi yang
dijamin masuk surga, padahal amalnya biasa saja, hanya ibadah2 yang wajib.
Ingat kisahnya? Seperti yang disampaikan ibnu Umar,
kisahnya kurang lebih sebagai berikut: Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda
(kurang lebih), sebentar lagi ada ahli surga yang datang. Tak berapa lama
kemudian datanglah si fulan. Kejadian tersebut berulang 3x berturut2. Kemudian
ibnu Umar menyelidiki si fulan tersebut. Ibnu Umar menemui si fulan dan menceritakan
kalo beliau (ibnu Umar) sedang ada masalah dengan ayahnya, jadi beliau meminta
diizinkan menginap di rumah si fulan tersebut. Tanpa keberatan si fulan
mengizinkan ibnu Umar menginap di rumahnya. Selama menginap di rumah si fulan
tersebut, ibnu Umar menyelidiki amal ibadah yang dilakukan si fulan, yang
menyebabkan Rasulullah SAW menggolongkan si fulan termasuk ahli surga. Selama
menginap itu pula ibnu Umar tidak menjumpai amal ibadah yang istimewa pada diri si fulan. Bahkan si fulan tidak
melakukan sholat malam, si fulan hanya melakukan ibadah wajib saja. Setelah beberapa
hari menginap dan menyelidiki, akhirnya ibnu Umar mengatakan yang sesungguhnya
kepada si fulan. Ibnu umar mengatakan kalo sebenarnya beliau telah berbohong.
Sebenarnya beliau tidak ada masalah dengan ayahnya. Beliau menginap di rumah si
fulan hanya untuk menyelidiki amal ibadah apa yang dilakukan si fulan, yang
menyebabkan si fulan digolongkan penghuni surga oleh Rasulullah SAW. Setelah
mengatakan yang sebenarnya, kemudian ibnu Umar bertanya kepada si fulan apakah
si fulan punya amalan istimewa. Mendengar pertanyaan ibnu Umar tersebut, si
fulan menjawab bahwa sesungguhnya dia tidak punya amal/ibadah yang istimewa,
hanya saja tiap kali sebelum tidur, si fulan
memaafkan semua kesalahan2 saudara2nya/teman2nya yang diperbuat terhadapnya.