Archive for August, 2007

Fitroh kesucian Jasmani

Friday, August 31st, 2007

Fitroh-Fitroh Manusia Dalam Kesucian Jasmani

Sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk menjalankan seluruh aspek kehidupannya sesuai dengan tuntunan kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya. Alloh berfirman, “Dan apa yang telah dibawa oleh Rosul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkan-lah.” (Al-Hasyr: 7). Di antara tuntunan itu adalah tuntunan dalam memelihara kesucian jasmani. Maka dari itu, seorang muslim semestinya melaksanakan tuntunan fitroh yang telah digariskan Alloh melalui lisan Rosul-Nya yaitu :“Lima hal termasuk bagian fitroh, yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), memotong kuku, mencabuti rambut ketiak dan memotong kumis.” (HR. Bukhori dan Muslim). Sabdanya pula, “Sepuluh hal termasuk fitroh: Memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq(menghirup air ke hidung), memotong kuku, mencuci sela lipatan jari, mencabuti rambut ketiak, mencukur rambut di sekitar kemaluan, dan istinja”, perowi berkata: “Saya lupa yang kesepuluh, mungkin kumur-kumur”. (HR. Muslim). Berikut ini beberapa point yang sering dianggap sepele oleh kaum muslimin,

Memotong kumis (jangan sampai menutup bibir)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan potonglah kumis-kumis.” (HR. Bukhari, Muslim). Sabdanya pula, “Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya, maka dia bukan termasuk dari (golongan) kami.” (shohih, HR. Tirmidzi). Ibnu Hazm rohimahulloh berkata, “Ada ijma’ yang menetapkan bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot (panjang) adalah fardhu.” (Tahrim Halq Al Liha)

Memelihara jenggot dan tidak memotongnya

Jenggot adalah rambut yang tumbuh di kedua pipi dan dagu. Jenggot merupakan perhiasan laki-laki yang merupakan lambang kesempurnaan dan membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dikatakan demikian sebab perempuan tidak berjenggot. Memeliharanya wajib dan mencukurnya harom, sebab hal ini merubah ciptaan Alloh. Dan perbuatan merubah ciptaan Alloh adalah wangsit dari syaithon, "Akan aku suruh mereka (untuk merubah ciptaan Alloh) lalu mereka merubahnya" (An Nisaa’: 119). Perbuatan ini juga merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) perbuatan orang kafir. Rosululloh bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik, perliharalah jenggot dan potonglah kumis" (HR. Bukhori Muslim). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan hadits-hadits yang shohih dan tidak ada seorang ulama pun yang membolehkannya." (Al Ikhtiyarot Al ‘Ilmiyyah). Jenggot inilah yang merupakan ciri khas para nabi, para sahabat, orang sholih dulu dan sekarang.

Namun sungguh sangat mencengangkan tatkala sebagian dari kaum muslimin mencela syariat yang mulia ini. Mereka menolak perintah ini dengan berbagai alasan yang lebih rapuh ketimbang sarang laba-laba bahkan menghina orang berjenggot dengan menggelari kambing, teroris, Amrozi dan berbagai julukan jelek lain. Allohu akbar! Ketahuilah, perbuatan mencela syariat adalah termasuk salah satu dari pembatal keislaman! Pantaskah seorang muslim bertindak demikian? Dimanakah nilai ketaatan mereka kepada Rosululloh?

Menggosok gigi / siwak

Mengosok gigi sangatlah dianjurkan, selain untuk kebersihan dan kesehatan, bersiwak juga mempunyai nilai ibadah yang sangat diridhai Alloh. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Siwak itu mensucikan mulut dan (mendatangkan) Keridhoan Ar-Robb.” (HR. Ahmad, An Nasai, Bukhori secara mu’allaq). Bersiwak disunnahkan pada beberapa waktu diantaranya setiap kali hendak wudhu, hendak sholat, membaca Al Qur’an, ketika bangun di malam hari dan beberapa waktu lain. Rosululloh bersabda, “Seandainya bukan karena khawatir memberatkan umatku, tentu kusuruh mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (HR. Bukhori, Muslim). Sabdanya pula, “Seandainya bukan karena khawatir memberatkan umat, tentu kuperintahkan mereka bersiwak (pada setiap wudhu).” (HR. Bukhori, Ahmad, An-Nasai). Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Adalah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bilamana bangun malam beliau menggosok giginya dengan siwak.” (HR. Bukhari,Muslim). Bahkan dalam keadaan berpuasa beliau juga bersiwak. Amir bin Robi’ah berkata, “Tidak terhitung saya melihat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersiwak dalam keadaan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi berkata derajad hadits ini hasan). [Buletin At Tauhid / Abu Uzair Boris]

Virus di Tengah Umat

Sunday, August 26th, 2007

VIRUS YANG MEWABAH DITENGAH UMMAT

Sungguh aneh bin ajaib kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini dakwah yang menyerukan kepada tauhid dan mengingatkan pada syirik adalah sudah tidak relevan. Sebab di zaman yang modern seperti ini sudah banyak orang yang mempercayai adanya Tuhan dan sangat jarang ditemui ada orang yang menyembah patung, bintang, matahari, berhala dan sebagainya. Mereka juga mengatakan bahwa sekarang ini kita harus memfokuskan dan memperhatikan bagaimana kita harus melawan orang-orang kafir dan merebut kekuasaan. Pandangan seperti ini muncul karena memang dangkalnya ilmu dan pemahaman yang ada pada orang tersebut, tidak faham apa itu pengertian tauhid dan syirik dengan benar, serta tidak faham dengan inti dakwah setiap rosul. Bukan berarti bahwa melawan orang kafir itu tidak penting. Tidak, sekali-kali tidak! Dengan tulisan ini semoga dapat mendudukkan masalah ini secara benar dan dapat menyadarkan kaum muslimin dari keterlenaannya.

Tauhid bukan sekedar percaya adanya Tuhan

Sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa apabila seorang itu telah mengakui adanya Tuhan, maka dia sudah dikatakan bertauhid. Mereka lupa bahwa ini hanyalah bagian dari tauhid, bahkan hanya bagian kecil darinya. Dan belumlah seseorang itu dianggap bertauhid hanya dengan bagian yang ini saja. Sedangkan bagian tauhid yang lain bahkan yang paling pokok di antaranya justru tidak faham. Setiap orang wajib mengesakan Alloh dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat-Nya. Jika ketinggalan satu saja dari ketiga tauhid tersebut belumlah dia dikatakan sebagai seorang yang bertauhid.

Lihatlah kaum musyrik quroisy, bukankah mereka juga mengakui adanya Alloh, bahkan bukankah mereka juga menyembah Alloh? Kenapa mereka masih diperangi oleh Rosululloh? Alloh berfirman: ”Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak betakwa (kepada-Nya)?”(Yunus: 31).

Syirik bukan sekedar sujud kepada patung

Siyrik adalah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Alloh. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita syirik itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini.

Kita lihat juga kaum musyrik yang diperangi oleh Rosululloh dulu, apakah mereka murni benar-benar menyembah atau sujud kepada berhala dan yang lainnya hanya karena mereka batu dan pohon? Ternyata tidak, Alloh menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya” (Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan akan memerantarai pada Alloh.

Syirik juga tidak terhenti di sini, ada juga syirik dalam ketaatan. Tatkala Rosululloh membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tandingan (tuhan) selain Alloh” (At-Taubah : 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “Tidaklah kami itu menyembah mereka”. Maka Rosululloh menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut mengharamkan, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut menghalalkan?” Maka Adi bin Abi Hatim pun menjawab: “Benar”. Rosululloh berkata: ”Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya harom dengan landasan hawa nafsu? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan hati dan lisan. Alloh berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh” (Al Baqoroh : 165).

Realita yang ada dimasyarakat sekarang ini

Sungguh aneh masyarakat kita sekarang ini, mereka akan begitu sangat marah apabila ada orang non islam yang mempropagandakan agama mereka dan mengajak orang lain kepada agama mereka. Namun pada saat yang sama, dia telah membiarkan dirinya, anak-anaknya dan keluarganya untuk diseret dan dipengaruhi oleh kesyirikan dan dijauhkan dari aqidah yang lurus, yakni dengan membiarkan di rumahnya sebuah televisi yang tiap harinya selalu dijejali dengan acara-cara kesyirikan. Seolah-olah mereka mengatakan: “Mari silakan masuk, ajari dan pengaruhi keluarga kami dengan acara-acara syirik, bid’ah dan maksiat kalian”. Na’udzu billah!! Bukankah ini terjadi karena tidak fahamnya mereka terhadap apa itu syirik, ancaman dan bahayanya? Ataukah merasa juga telah merasa aman dan jauh akan terjatuh di dalamnya?

Anak-anak kita sudah terbiasa disuguhi dengan film tentang peri, hantu, dukun, sihir, jimat-jimat dan film misteri yang penuh kesyirikan. Sementara anak mudanya tenggelam dalam ramalan bintang/zodiak. Sadarlah wahai saudaraku! itu semua adalah termasuk amalan-amalan kesyirikan.

Dengan dalih Budaya dan Adat Istiadat

Lebih ironi lagi, ternyata kita juga hidup disuatu masyarakat yang diantara adat istiadat dan budaya mereka merupakan amalan-amalan kesyirikan. Ketika kita mengingatkan mereka ternyata mereka malah balik menuduh bahwa kita adalah orang yang kaku dan tidak faham terhadap esensi dan transformasi nilai. Namun sayang ketika mereka berusaha untuk dijelaskan dan diajak untuk “sedikit” berpikir, hati mereka sudah diliputi oleh dua penyakit yaitu taqlid (ikut-ikutan) dan ta’ashshub (fanatik). Kalau begitu, bagaimana kebenaran ini akan sampai?

Alloh berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqoroh : 170).

Kita lihat di sana ada acara nyadran, sekaten, ngelarung, sedekah bumi/laut, suronan dan lain-lain, yang mana acara-acara itu di masyarakat kita sudah mendarah daging, bahkan sudah menjadi komoditi bisnis dan mata pencaharian. Sungguh ironi, mereka beralasan bahwa ini adalah budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Allohu akbar !! Inilah alasan yang menjadi jurus pamungkas kaum musyrikin jaman Rosululloh tatkala mulut mereka tidak mampu lagi menjawab hujjah Alloh, Na’udzu billah.

Mengingat akan parahnya keadaan ini, maka sudah menjadi tugas kita semua untuk saling mengingatkan dan terus untuk mengingatkan. “Dan tetaplah beri peringatan, karena peringatan itu memberikan manfaat terhadap orang-orang yang beriman” (Adz-Dzariyat : 55 ). [Buletin At Tauhid / Yusuf Abu Hudzaifah]

MENGEMBALIKAN KEMULIAAN UMMAT

Sunday, August 26th, 2007

MENGEMBALIKAN KEMULIAAN UMMAT

Tidak samar lagi bagi siapa yang mau mengamati kondisi umat Islam sekarang ini niscaya akan mendapati keadaan yang sangat memprihatinkan. Kaum muslimin hidup dalam kesengsaraan, kepedihan, berada di tengah keterpurukan dan mundur dalam hampir seluruh sisi kehidupan. Mereka telah direndahkan dan dihinakan oleh orang-orang kafir, harta mereka dirampas, negeri-negeri mereka diinjak-injak sehingga mereka pun hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan was-was.

Mencari jalan keluar dari kehinaan

Keadaan ummat Islam yang demikian ini telah mengundang semangat bagi sebagian kaum muslimim untuk mengubah dan memperbaiki kerusakan. Hanya saja mereka berbeda-beda cara dalam menanganinya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal ini karena umat Islam terbelakang secara ekonomi atau tertinggal dalam masalah sains dan teknologi atau tidak punya persenjataan modern. Di antara mereka ada yang nekat menceburkan diri dalam sistem politik kafir, berusaha merebut kursi pemerintahan dan kekuasaan. Ada juga yang membentuk gerakan bawah tanah dengan mengatasnamakan jihad kemudian membuat kerusakan dan pengeboman di mana-mana. Ada pula yang berdemonstrasi di jalan-jalan menuntut ditegakkannya kembali daulah Islam.

Subhanalloh, sungguh mereka ini hendak berjuang tetapi tanpa dilandasi ilmu! Padahal jika mereka mau merenungi sejenak hadits Rosululloh tentulah mereka akan mendapati jawaban dan solusi terbaik yang dapat mengentaskan umat Islam dari kehinaan ini. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba), disibukkan oleh peternakan dan pertanian, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian. (shohih, riwayat Abu Dawud)

Dari hadits Rosululloh tersebut maka jelaslah bagi kita bahwa keadaan buruk yang menimpa kaum muslimin dewasa ini disebabkan sangat jauhnya mereka dari ajaran agama, jauh dari kitab Alloh dan Sunnah Rosul-Nya. Mereka disibukkan dengan kehidupan dunia dan melalaikan hak-hak Robb-nya. Kesyirikan yang merupakan dosa terbesar seolah-olah sudah menjadi profesi sehari-hari dan menjadi bagian hidup mereka, ibadah mereka dipenuhi dengn kebid’ahan dan keseharian mereka dijalani dengan bermaksiat kepada Penciptanya. Kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan inilah kotoran-kotoran yang merupakan sebab kehancuran bangunan Islam.

Tashfiyyah dan Tarbiyyah

Karena itu wajib bagi kita memulai langkah dengan mempelajari Islam yang haq sebagaimana jalan yang ditempuh pertama kali oleh Rosululloh dengan men-tashfiyyah (memurnikan) Islam dari kotoran-kotoran yang melekat padanya kemudian kita men-tarbiyyah (mendidik) diri kita dengan mengamalkan Islam yang telah dimurnikan ini. Ibarat gelas yang kotor, maka cucilah dahulu kotorannya baru kemudian diisi air. Demikianlah janji Alloh dalam salah satu firman-Nya,”Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.” ( An-Nuur : 55) [ Buletin At Tauhid / Abu Ibrohim Hakim ]

Bagaimana beriman kepada Alloh

Saturday, August 18th, 2007

                  Bagaimana Kita Beriman kepada Alloh ?

Beriman kepada Alloh adalah rukun iman yang pertama. Rukun ini sangat urgen kedudukannya dalam agama Islam, sehingga wajib bagi kita untuk mengilmuinya dengan benar supaya melahirkan akidah yang benar tentang Alloh Ta’ala. Bukanlah yang dimaksud dengan beriman kepada Alloh itu hanya sekedar keyakinan bahwa Alloh itu ada, atau sekedar yakin bahwa Alloh adalah satu-satunya pencipta, pengatur, yang menghidupkan, mematikan dan memberi rizki bagi alam semesta.

Sungguh sangat ironis sekali dimana pemahaman salah ini malah dipegangi oleh sebagian kaum muslimin yang mengaku sudah paham tentang iman, islam dan tauhid! Kalaulah memang benar apa yang mereka katakan, maka orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rosululloh malah sudah mendahului mereka dalam mengikrarkannya, sebagaimana hal tersebut banyak disitir dalam Al Qur’an. Alloh berfirman, "Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Alloh." Maka katakanlah "Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"(Yunus : 31). Maka dari itu perlu bagi kita untuk menelaah point penting ini semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Dengan memohon taufik dari Alloh kami katakan : Beriman kepada Alloh harus mengandung empat perkara :

Mengimani adanya Alloh

Hal ini dapat dibuktikan dengan fitrah, akal, dalil naqli dan indra. Adapun ditilik dari segi fitrah, setiap manusia mengakui adanya Tuhan tanpa harus berfikir dan belajar. Rosululloh bersabda, "Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi" (HR. Bukhari dan Muslim). Akal kita bisa berfikir bahwa tidaklah seluruh makhluk dulu maupun sekarang kecuali pasti ada yang menciptakan. Mustahil mereka menciptakan diri sendiri karena sebelumnya tidak ada, dan yang tidak ada tidak bisa mencipta. Mereka juga tidak muncul secara kebetulan, karena bagaimana mungkin susunan alam yang seindah dan sangat teratur ini dengan mudahnya dikatakan terjadi secara kebetulan? Alloh berfirman, "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Ath Thur : 35). Dari segi dalil syar’i Seluruh kitab samawi yang diturunkan pasti berbicara tentang adanya Alloh dan berbagai peristiwa yang disaksikan kebenarannya. Ini menunjukkan kitab-kitab tersebut berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sedangkan indera kita lebih mudah untuk membuktikannya diantaranya ialah terkabulnya doa, mukjizat pada Nabi yang diluar kemampuan manusia. Ini tidaklah mungkin berasal kecuali dari Tuhan yang mengutus mereka.

Mengimani sifat rububiyyah Alloh

Yakni kita menyakin bahwa Allohlah yang memiliki hak untuk menciptakan, berkuasa dan memerintah. Keyakinan seperti ini sudah dimiliki oleh kaum musyrikin jaman Rosululloh, bahkan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang sombong yang mereka sendiri ragu terhadap ucapannya. Contoh konkretnya yaitu Fir’aun, yang mengaku sebagai tuhan. Alloh berfirman, "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha Suci Alloh, Tuhan semesta alam" (Al A’raaf : 54) dan "…kepunyaan-Nyalah kerajaan" (Fathir: 13). Lihat pula bagaimana pengakuan kaum musyrikin tentang rububiyyah Alloh: "Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."(Az Zukhruf : 9). Dengan demikian kita ketahui bahwa yang punya kuasa memberikan rizki bukanlah malaikat, Nabi atau dewa fulan, juga yang menguasai dan mengatur berbagai macam urusan bukanlah syaikh fulan, wali fulan sebagaimana keyakinan sebagian orang. Namun hanya Alloh yang memberi rizki, mengatur, menghidupkan dan mematikan.

Mengimani sifat uluhiyyah Alloh

Yaitu hanya Alloh sematalah yang berhak disembah dan diibadahi. Alloh berfirman, "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"(Al Baqarah : 163). Di sinilah letak titik perpisahan antara seorang mukmin dengan seorang musyrik, dimana kaum mukminin hanya menujukan seluruh aktivitas ibadah hanya kepada Alloh baik itu berupa doa, nadzar, sembelihan, haji, sholat dan ibadah-ibadah lainnya.

Adapun kaum musyrikin, walaupun mereka mengakui hak rububiyyah Alloh, mereka mengambil sesembahan yang banyak dan beragam, baik berupa benda-benda mati seperti batu, pohon dan matahari. Atau juga sesembahan dari kalangan malaikat, nabi dan orang shalih yang dijadikan sebagai perantara antara mereka dengan Alloh sebagaimana pembesar kerajaan yang menjadi perantara kepada raja. Dan tidaklah seorang pembesar menjadi perantara bagi raja kecuali karena raja sangat butuh atau sangat takut padanya, sehingga bila ada orang datang minta bantuan raja lewat perantara pembesar maka raja mengabulkannya dengan sebab kedudukan pembesar tadi. Sungguh, yang seperti ini tidak bisa disamakan dengan Alloh!

Para malaikat, nabi dan orang shalih sangat butuh kepada Alloh, mereka berlomba-lomba dengan berbagai amal shalih untuk dekat dengan Alloh. Sedangkan Alloh tidak butuh juga tidak takut pada mereka. Sehingga walaupun kedudukan mereka mulia di sisi Alloh, ini tidak berarti kita boleh mengambil mereka sebagai perantara, melainkan kita langsung meminta pada Alloh. Alasan semacam itulah yang menjadi hujjahnya kaum musyrikin dulu dan sekarang.

Alloh berfirman, "Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya."(Az Zumar : 3). Intinya kita dituntut untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Alloh dan tidak menujukannya kepada selain Alloh, sebagaimana hal ini menjadi tujuan dakwah setiap rosul. Sehingga mereka para rasul Alloh berkata pada kaumnya: "Sembahlah Alloh saja, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq bagimu selain Dia"(Hud : 50)

Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Alloh

Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat Alloh sebagaimana telah ditetapkan Alloh di dalam Al Quran atau telah ditetapkan oleh rosul-Nya di dalam As Sunnah, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Alloh, tanpa tahrif (memalingkan makna dari makna yang semestinya), ta’thil (menolak nama atau sifat Allah), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Alloh berfirman, "Hanya milik Alloh asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" (Al A’raaf : 180).

Demikianlah para pembaca sekalian, keimanan kita kepada Alloh haruslah memuat seluruh empat hal yang di atas, tidak hanya satu atau dua saja. Sehingga kita katakan bahwa keyakinan seseorang bahwa Alloh itu ada ataukah Alloh itu satu-satunya pencipta belum cukup untuk dikatakan telah beriman kepada Alloh, namun juga harus meyakini bahwa Alloh adalah satu-satunya yang berhak disembah dan beriman kepada asma dan sifat Alloh. Semoga Alloh menunjuki kita semua kepada aqidah yang shahih dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim. Hanya kepada Alloh kami mohon pertolongan. Wallohu a’lam bish showab. [Buletin At Tauhid/Abu Yusuf]

Dahsyatnya syirik

Saturday, August 18th, 2007

Dahsyatnya Syirik

Setiap muslim pasti mengetahui bahwa syirik hukumnya adalah haram. Namun apakah kita telah mengetahui hakikat syirik serta seberapa besar tingkat keharaman dan bahayanya?. Boleh jadi ada yang berkata, "Syirik itu haram, harus ditinggalkan!", namun dalam kesehariannya justru bergelimang dalam amalan kesyirikan sedangkan ia tidak menyadarinya. Oleh karena itu ada baiknya kita kupas permasalahan ini agar tidak terjadi kerancuan di dalamnya.

Makna syirik

Alloh memberitakan bahwa tujuan penciptaan kita tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Alloh, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Adz Dzariyat: 56). Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Alloh baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi do’a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, istighatsah (minta pertolongan) dan sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Alloh tidak kepada selain-Nya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala, "Hanya kepadaMu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan." (Al Fatihah: 5).

Barangsiapa yang menujukan salah satu ibadah tersebut kepada selain Alloh maka inilah kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik. Misalnya seorang berdo’a kepada orang yang sudah mati, berkurban (menyembelih hewan) untuk jin, takut memakai baju berwarna hijau tatkala pergi ke pantai selatan dengan keyakinan ia pasti akan ditelan ombak akibat kemarahan Nyi Roro Kidul dan sebagainya. Ini semua termasuk kesyirikan dan ia telah menjadikan orang yang sudah mati dan jin itu sebagai sekutu bagi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Kedudukan Syirik

Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, "Dosa apakah yang paling besar di sisi Alloh?" Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dialah yang telah menciptakanmu." (HR. Bukhori, Muslim).

Maka sudah selayaknya bagi kita untuk berhati-hati jangan sampai ibadah kita tercampuri dengan kesyirikan sedikit pun, dengan jalan mempelajari ilmu agama yang benar agar kita mengetahui mana yang termasuk syirik dan mana yang bukan syirik. Hendaklah kita merasa takut terjerumus ke dalam kesyirikan, karena samarnya permasalahan ini sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, "Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari (jejak) langkah semut." (HR. Ahmad)

Syirik menggugurkan seluruh amal.

Orang yang dalam hidupnya banyak melakukan amal sholeh seperti sholat, puasa, shodaqoh dan lainnya, namun apabila dalam hidupnya ia berbuat syirik akbar dan belum bertaubat sebelum matinya, maka seluruh amalnya akan terhapus. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, "Dan jika seandainya mereka menyekutukan Alloh, maka sungguh akan hapuslah amal yang telah mereka kerjakan." (Al- An’am: 88)

Begitu besarnya urusan ini, hingga Alloh Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu Jika kamu mempersekutukan Alloh, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az Zumar: 65). Para Nabi saja yang begitu banyak amalan mereka diperingatkan oleh Alloh terhadap bahaya syirik, yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa aman dari bahaya kesyirikan?

Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang menyibukkan diri dalam mempelajari masalah tauhid (lawan dari syirik) dan syirik agar bisa terhindar sejauh-jauhnya, serta merugilah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam masalah-masalah yang lain atau bahkan menghalang-halangi dakwah tauhid!!

Pelaku syirik akbar kekal di neraka dan dosanya tidak akan diampuni oleh Alloh Ta’ala.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, "Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (An-Nisa’: 48). Juga firman-Nya yang artinya, "Barangsiapa yang mensekutukan Alloh, pasti Alloh haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun." (Al-Ma’idah: 72).

Orang musyrik haram dinikahi

Hal ini berdasarkan firman Alloh yang artinya, "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran."(Al-Baqarah: 221)

Sembelihan orang-orang musyrik haram dimakan

Alloh Ta’ala berfirman, "Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Alloh ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.(Al-An’am: 121)

Begitu besarnya bahaya syirik, maka sudah selayaknya bagi setiap orang untuk takut terjerumus dalam dosa ini yang akan menyebabkan ia merugi di dunia dan di akhirat. Bagaimana mungkin kita tidak takut padahal Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja takut terhadap masalah ini? Sampai-sampai beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berdoa supaya dijauhkan dari perbuatan syirik. Beliau mengajarkan sebuah do’a yang artinya, "Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari mempersekutukan-Mu padahal aku mengetahui bahwa itu syirik. Dan ampunilah aku terhadap dosa yang tidak aku ketahui" (HR. Ahmad)

Semoga Alloh Ta’ala menjaga kita semua dari kesyirikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.. [Buletin At Tauhid / Ibnu Ali]

Mesti bayar ..

Thursday, August 9th, 2007

Wua….

Setelah keluar dari LAB KPS tercinta jadi ga bisa ngenet
gratis lagi…

Sekarang kalo ngenet mesti bayar… Jadi ga bisa ngenet lama2 ni…

Hua.. hua …

Doain aja cepet dapet kerja, biar bisa ngenet gratis
lagi.. hehehe…

Jogja i’m Coming, Goodbye Semarang

Monday, August 6th, 2007

                            Jogja i’m Coming, Goodbye Semarang

    Setelah 5 tahun menuntut ilmu di SMG, akhirnya aku harus kembali lagi ke YK.. Banyak kenangan tak terlupakan yang aku alami di SMG, dari masa2 ospek, kuliah, praktikum, ngasisteni, KKN sampai TA dan masalah wisuda… Sebenarnya berat juga sih ninggal;in SMG, sama beratnya kayak waktu dulu ninggalin YK…
    Tuk semua temen2ku di SMG.. maafin aku jika ada salah.. Thx tuk semua bantuan yang telah kalian berikan dan persahabatan diantara kita

Kesempurnaan Islam

Wednesday, August 1st, 2007

Kesempurnaan Islam

 
 
Saat itu Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam  sedang melaksanakan haji Wada’ (perpisahan), yaitu
haji pertama dan terakhir yang dilakukan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi
wa sallam
. Pada waktu itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan,
Ambilllah manasik haji dariku”. Ini
menunjukkan tanda-tanda perpisahan antara Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
 dengan para sahabatnya.

 Hal itu lebih dikuatkan lagi dengan turunnya
ayat terakhir dari Al Qur`an di mana Alloh berfirman, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu
Dien (agama/jalan hidup)-mu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah
Aku ridhoi Islam sebagai  dien-mu
.”
(Al Maidah: 3)

Makna kesempurnaan Islam

 Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahulloh
berkata, “Ini merupakan nikmat Alloh terbesar atas ummat ini di mana Alloh
telah menyempurnakan Islam bagi mereka. Sehingga tidak membutuhkan agama selain
Islam dan tidak membutuhkan nabi selain Nabi mereka -semoga Alloh melimpahkan sholawat
dan salam kepadanya-. Dan karena itulah Alloh menjadikan Nabi Muhammad sebagai
nabi terakhir dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada yang
halal kecuali yang dihalalkan oleh Rosululloh dan tidak ada yang haram kecuali
yang diharamkannya. Pelaksanaan agama tidak diakui kecuali dengan apa yang
telah disyari’atkannya. Setiap berita yang berasal darinya adalah kebenaran
yang wajib dibenarkan, tidak boleh didustakan dan ditentang.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’dy berkata,
Pada hari ini telah Aku sempurnakan
untukmu Dien-mu …
dengan pertolongan yang sempurna, dan penyempurnaan
syari’at baik dhohir maupun batin, masalah ushul
(pokok) maupun furu’ (cabang). Dengan demikian cukuplah Al Qur`an dan As Sunnah
sebagai pedoman dan petunjuk untuk setiap permasalahan agama ini. Maka anggapan
orang yang berlebih-lebihan dalam beragama yang menyangka bahwa manusia
sekarang ini harus mempelajari ilmu-ilmu kalam dan ilmu selain Al Qur`an dan As
Sunnah -untuk memahami aqidah dan hukum-hukum agama mereka- merupakan suatu
kebodohan dan kebatilan. Terlebih lagi ketika mereka menyangka bahwa agama ini
tidak akan sempurna tanpa ilmu kalam dan yang sejenisnya, sungguh ini adalah
kejahatan dan pembodohan terhadap Alloh dan Rosul-Nya.” (Taisir Karim Ar Rahman)

 Thoriq bin Syihab berkata : “Seorang
Yahudi datang kepada ‘Umar bin Khaththab dan berkata : “Wahai Amirul Mukminin,
kalian membaca satu ayat dalam kitab kalian yang kalau ayat itu turun kepada
kaum Yahudi, maka kami akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya.” ‘Umar
berkata: “Ayat yang manakah itu?” Si Yahudi menjawab: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…” Maka
‘Umar berkata: “Demi Alloh! Sungguh aku lebih mengetahui hari dan saat ketika
ayat itu diturunkan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu pada sore hari ‘Arofah di hari Jum’at. (Shohih Bukhari)

Mensyukuri nikmat Islam

 Jelaslah bahwa ini merupakan nikmat
yang besar dan wajib disyukuri. Alloh berfirman: “Sungguh jika kalian
bersyukur (terhadap nikmat-Ku) niscaya Aku menambah (nikmat-Ku) kepadamu, dan
jika kalian  kufur (terhadap nikmat-Ku), niscaya
azab-Ku sangat  pedih.”
(Ibrohim 7).
Mensyukuri nikmat Islam yaitu dengan mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan
Islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi
wa sallam
.

 Konsekuensi dari ayat yang agung ini
adalah bahwa bid’ah tidaklah
mendapatkan tempat sedikitpun dalam urusan agama yang suci ini. Bid’ah
adalah perkataan atau perbuatan yang tidak ada contoh / tuntunannya dari Rosululloh
dan para sahabatnya dalam masalah agama. Contohnya : mengatakan bahwa Alloh
tidak punya sifat, atau mengkhususkan bacaan

surat

Yasin untuk orang yang sudah meninggal,
dan banyak lagi yang lainnya. (Lihat Risalah Bid’ah oleh Ustadz Abdul
Hakim bin Amir Abdat)

 Dikatakan demikian karena kebid’ahan
yang timbul dalam agama ini merupakan penolakan terhadap kesempurnaan Islam.
Apa artinya Firman Alloh tentang kesempurnaan Islam jika ternyata di kemudian
hari (zaman sekarang) kita masih perlu mengerjakan suatu ibadah yang tidak ada
contohnya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam? Kalau memang benar
Islam belum sempurna mengapa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  diwafatkan? Bukankah tidak ada Nabi dan Rosul
lagi setelah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ? Lantas apa
yang mendorong orang berbuat bid’ah?

 Islam adalah agama yang sempurna.
Masalah apapun yang ada didalam kehidupan makhluk, Islam telah memberikan
solusinya. Misalkan saja kehidupan manusia, dari bangun tidur sampai akan tidur
kembali, dari keluar rumah sampai masuk kembali, dari masuk wc sampai keluar
wc, semua diatur dalam Islam.

Meraih kebahagiaan dunia akhirat dengan iman dan takwa

 Jika demikian maka sungguh sangat
rugi orang-orang yang berpaling dari syari’at Islam, keseluruhan maupun sebagian
dan sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa menjalani kehidupannya dengan
menyesuaikan terhadap aturan-aturan syari’at. Keberuntungan yang akan diraih
oleh orang-orang yang senantiasa berada dalam bingkai syari’at bukan hanya
kelak di akhirat, bahkan di dunia pun Alloh menjanjikannya. Sebagaimana
firman-Nya :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(Al A’raf: 96)

 Syaikh As Sa’dy berkata dalam kitab
tafsirnya, …Seandainya para penduduk negeri itu mau beriman dengan hati-hati
mereka kemudian amal mereka membenarkannya, mereka melaksanakan ketakwaan
kepada Alloh secara lahir maupun batin dengan meninggalkan seluruh perkara yang
diharamkan Alloh maka niscaya Alloh akan membukakan bagi mereka barokah dari
langit dan bumi….(Taisir Karim Ar Rahman)

Masuklah ke dalam Islam secara kaffah 

 Maka kesimpulannya adalah
marilah kita mensyukuri nikmat yang agung ini dengan cara masuk ke dalam Islam
secara kaffah (menyeluruh), bukan juz’iyyah (sebagian saja) karena itu
merupakan tipu daya setan. Alloh Ta’ala  berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh
dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah setan. Sesungguhnya setan itu
adalah musuhmu yang nyata.”
(Al
Baqarah: 208).

 Syaikh As Sa’dy berkata
dalam kitab tafsirnya, …Inilah perintah dari Alloh agar orang-orang yang beriman
masuk ke dalam Islam secara menyeluruh
yakni keseluruhan syari’at agama tanpa meninggalkan sedikitpun darinya, dan
supaya mereka tidak termasuk orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhan. Sehingga apabila syari’at itu sesuai dengan hawa nafsunya maka
dilakukannya, sedangkan apabila syari’at tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka
ditinggalkannya. Tetapi yang wajib ialah menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti
aturan agama…(Taisir Karim Ar
Rahman
). Wallohu A’lam bish showaab. [Buletin At Tauhid/Abu Yazid]