Masalah seputar Dakwah
Salah Satu Syubhat Seputar Dakwah dan Jawabannya
Pertanyaan kepada Syaikh Abul Hasan
Mushthafa bin Ismail As-Sulaimani, dalam Silsilah Fatawa
Syar’iyyah no. 208.
Pertanyaan: Kita
melihat beberapa da’i dan pengikut mereka duduk-duduk atau
bermajlis bersama orang-orang yang menyeru selain Allah,
dan menyembelih kepada selain Allah atau orang-orang yang
mengerjakan syirik besar. Mereka tidak mengingkari orang
yang mengerjakan syirik ini. Jika kami menegur mereka: "Mengapa
kalian tidak menerangkan kepada mereka hukum syar’i
tentang amalan mereka dengan penuh hikmah dan disertai
pengajaran yang baik ?" Mereka akan menjawab: "Kami
khawatir mereka akan lari dari kami, dengan demikian,
berarti kami telah memecah belah shaf-shaf kaum muslimin.
Kemudian mereka juga berkata: Kami diam dan tidak
menjelaskan dan mengingkari perbuatan mereka dengan tujuan
untuk menyatukan kaum muslimin. Karena, ketika Musa ‘alaihissalam
mengingkari perbuatan Harun ‘alaihissalam yang
diam terhadap amalan Bani Israil ketika mereka menyembah
patung anak lembu, Harun berkata kepada Musa:
{
ϻ̳ K³jM Á» Ë ½ÎÖAjmG ÏÄI ÅÎI O³j¯ ¾Ì´M ÆC OÎra ÏÃG}
Aku Khawatir bahwa kamu akan berkata
kepadaku: Kamu telah memecah belah antarwa Bani Israil dan
kamu tidak memelihara amanatku.
Apakah ucapan mereka itu benar ? Apakah
dalil mereka dengan ayat itu telah sesuai pada tempatnya
atau tidak ?
Jawab:
Kalau kita ingin mengetahui
pendalilan mereka itu. Maka, mari kita merujuk kembali
pada konteks ayat pada surat Al-A’raf dan surat Thaaha.
Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat
150-151:
Á¸Ii j¿C
ÁN¼V§C Ðf¨I Å¿ ÏÃÌÀN°¼a BÀn×I ¾B³ B°mC ÆBJz« ɿ̳ Ó»G ÓmÌ¿ ©Ui BÀ» Ë}
pCjI haC Ë `AÌ»ÞA Ó´»C Ë
{ ÅÎÀYAj»A ÁYiC OÃC Ë ¹NÀYi ϯ BļaeA Ë
ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li ¾B³……………
Dan tatkala Musa telah kembali kepada
kaumnya dengan marah dan sedihhati berkatalah ia: "Alangkah
buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah
kepergianku ! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu
?" Dan Musa melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang
(rambut) kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya.
Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini
telah menganggapku lemah dan hampir-hampir membunuhku,
sebab itu jangnlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira
melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam
golongan orang-orang yang zalim". Musa berdoa: "Ya Tuhanku,
ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam
rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara
para penyayang".
Dan firman Allah dalam surat Thaaha ayat
88-94:
Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka
(dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara[1],
maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa,
tetapi Musa telah lupa". Maka apakah mereka tidak
memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat
memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi
kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi
manfaat. Dan sesungguhnya Narun telah berkata kepada
mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesunggyhnya kamu hanya
diberi cobaandengan anak lembu itu dan sesungguhnya
Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku
dan taatilah perintahku". Mereka menjawab: "Kami akan
tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
kepada kami". Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang
menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga)
kamu tidak mengikuti aku ? Maka apakah kamu telah (sengaja)
mendurhakai perintahku ?". Harun menjawab: "Hai putera
ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan kepalaku;
sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku):
"Kamu telah memecah belah antara Baani Israil dan kamu
tidak memelihara amanatku".
Barang siapa yang merenungi keadaan Harun ‘alaihissalam
seperti yang tersebut dalam ayat tadi, maka akan jelas
diketahui bahwa keadaannya sangat jauh berbeda dengan
keadaan orang-orang seperti dalam pertanyaan diatas.
Perbedaan itu ada dalam beberapa segi:
1.
Sesunguhnya Harun ‘alaihissalam telah
menasehati para penyembah patung anak lembu itu. Beliau
telah mengingatkan mereka akibat yang akan menimpa mereka
disebabkan amalan mereka tersebut. Ini sangat jelas
diterangkan dalam Al-Quran. Seperti firman Allah:
{ ½J³ Å¿ ÆËiBÇ ÁÈ» ¾B³ f´» Ë }
Dan sungguh Harun telah berkata kepada
mereka sebelumnya.
Yaitu, sebelum pulangnya Musa.
{ ÉI ÁNÄN¯ BÀÃG }
Sesungguhnya kamu telah diberi cobaan
dengan itu .
Ada yang mengatakan bahwa kata ganti dalam
ayat itu bermakna patung anak lembu dan ada pula yang
mengatakan bahwa itu adalah Samiri.
{ ÅÀYj»A Á¸Ii ÆG Ë }
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang
maha Pemurah.
Yaitu, Tuhan yang wajib kalian esakan
dalam ibadah. Disebutkan dengan lafal Ar-Rahman agar
mereka tidak putus asa untuk bertaubat kepada Allah.
{ Ðj¿C ĄÎ?C Ë ÏĄ̃JMB¯ }
Maka ikutilah aku dan taatilah
perintahku.
Yaitu, mengikuti beliau untuk mengesakan
Allah dalam segala peribadatan dan meninggalkan peribatan
kepada selain-Nya.
{ ÓmÌ¿ BÄλG ©UjÍ ÓNY Åΰ·B§ Éμ§ `jJà Ż AÌ»B³ }
Mereka menjawab: "Kami akan tetap
menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
kepada kami"
Yaitu, Kami akan tetap pada keadaan kami
untuk menyembah patung anak lembu sampai Musa pulang.
Apakah ia menyetujui atau mengingkari perbuatan kami ini.
Coba perhatikan penjelasan di atas !
Apakah ada nasiahat dan kelembutan serta penjelasan yang
lebih banyak lagi daripada yang telah dilakukan oleh Harun
‘alaihissalam ?
2.
Sesungguhnya Harun ‘alaihissalam
setelah menjelaskan apa yang menjadi kewajibannya kepada
kaumnya, dan beliau melihat pembangkangan dan kelancangan
mereka terhadapnya, dan Harun ‘alaihissalam merasa
takut akan tertimpa sesuatu terhadap dirinya. Kemudian,
beliaupun diam.
Ini telah dijelaskan dalam cuplikan ayat:
{ÏÃ̰¨zNmA ÂÌ´»A ÆG }
Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.
Maksudnya, karena sedikitnya orang yang menolongku dan
kelancangan mereka terhadap diriku
{ÏÄÃ̼N´Í AËeB· Ë }
dan hampir saja mereka membunuhku.
Ibnul ‘Arabi telah berkata dalam kitab Ahkamul Quran
(2/ 793): "Ayat ini menjadi dalil bahwasanya orang
yang khawatir dibunuh ketika mencegah kemungkaran, agar
diam."
3.
Firman Allah yang menceritakan penuturan Harun:
{ÕAf§ÞA ÏI OÀrM ݯ}
Maksudnya, janganlah engkau membuat
orang yang menyembah patung anak sapi itu gembira karena
engkau mencelaku. Ini menunjukkan bahwasanya Harun
memusuhi para penyembah patung itu.. Berbeda dengan orang
yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, mereka terkadang
muncul rasa cinta kepada orang-orang yang berbuat syirik
besar, bahkan mungkin saja mereka membela dan menyepelekan
perbuatan kesyirikan, bahkan mungkin saja orang yang
berbuat syirik menganggap benar perbuatan berdoa kepada
selain Allah dengan dalih, bahwa amalan itu tidak
dibungkam dan tidak dicegah.
Sedangkan Harun ‘alaihissalam, sangat jauh berbeda
dengan mereka. Beliau telah berkata seperti yang
difirmankan Allah:
{ÅÎÀ»B¤»A ÂÌ´»A ©¿ Ïļ¨VM Ü Ë ÕAf§ÞA ÏI OÀrM ݯ }
Jangnlah kamu menjadikan musuh-musuh
gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke
dalam golongan orang-orang yang zalim.
Harun ‘alaihissalam telah menganggap para penyembah
patung itu termasuk golongan orang-orang zhalim.
4.
Telah banyak para ulama tafsir yang menjelaskan
bahwasanya Harun ‘alaihissalam telah berusaha keras
untuk mengingkari perbuatan penyembah patung anak lembu.
Seperti Abu Hayyan dalam Al-Bahrul Muhith (6/ 253),
Qummi An-Naisaburi dalam Tafsir Gharaibil Quran (4/
567), Al-Ulwusi dalam Ruhul Ma’ani (6/ 101), dan
Muhammad Rasyid dalam Al-Manar (9/ 209).
Dan diantara para mufassir ada yang menyatakan bahwasanya
Harun ‘alaihissalam belum mengingkari perbuatan
Bani Israil yang menyembah patung anak lembu. Seperti
dalam Fathul Qadir (2/ 248), dan Al-Mawardi dalam
An-Nukat wal ‘Uyun (3/ 421).
Barang siapa yang berkata seperti ini maka ia telah
menyelisihi ayat Al-Quran yang jelas menyatakan;
{……..ÉI ÁNÄN¯ BÀÃG Ͽ̳ BÍ ½J³ Å¿ ÆËiBÇ ÁÈ» ¾B³ f´» Ë
}
Dan sesungguhnya Harun ‘alaihissalam telah berkata
kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesunggyhnya kamu
hanya diberi cobaandengan anak lembu itu……..
Apabila ditanyakan: Apabila Harun ‘alaihissalam
telah menunaikan kewajibannya, yaitu mencegah kemungkaran.
Jadi, mengapa Musa ‘alaihissalam menarik kepala
Harun ‘alaihissalam ?
Jawabannya: Musa ‘alaihissalam
mengira Harun ‘alaihissalam telah lalai menunaikan
perintahnya ketika Musa ‘alaihissalam meminta Harun
‘alaihissalam untuk menggantikannya memimpin Bani
Israil. Dalam Al-Quran disebutkan ucapan Musa ‘alaihissalam
kepada Harun ‘alaihissalam:
{ ÅÍfn°À»A ½ÎJm ©JNM ÜË \¼uC Ë Ï¿Ì³ ϯ ÏݼaA }
"Gantikanlah aku dalam (memimpin)
kaumku, dan perbaikilah[2],
dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang
membuat kerusakan."
Oleh karena itu Musa ‘alaihissalam
menjadi marah dan membuatnya sedih ketika melihat kaumnya
melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka akan binasa.
Akan tetapi, ketika Harun ‘alaihissalam menjelaskan
kepada Musa ‘alaihissalam yang sesungguhnya,
bahwasanya ia khawatir akan dibunuh oleh kaumnya dan
beliau sungguh telah berijtihad untuk memperbaiki keadaan
Bani Israil dengan nasehat dan bersikap lemah lembut.
Setelah mendengar penjelasan Harun tersebut Musa ‘alaihissalam
memaafkan dan meridhainya. Kemudian Musa berkata:
{ ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li }
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku."
Yaitu, Ampunilah aku atas perbuatanku
terhadap saudaraku, Harun. Dan Ampunilah saudaraku, Harun
jikalau ia telah lalai ataupun tersalah dalam berijtihad
di saat memimpin kaumnya.
{ ÅÎÀYAj»A ÁYiC OÃC Ë ¹NÀYi ϯ BļaeA Ë }
dan masukkanlah kami dalam rahmat Engkau,
Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.
Jika dikatakan – oleh orang yang
disebutkan dalam soal –: Sesungguhnya ucapan Musa:
{ ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li }
"Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku", menunjukkan bahwasanya Harun telah bersalah, dan
kesalahannya itu karena ia tidak mengingkari perbuatan
Bani Israil yang menyembah patung anak lembu.
Jawab: Dari pernyataan kalian itu, dapat
diambil dua persoalan — tidak ada yang ketiganya –.
1.
Telah benar sikap Harun tidak mengingkari perbuatan
Bani Israil yang menyembah patung anak lembu,– sebagaimana
dalil kalian yang tidak mau mencegah kemungkaran, seperti
tersebut dalam pertanyaan–, Jikalau memang perbuatan
Harun itu benar, mengapa kalian tadi menyatakan bahwasanya
Harun telah bersalah ?
2.
Harun benar-benar telah salah karena tidak mencegah
perbuatan Bani Israil yang menyembah patung anak lembu.
jikalau memang demikian, mengapa kalian berdalil dengan
kesalahan Harun untuk membenarkan perbuatan kalian ?
Apakah seseorang akan menjadikan tauladan orang yang
bersalah ???
Abul Mazhfar As-Sam’ani berkata dalam
Tafsirul Quran (3/ 350-351) ketika menafsirkan ayat:
{Ðj¿C OÎv¨¯C}
Maksudnya adalah, menyelisihi perintahku .
Jika ada yang berkata: Apakah kalian
mengatakan bahwasanya Harun menyelisihi Musa terhadap apa
yang diminta oleh Musa ? Dan Harun bersikap basa-basi
serta menyepelekan perbuatan peyembah patung anak lembu,
dan tidak bersikap tegas serta sungguh-sungguh untuk
mencegah perbuatan mereka ??
Jawabannya: Sesungguhnya Musa tidak
meminta kepada Harun kecuali hanyalah untuk menggantikan
Musa dalam memimpin kaumnya, dan agar Harun bersikap baik
dengan mereka. Maka Harun berpendapat untuk tidak
memerangi mereka, dan itu lebih baik menurut Harun.
Sedangkan Musa berpendapat untuk memerangi mereka dan itu
labih baik menurutnya. Ini hanyalah pendapat mujtahid.
Menyelisihi pendapat mujtahid tidaklah tercela. Hanyasanya
Musa mencela Harun, karena Harun tidak memerangi para
penyembah patung itu. Seandainya pada saat itu Musa berada
dalam posisi seperti Harun maka ia akan memerangi mereka.
Maka. "Mengapa engkau tidak memerangi mereka ?" Tanya Musa.
–Sekian perkataan Abul Mazhfar–.
Para ulama telah berselisih pendapat tentang maksud firman
Allah:
{ŨJNM ÜC }
(Apa yang menghalangimu Sehingga) kamu
tidak mengikuti aku ?
Ada dua pendapat:
1.Ada yang mengatakan: Maksudnya, engkau
berserta orang-orang yang beriman bersamamu serta yang
mengingkari para penyembah patung, agar mengikutiku ke
bukit Thuur.
2.Ada yang mengatakan: Maksudnya,
mengikutiku agar engkau beserta orang yang mentaatimu
memerangi orang-orang yang berbuat maksiat.
Para mufassir telah berpendapat dengan
kedua pendapat ini.
At-Thabari dalam Tafsirnya (9/ 204)
merajihkan pendapat yang pertama. Karena, telah ditetapkan
dengan dalil bahwasanya Harun ‘alaihissalam telah
melarang Bani Israil dari penyembahan patung.
Dari dua pendapat di atas, para mufassir
juga berselisih pendapat tentang maksud firman Allah:
{
ϻ̳ K³jM Á» Ë ½ÎÖAjmG
ÏÄI ÅÎI O³j¯ ¾Ì´M ÆC OÎra ÏÃG }
sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu
akan berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah belah antara
Baani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".
Orang yang berpendapat dengan pendapat
pertama tadi mengatakan: Maksud ayat tersebut adalah,
Sesungguhnya aku khawatir bila aku menemuimu di bukit
Thuur dengan sebagian orang dari Bani Israil dan aku
tinggalkan sebagiannya lagi engkau akan berkata: "Kamu
telah memecah belah antara Bani Israil".
Yang berpendapat dengan pendapat kedua
mengatakan: Maksud ayat tersebut adalah, Aku khawatir bila
aku memerangi para penyembah patung, maka bani Israil akan
terpecah menjadi beberapa kelompok. Yaitu satu kelompok
bersamaku dan satu kelompok menjadi musuhku, dan kelompok
lain berlepas diri dari kedua kelompok pertama. Dengan
demikian berarti aku telah memecah belah bani Israil dan
tidak mengerjakan perintahmu untuk memperbaiki keadaan
mereka.
Coba lihat kitab Al-Bahrul Muhith, karya Abu
Hayyan (6/ 254); kitab Al-Muharrirul Wajiz, karya Ibnu ‘Athiyyah, (10/ 80); Tafsir Ath-Thabari
(6/ 229), (9/ 203-204); kitab At-Tashil, karya Ibnu Juzayi Al-Gharnathi (3/ 37); kitab An-Nukat
wal ‘Uyun, karya Al-Mawardi (3/ 420); kitab
Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi (5/ 317); kitab,
Al-Wajiz, karya Al-Wahidi (2/ 703); kitab
Al-Futuhatul Ilahiyyah, karya Al-Jamal (5/ 97);
kitab Ruhul Ma’ani, karya Al-Ulwusi, (9/
367).
Beberapa ulama mufassirin berdalil dengan
firman Allah yang menyebutkan penuturan penyembah patung
anak lembu untuk membenarkan pendapat yang dirajihkan oleh
At-Thabari:
{ ÓmÌ¿ BÄλG ©UjÍ ÓNY Åΰ·B§ Éμ§ `jJà Ż AÌ»B³ }
"Kami akan
tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali
kepada kami"
Para mufassir
mengatakan Sesungguhnya Harun meminta kepada mereka untuk
menemui Musa, maka mereka mengucapkan
"Kami akan tetap menyembah patung anak
lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami"
Sebagian mufasir mengatakan bahwasanya Harun belum
bersikap tegas dan berlebihan dalam mengingkari perbuatan
Bani Israil itu. Oleh karena Itu, Musa mengingkari sikap
Harun tersebut. Lihat kitabnya Al-Mawardi, An-Nukat wal
‘Uyun (3/ 420).
Yang nampak dengan jelas maksud dari sikap tegas dan
berlebihan di sini adalah: Memerangi mereka. Ini seperti
yang disebutkan sebagian ulama ahli Tafsir.
Ada yang mengatakan pula: Sesungguhnya
Harun tidak memutuskan suatu keputusan terhadap Bani
Israil, karena beliau menunggu kepulangan Musa. Sebab,
Musa-lah yang memegang urusan Bani Israil.
Wallahu A’lam.
Kesimpulannya:
Dimanakah bandingannya antara
Harun ‘alaihissalam dengan orang-orang yang
disebutkan dalam soal ?!!!!!
Tidak boleh mengatakan bahwasanya
merupakan bentuk hikmah dalam berdakwah ialah tidak
mengingkari kemungkaran jikalu akan menyebabkan perpecahan.
Karena, sesungguhnya kita –Alhamdulillah– menyeru
ke jalan Allah dengan hikmah dan penjelasan yang jelas
dengan disertai lemah lembut. Bukanlah disebut hikmah
apabila sering menyembunyikan kebenaran atau bahkan
menyembunyikannya untuk selamanya. Jikalau para da’i
tidak menjelaskan bahaya syirik akbar selama
bertahun-tahun, maka persatuan yang bagaimanakah yang
diharapkan dari diamnya itu ?
Tidakkah kalian mengetahui perjalanan
siroh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam
menjelaskan kebenaran ?
Tidakkah kalian mengetahui bagaimana
petunjuk para salafus saleh dalam membela aqidah Ahlus
Sunnah wal Jamaah ?
Kita telah mendengar orang yang mengatakan
bahwa menyibukkan diri dengan dakwah sepaerti itu adalah
menyibukkan diri dengan qusyur (kulit)[3].
Sangat kita sayangkan. Kita telah melihat
banyak da’i yang menyiarkan kejelekan pemerintah muslimin
di atas mimba-mimbar. Kita juga menyaksikan mereka
mengerahkan massa untuk berdemonstrasi terhadap pemimpin
mereka. Tentu saja kita tidak ingin membenarkan perbuatan
orang-orang yang telah menyimpang dari jalan yang lurus –meskipun
mereka bermaksud baik ataupun bermaksud jahat–.
Akan tetapi, apakah kalian tidak merasa
heran terhadap orang-orang yang mengatakan: "Kami khawatir
apabila kami mengingkari perbuatan orang yang melakukan
syirik akbar akan menyebabkan kaum muslimin lari dan juga
akan memecahkan persatuan kaum Muslimin”.
Akan tetapi, dari arah lain kita melihat
mereka menyelinap dari pintu fitnah dan penyebab
perpecahan yang lebih luas lagi. Sesungguhnya
menghantamkan kaum muslimin dengan pemimpin mereka;
menyebabkan mengalirnya darah kaum muslimin; serta
tercabutnya keamanan dari suatu negeri, melahirkan fitnah
(bencana) dan perpecahan yang lebih dahsyat.
Semua kejadian ini tidak lagi samar bagi
seorangpun. Coba tanyakan kepada sejarah dan
kejadian-kajadian yang terjadi sehari-hari ! Apakah yang
telah menimpa kaum muslimin dibalik pengerahan massa untuk
berdemonstrasi terhadap penguasa ???????
Allahu Musta’an
Maraji’:
-
Terjemahan Al-Quran
2.
Silsilah Fatawa Syar’iyyah no. 208, Syaikh Abul
Hasan Mushthafa bin Ismail As-Sulaimani