Adab Makan

January 25th, 2008 by yanto82dr

Adab-adab makan

 Islam adalah agama yang
sempurna sampai-sampai cara makan pun diatur.
Adapun beberapa
adab makan yang diajarkan Nabi antara lain :

Membaca ‘Bismillah’ sebelum makan

            Rosululloh bersabda, “Berkumpullah pada
makanan kalian dan sebutlah nama Alloh atasnya niscaya makanan itu akan
diberkahi untuk kalian.”
(Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).            
Tidak membaca ‘Bismillah’ pada makanan akan menghalangi barakah
pada makanan itu. Bahkan syaithon (Semoga Alloh melindungi kita darinya) ikut
serta memakan makanan itu, sebagaimana disebutkan dalam Shohih Muslim
bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya syaithon akan menguasai makanan jika
tidak disebut nama Alloh.”

Imam Nawawi menjelaskan tentang adab
membaca ‘Bismillah’ dan hukumnya. Beliau berkata, “Para ulama
bersepakat disunahkannya membaca basmalah sebelum makan. Jika seseorang tidak
membaca basmalah sebelum makan entah karena sengaja, lupa atau adanya
penghalang lain, lalu teringat ketika makan, maka dianjurkan untuk mebaca : ”Bismillahi
fii awwalihi  wa akhirihi
” (Dengan nama Alloh diawal dan diakhir makan).

Menggunakan tangan kanan dan mengambil yan terdekat

Nabi bersabda, "Wahai anak kecil bacalah bismillah,
makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari yang terdekat"
(HR.
Bukhori dan Muslim)

Makan berjama’ah

            Dari Wahsyi bin harbin, bahwasanya para
sahabat Nabi berkata, “Wahai Rosululloh kami makan tetapi tidak kenyang, Rosululloh
bertanya, ’Barangkali kalian makan sendiri-sendiri?’ maka para sahabat
menjawab ’benar’, Rosululloh bersabda, ’Berkumpullah pada makanan
kalian, sebutlah nama Alloh niscaya makanan kalian akan di berkahi.”
(Abu
Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

Faedah dari hadits ini yaitu rasa cukup
akan timbul dari barokahnya berkumpul pada makanan dan semakin banyak orang
yang berkumpul pada makanan maka bertambah banyak pula barakahnya.

Makan dari tepi makanan

Ibnu Abbas berkata: Rosululloh bersabda, “Barakah
itu turun ditengah makanan, maka makanlah dari tepinya dan janganlah makan dari
tengahnya.”
  Dalam hadits ini  Rosululloh mengajarkan kepada kaum muslimin
ketika makan, hendaknya mereka memulai  makan dari tepi-tepinya. Yang demikian berlaku
umum bagi yang makan sendirian atau bersama orang lain.

Menjilati jari-jemari sesudah makan, membersihkan piring
bekas makanan dan mengambil makanan yang terjatuh.

 Dalam Shahih Muslim
disebutkan bahwasanya Rosululloh jika usai makan suatu makanan beliau menjilati
tiga jarinya yang dipakai untuk makan, dan beliau bersabda, “Jika makanan
salah seseorang kalian jatuh hendaklah dibersihkan dari kotoran lalu hendaknya
makanan itu dimakan dan janganlah membiarkan makanan itu untuk syaithon.”

            Beliau juga memerintahkan kita agar kita
membersihkan piring. Beliau bersabda, ”Sesungguhnya kalian tidak mengetahui
di bagian manakah makanan kalian diberkahi.”
Di dalam Shahih Muslim dari
Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, ”Jika salah seorang diantara kalian
makan hendaknya menjilati jari-jemarinya, karena sesungguhnya ia tidak
mengetahui dibagian mana barakah itu."

Tidak makan sambil berdiri

 Dari Anas rodhiyallohu
‘anhu
, bahwasanya Rosululloh melarang seseorang minum dengan berdiri.
Qotadah bertanya, "Bagaimana dengan makan?" Anas menjawab, "Hal
itu lebih jelek dan lebih keji"
(HR.
Muslim)

Imasn Kepada Alloh SWT

January 25th, 2008 by yanto82dr

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

 Kitab-kitab yang Alloh turunkan kepada hamba-hambaNya merupakan ni’mat Alloh yang sangat besar dan wajib
untuk disyukuri.
Karena dengan diturunkannya
kitab-kitab tersebut, manusia dapat mengetahui
siapakah Alloh, apa sajakah
hak-hak Alloh, dan berbagai macam
kewajiban yang harus ditunaikannya. Namun betapa banyak manusia yang tidak memahami hakekat keimanan kepada kitab-kitab Alloh. Padahal ini merupakan
salah satu rukun (pondasi) iman seperti yang Rosululloh kabarkan,"…hendaknya engkau
beriman kepada Alloh, kepada malaikatNya,
kitab-kitabNya, kepada
para rosulNya, kepada hari akhir,
dan beriman kepada takdir Alloh
yang baiknya maupun yang buruknya…"
(H.R. Muslim). Bagaimanakah hakekat
keimanan yang benar kepada kitab-kitabNya?

Makna beriman kepada
Kitab-kitab Alloh

 Seseorang dikatakan beriman kepada kitab-kitab Alloh, tatkala dia membenarkan dengan penuh keyakinan,
baik secara global maupun secara rinci,
bahwa Alloh memiliki kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hambaNya yang di dalamnya terdapat kebenaran yang nyata, cahaya dan petunjuk
yang jelas bagi manusia, dan bahwasanya
kitab-kitab tersebut adalah kalam (perkataan)
Alloh yang Ia firmankan dengan sebenarnya, sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.

 Adapun beriman kepada kitab-kitab Alloh mencakup tiga perkara : Pertama, mengimani bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Alloh. Kedua, mengimani kepada
rincian nama-nama kitab tersebut sebagaimana yang telah Alloh sebutkan.
Ketiga, mempercayai berita-berita yang benar dari kitab-kitab
tersebut sebagaimana pembenaran kita kepada Al Quran.

Beriman kepada Kitab-kitab
secara rinci

 Kita wajib
beriman secara rinci kepada kitab-kitab
yang telah Alloh sebutkan nama-namanya, yakni Al Quran dan kitab-kitab yang lain yaitu :

Shuhuf Ibrohim dan Musa alaihimas salam. "Sesungguhnya ini
benar-benar terdapat dalam shuhuf (lembaran-lembaran) yang dahulu, (yaitu)
shuhuf Ibrohim dan Musa".
(Al A’la :18 – 19)

Taurat, kitab yang Alloh turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. "Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya
(yang menerangi)…"
(Al Maidah
: 44)

Zabur, kitab yang Alloh turunkan kepada Nabi Daud ‘alaihis salam. "…dan
Kami berikan Zabur kepada Daud".
(An Nisa :163)

Injil, kitab yang Alloh turunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam

"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi
Bani Isroil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yakni Taurat.
Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil …"
(QS. Al Maidah : 46)

Kitab-kitab yang terdahulu sudah diubah-ubah

 Alloh mengabarkan
di dalam Al Quran bahwa ahli
kitab, yakni Yahudi dan Nasrani,
telah mengubah kitab-kitab mereka karena itu ia tidak lagi seperti saat
diturunkan oleh Alloh.
Kaum
Yahudi menyimpangkan Taurat. Mereka mengubah dan menggantinya serta
mempermainkan hukum-hukum Taurat. Alloh berfirman, "Diantara
orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya
".
(QS. An Nisa : 46). Begitu pula dengan kaum Nasrani, mereka juga menyimpangkan
Injil. Mereka mengubah hukum-hukumnya. Alloh berfirman, "Apakah kamu
masih mengharapkan mereka percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka
mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang
mereka mengetahui?
" (QS. Al Baqoroh : 75).

 Diantara
bentuk pengubahan yang mereka lakukan adalah penetapan bahwa Alloh mempunyai
anak. Subhanalloh…Maha suci Alloh dari yang demikian, Alloh
menceritakan, "Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Alloh’.
Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan
orang-orang kafir yang terdahulu…
”(QS. At Taubah : 30)

 Begitu pula penuhanan kaum Nasrani
terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam serta perkataan mereka bahwa Alloh
adalah salah satu dari tiga unsur (baca : "trinitas"). Alloh berfirman,
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya
Alloh ialah Al Masih putra Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata, ‘Hai
Bani Isroil, sembahlah Alloh Tuhanku dan Tuhanmu’. ………Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Alloh salah satu dari yang tiga’,
padahal sekali-kali tidak ada sesembahan selain dari Alloh Yang Maha Esa…
"
(QS. Al Maidah : 72 – 73). Dengan diturunkannya Al Quran,
maka Al Quran me-nasakh (menghapus/mencabut
masa berlaku) kitab-kitab yang sebelumnya.

(At Tauhid lish shaffits Tsani Al ‘Ali, kumpulanUlama)

Al Qur’an, Kitab
yang dibawa Nabi sekaligus Rosul terakhir

 Sesungguhnya
Al Qur’an adalah kalamullah (firman/perkataan
Alloh) bukan makhluk Alloh, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi
wa sallam
, sehingga setap mukmin hendaknya senantiasa mengagungkan Al Qur’an dan berusaha
untuk berpegang teguh dengan hukum-hukumnya,
serta membaca dan memahaminya.

 Lalu apa sajakah
kewajiban seorang muslim terhadap Al Qur’an? Diantara kewajiban seorang muslim terhadap Al Quran adalah : (1) wajib mencintai
Al Qur’an, mengagungkan dan menghormati kedudukannya, sebab ia adalah kalamullah,
perkataan yang paling benar,
perkataan Alloh, Rabb semesta alam. (2) wajib
membaca dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an, serta memikirkan
pelajaran yang terkandung di dalamnya.
(3) wajib mengikuti hukum-hukum serta
mentaati perintah-perintah yang ada di dalamnya.

 Sebagai
gambaran, lihat bagaimana ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi shollallohu’alaihi
wa sallam
, maka ia menjawab, "Akhlak beliau adalah Al Qur’an"
(HR. Muslim). Yakni Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam adalah orang
yang mencerminkan penerapan nyata dari hukum-hukum Al Qur’an dan syariat-syariat
di dalamnya. Itulah Rosululloh …, dan kita sebagai umatnya, hendaknya
meneladani beliau. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu
suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (datangnya)
hari akhir…
"
(QS. Al Ahzab : 21).

Buah keimanan kepada
Kitab-kitab Alloh

 Seseorang
yang benar-benar beriman terhadap kitab-kitab Alloh, termasuk Al Qur’an, akan memberikan
banyak pengaruh terhadap dirinya, diantaranya :

a. Menyadari tentang perhatian
Alloh terhadap hamba-hambaNya, juga tentang kesempurnaan rahmat-Nya, di mana Alloh telah
menurunkan kepada setiap kaum sebuah
kitab sebagai petunjuk agar mereka bisa mencapai kebahagiaan
dunia dan akherat.

b. Dapat mengetahui hikmah
Alloh dalam penetapan syariat-Nya, dimana Alloh telah
mensyariatkan bagi setiap kaum, apa yang sesuai dengan keadaan kaum tersebut.
Alloh berfirman, "Untuk tiap-tiap
umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
"
(QS. Al Maidah : 48)

c. Dapat bersyukur kepada
Alloh terhadap nikmat Alloh, yakni
diturunkannya kitab-kitab tersebut. Sebab kitab-kitab tersebut adalah cahaya dan
petunjuk di dunia maupun di
akherat.

[Buletin
A-Tauhid / Abu Ahmad
]

Kesalahan dalam Berwudhu

January 19th, 2008 by yanto82dr

Beberapa Kesalahan Dalam Berwudhu

Wudhu memiliki kedudukan yang penting dalam agama kita. Tidak sahnya
wudhu seseorang dapat menyebabkan sholat yang ia kerjakan tidak sah, sedangkan
sholat adalah salah satu rukun Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh
karena itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk memperhatikan
bagaimana dia berwudhu. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak
diterima sholat yang dilakukan tanpa wudhu dan tidak diterima shodaqoh yang
berasal dari harta yang didapat secara tidak halal"
(HR Muslim). Kesalahan-kesalahan
yang sering dilakukan oleh kaum muslimin pada tata cara berwudhu diantaranya :

1. Melafazhkan niat. Kebiasaan salah yang sering dilakukan
kaum muslimin ini bukan hanya dalam masalah wudhu saja, bahkan dalam berbagai
macam ibadah. Rosululloh tidak pernah melafazhkan niat ketika berwudhu
sedangkan orang yang mengamalkan perkara ibadah yang tidak pernah ada contohnya
dari Rosululloh maka amalan itu tertolak (lihat hadits Arba’in Nawawiyah no.5) dan
bahkan akan mendatangkan murka Alloh. Patokan dalam tata cara ibadah adalah
Rosululloh, bukan akal pikiran atau perasaaan kita sendiri yang akan menjadi
hakim mana yang baik dan mana yang buruk. Andaikan itu adalah hal yang baik,
mengapa Rosululloh tidak mengajarkannya atau tidak melakukannya? Apa mereka
merasa lebih pintar, lebih sholih, lebih bertaqwa, lebih berilmu daripada
Rosululloh? Apakah mereka merasa bahwa Rosululloh bodoh terhadap hal-hal yang
baik sampai mereka berkarya sendiri? Maka siapakah yang kalian ikuti dalam
ibadah ini wahai para pelafazh niat…???

2. Membaca doa-doa khusus dalam setiap gerakan
wudhu seperti doa membasuh muka, do’a membasuh kepala dan lain-lain. Tidak ada
riwayat shohih yang menjelaskan tentang hal tersebut.

3. Tidak membaca "bismillah" padahal
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak
sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah"
(HR Ahmad)

4. Hanya berkumur tanpa istinsyaq (memasukkan
air ke hidung) padahal keduanya termasuk dalam membasuh wajah. Adapun yang sesuai
sunnah adalah menyatukan antara berkumur-kumur dangan beristinsyaq
dengan satu kali cidukan berdasarkan hadits Utsman bin Affan rodhiyallohu
‘anhu
tentang tata cara berwudhu (HR Bukhari, Muslim)

5.      Tidak membasuh kedua tangan sampai siku, hal ini
sering kita lihat pada orang yang berwudhu cepat bagaikan kilat sehingga tidak
memperhatikan bahwa sikunya tidak terbasuh. Padahal Alloh Ta’ala berfirman,
"Dan basuhlah kedua tanganmu hingga kedua siku’" (Al Maaidah :
6)

6. Memisah antara membasuh kepala dengan membasuh telinga
padahal yang benar adalah membasuh kepala dan telinga dalam satu kali ciduk. Dan
ini hanya dilakukan satu kali, bukan tiga kali seperti pada bagian lain
berdasarkan hadits dari Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu tentang tata
cara berwudhu (HR Bukhari, Muslim)

7. Tidak memperhatikan kebagusan wudhunya sehingga
terkadang ada anggota wudhunya yang seharusnya terbasuh tetapi belum terkena
air. Rosululloh pernah melihat seorang yang sedang sholat sedangkan pada
punggung telapak kakinya ada bagian seluas uang dirham yang belum terkena air,
kemudian beliau memerintahkannya untuk mengulang wudhu dan sholatnya.

8. Was-was ketika berwudhu. Sering kita melihat
ketika seseorang berwudhu hingga sampai ke tangannya, dia teringat bahwa lafazh
niatnya belum mantap sehingga dia mengulang wudhunya dari awal bahkan kejadian
ini terus berulang dalam wudhunya tersebut hingga iqomah dikumandangkan, hal seperti
ini adalah was-was dari syaithon yang tidak berdasar. Wallahul musta’an..

Demikianlah sedikit paparan mengenai sekelumit kesalahan dalam
berwudhu yang banyak kita jumpai pada kaum Muslimin khususnya di negeri kita
ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih memperhatikannya lagi. Wallohu
a’lam bish showab
[Buleitin At Tauhid / Abu Fatah Amrullah Al Bakasy]

Takdir Aloh tidak Kejam

January 19th, 2008 by yanto82dr

Takdir
Alloh tidak kejam

            Iman
kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak
mengimaninya sungguh dia telah terjerumus dalam kekafiran meskipun dia
mengimani rukun-rukun iman yang lainnya. Walhamdulillah banyak diantara
kaum muslimin yang telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata
masih terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan dengan
keimanan kepada takdir.

            Barangkali
masih tersimpan dalam ingatan kita tatkala seorang artis mempopulerkan lagu ‘Takdir
memang kejam’
yang sangat digemari oleh sebagian masyarakat negeri ini
beberapa waktu lampau, yang menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita
menerima sesuatu yang menurut mereka bagus namun pada hakikatnya justeru
merusak akidah mereka.
Karena itulah setiap muslim wajib
membekali dirinya dengan pemahaman takdir yang benar sebagaimana yang diajarkan
oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dalam mengimani takdir ada empat hal yang harus
diyakini dalam dada setiap muslim yaitu al ‘ilmu, al kitabah, al
masyi’ah
dan al kholq.

Pertama, Al ‘Ilmu (tentang ilmu Alloh)

            Kita
meyakini bahwa ilmu Alloh Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global
dan terperinci yang terjadi sejak zaman azali (yang tidak berpermulaan) sampai
abadi (yang tidak berkesudahan). Alloh Ta’ala berfirman, "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui
apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh." (Al Hajj : 70). Alloh sudah tahu siapa saja yang akan
menghuni Surga dan siapa yang akan menghuni Neraka. Tidak ada satupun makhluk
di langit maupun di bumi bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari
pengetahuan-Nya.

Kedua, Al Kitabah (tentang penulisan ilmu Alloh)

            Kita
meyakini bahwa Alloh Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala
sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum
penciptaan langit dan bumi. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, "Alloh telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak
lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi
" (HR.
Muslim). Takdir yang ditulis di Lauhul Mahfuzh ini tidak pernah berubah.
Berdasarkan ilmu-Nya, Alloh telah menuliskan siapa saja yang termasuk penghuni
surga dan siapa yang termasuk penghuni neraka. Namun tidak ada satu orangpun
yang mengetahui apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh kecuali setelah hal itu
terjadi.

Ketiga, Al Masyi’ah (tentang kehendak Alloh)

            Kita
meyakini bahwa Alloh Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala
sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhlukpun yang keluar dari kehendak-Nya.
Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Alloh,
entah itu disukai atau tidak disukai oleh syari’at. Inilah yang disebut dengan Irodah
Kauniyah Qodariyah
atau Al Masyi’ah. Seperti adanya ketaatan dan
kemaksiatan itu semua terjadi di bawah kehendak Alloh yang satu ini. Meskipun
kemaksiatan itu tidak diinginkan terjadi oleh aturan syari’at.

            Di
sisi lain Alloh memiliki Irodah Syar’iyah Diniyah.
Di
dalam jenis kehendak/irodah yang kedua ini terkandung kecintaan Alloh. Maka
orang yang berbuat taat telah menuruti 2 macam kehendak Alloh ini. Adapun orang
yang bermaksiat dia telah menyimpang dari Irodah Syar’iyah namun tidak terlepas
dari Irodah Kauniyah. Lalu apakah orang yang bermaksiat ini terpuji ?.
Jawabnya, Tidak. Karena dia telah melakukan perkara yang tidak dicintai d
bahkan dibenci oleh Alloh.

Keempat, Al Kholq (tentang penciptaan segala sesuatu oleh
Alloh)

            Kita
meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan
Alloh baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang
terjadi di dalamnya.
Alloh Ta’ala befirman,
"Alloh adalah pencipta segala sesuatu" (Az Zumar : 62). Perbuatan
hamba juga termasuk makhluk ciptaan Alloh, karena perbuatan tersebut terjadi
dengan kehendak dan kemampuan hamba; yang kedua-duanya ada karena diciptakan
oleh Alloh. Alloh Ta’ala berfirman, "Alloh-lah yang Menciptakan
kalian dan amal perbuatan kalian
" (Ash Shoffaat : 96).

Sumber kesesatan dalam memahami takdir

            Sesungguhnya
kesesatan dalam memahami takdir bersumber dari kesalahpahaman dalam memahami
kehendak/irodah Alloh. Mereka yang menganggap terjadinya kemaksiatan
terjadi di luar kehendak Alloh telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As
Sunnah yang menunjukkan tentang irodah kauniyah.
Orang-orang
semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe Qodariyah yang menolak
takdir. Sedangkan mereka yang menganggap segala sesuatu yang ada baik ketaatan
maupun kemaksiatan terjadi karena dicintai Alloh telah menyingkirkan
dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang mengancam hamba yang menyimpang dari irodah
syar’iyah
. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe
Jabriyah yang menganggap hamba dalam keadaan dipaksa oleh Alloh.
Maha Suci lagi Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka katakan. Maka
Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah, mereka mengimani irodah syar’iyah
dan irodah kauniyah, dan inilah pemahaman Nabi dan para sahabat.

Takdir adalah rahasia Alloh

            Ali
bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam
pernah bersabda, "Setiap kalian telah ditulis
tempat duduknya di surga atau di neraka
". Maka ada seseorang dari
suatu kaum yang berkata, "Kalau begitu kami bersandar saja (tidak
beramal-pent) wahai Rosululloh ?". Maka beliau pun menjawab, "Jangan
demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan
"
kemudian beliau membaca firman Alloh, "Adapun orang-orang yang mau
berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan
baginya jalan yang mudah
" (Al Lail :5-7). (HR. Bukhori dan Muslim).
Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa
bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk
bermaksiat.

Pilih mana : Jalan ke surga atau ke neraka ?

            Apabila
di hadapan anda terdapat 2 buah jalan; yang satu menuju daerah yang penuh
kekisruhan dan ketidakamanan, sedangkan jalan yang satunya menuju daerah yang
penuh ketentraman dan keamanan. Akan kemanakah anda akan melangkahkan kaki?
Akal sehat tentu memilih jalan yang pertama. Maka demikian pulalah seharusnya
kita bersikap dalam memilih jalan yang menuju kehidupan akhirat kita, hendaknya
jalan ke surga itulah yang kita pilih bukan sebaliknya. Alangkah tidak adilnya
manusia yang memilih kesenangan duniawi dengan akalnya namun justeru memilih
kesengsaraan akhirat dengan dalih takdir dan membuang akal sehatnya. Suatu saat
ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh kholifah Umar, namun pencuri ini
mengatakan, "Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena
takdir Alloh". Umar pun menjawab, "Dan Kami pun memotong tangan
dengan  takdir Alloh". Lalu siapakah yang kejam ?. Bukan takdir Alloh yang
kejam tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Wallohu a’lam bish
showaab
[Buletin At Tauhid Abu Mushlih Ari]            

Puasa Muharrom

January 14th, 2008 by yanto82dr

Puasa 9,10 Muharrom serta Larangan Puasa Hari Jumat & Sabtu
Alhamdulillah, kita telah masuk bulan Muharrom, satu dari 4 bulan yang dimuliakan dalam islam selain Dzulhijjah, Sya’ban & Romadlon. Ada beberapa keutamaan pada bulan Muharrom ini, salah satunya yaitu adanya puasa Tasu’a (tgl 9 Muh) & Puasa Asysyura (tgl 10 Muh).

Akan tetapi perlu diingat, bahwa bulan ini bukan bulan sakral sebagaimana menurut anggapan orang jawa (baca: Jogja), seperti mencuci benda2 pusaka, tidak boleh mengadakan nikahan dan hal2 lain yang tidak ada landasannya dari Al Qur’an maupun petunjuk Rasululloh SAW.

Yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah tentang 2 puasa sunnah di bulan Muharrom.

Puasa Muharram (Asyura & Tasu’a)
Rasululloh SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa pada bulan Romadhon adalah puasa pada bulan Muharram” (HR Muslin, Shohih)
Rasululloh SAW berpuasa Asyura (10 Muharrom) & memerintahkan supaya orang2 berpuasa (HR Bukhori & Muslim, Shohih)
Rasululloh SAW pernah ditanya tentang puasa Asyuro, lallu beliau SAW menjawab: “Puasa itu dapat menebus dosa setahun yang telah lewat” (HR Muslim no 1162, Shohih)
Rasululloh SAW bersabda: “Sungguh seandainya aku masih sempat pada tahun depan, niscaya aku akan puasa tasu’a pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom)” (HR Muslim, Shohih). Sebab turunnya hadits ini yaitu karena ada sahabat yang mengabarkan kepada Rasululloh bahwa Yahuidi la’natulloh ‘alaihi juga puasa pada tanggal 10 Muharrom. Lalu Rosululloh SAW menyuruh kita untuk berpuasa sehari sebelum/sesudah 10 Muharrom untuk menyelisihi Yahudi la’natulloh ‘alaihi.

Pada tahun ini tanggal 9 & 10 Muharrom jatuh pada hari Jumat & Sabtu. Padahal Rasululloh SAW dalam Hadits2 shohih melarang puasa (Selain puasa wajib) pada hari Jumat & Sabtu. Lalu apa yang kita lakukan?

Penjelasan puasa di hari jumat.
Kita tidak boleh mengkhususkan puasa sunnah dihari jumat, dalilnya adalah:
Muhammad bin Abbad bin Ja’far bertanya kepada Jabin bin Abdullah: “apakah Rasululloh SAW melarang puasa pada hari Jumat?” Jawabnya: “Ya” (Shohih dalam kitab Bukhori/Muslim)
Abu Hurairoh ra berkata, Rasululloh SAW bersabda: ”Janganlah sekali2 salah seorang diantara kalian puasa pada hari jumat, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya/sehari sesudahnya” (HR Muslim no 1144, Shohih)
Berdasarkan kedua hadits diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita tidak boleh mengkhususkan puasa di hari jumat, kecuali jika kita puasa sehari sebelum/sesudahnya (yaitu puasa hari kamis dengan hari Jumat)

Penjelasan Puasa di hari Sabtu
Janganlah kalian puasa pada hari sabtu, kecuali puasa yang wajib. Kalau seorang dari kamu tidak mendapatkan makanan kecuali kulit anggur atau tangkai pohon maka batalkan puasanya” (di shohihkan Al Albani)
Sebenarnya ada beberapa hadits lagi tentang puasa pada hari sabtu, saya cuma ingat hadits itu diriwayatkan dari keluarga Busyr, kalo bunyinya saya lupa. Karena keterbatasan buku yang ada di tempatku (sebagian besar masih di rumah & di Jogja) maka saya tidak bisa menuliskan bunyi hadits tersebut.

Berkenaan puasa sunnah pada hari sabtu ada 2 pendapat, sebagian berpendapat makruh, sebagian haram. Berdasarkan penjelasan Syaikh Ali bin Hasan dalam bukunya tentang puasa di hari sabtu, insyaAlloh hukum puasa dihari sabtu adalah HARAM.

Kesimpulan:
Berdasarkan uraian diatas jelas bahwa kita dianjurkan (Sunnah) Puasa pada tanggal 9 & 10 Muharrom. Akan tetapi karena tanggal 10 Muharrom jatuh pada hari sabtu, maka kita tidak boleh puasa pada hari tersebut (tanggal 10 Muharrom). Sedangkan untuk tanggal 9 Muharrom karena jatuh pada hari jumat, maka kita harus puasa pada hari kamisnya.

Sedangkan jika tahun depan tanggal 9 & 10 Muharrom jatuh (misalnya) pada hari rabu & kamis maka kita boleh puasa pada kedua hari tersebut (bahkan sangat dianjurkan), tanpa syarat apapun. Tidak bolehnya puasa tanggal 10 Muharrom pada tahun ini karena bertepatan dengan hari Sabtu, bukan karena sebab yang lain.
Wallohu a’lam bishshowab.

Akhirnya kerja juga…

January 1st, 2008 by yanto82dr

Akhirnya Kerja Juga

Alhamdulillah, setelah diterima di Astra Internasional aku ditempatkan di Auto2000 (Toyota Sales Operation). PErtamanya aku bingung juga, ragu2 mo diambil apa tidak.. Lha ada kata2 ‘sales’ yang buat aku ill feel. Tapi gimana lagi, semua harus dicoba, asal halal… Waktu tes user (Ka Div, Ka Dept & CEO) aku dapat pencerahan kalo Auto2000 itu rekanan Toyota yang jual mobil, spare part & bengkel juga. Nah, yang aku dapet tu yang bengkel.. Jadi sekaranng aku masih MT di cabang Auto2000 Cempaka Putih. Kalo lulus dari MT katanya (dan emang gitu) bias jadi kepala bengkel.. Lumayan kan…
Tapi walo dah tau gitu, aku juga masih ragu, karena waktu itu aku juga da tes user LG, tes Pupuk kaltim dan tes indosat.. Setelah melalui kebingungan yang panjang, berkonsultasi & minta petunjuknya, akhirnya aku lepas ke-idealisanku sebagai Orang Elektro dan harus berpindah ke dunia otomotif…
Hari pertama & kedua kerja aku ga da masalah, karena masih di kantor pusat tuk urus administrasi dll, jadi aku mulai kerja dihari ketiga. Seminggu pertama di kantor cabang, aku disuruh masuk bagian washing/cuci mobil,,.. Gila… Sarjana Teknik Elektro UNDIP, jauh juah dari kampong ke Jakarta Cuma disuruh nyuci mobil…!!! TErkadang ketika sedang nyuci mobil aku suka senum2 sendiri, bukannya aku gila, tapi Cuma mengingat2 kalo aku ni kan sarjana… Tapi aku terima & jalani saja dengan ikhlas, yang penting kan hasil akhir, ya gak..??? Minggu kedua, aku disuruh masuk bagian lubing/ganti oli.. dibagian ini tugasku ganti oli mesin, oli transmisi & oli diferential/oli garden. Hari pertama dibagian ini, tanganku sering tersiram oli panas… maklumlah belum tahu tekniknya,hehehe… Minggu ke tiga aku dah masuk ke balancing & spooring, pokoknya mulai asik deh… Selama di bagian lubing & balancing, jika lagi gad a kerjaan aku lihat2 mekanik yang sedang bekerja sambil nanya2.. untung aja aku ga dibilang cerewet, lha ga tau apa2 tentang mesin…
Mulai minggu ke empat aku dah jadi montir.. Asyik… lulusan elektro kerja di otomotif… Dibagian ini dan sampai 3 bulan kedepan aku bener2 jadi montir, berlumuran oli, gemuk, bongkar pasang ban dll Baru setelah bulan kelima/ sekitar bulan April aku jadi foreman, habis tu SA trus baru analyst…
Oia, da yang kelupaan… Waktu hari pertama ke bengkel/cabang aku ketemu instruktur bengkel, trus sama dia aku ga boleh ngaku MT, aku suruh ngaku anak STM. Duh.. daripada bingung mikir dari STM mana, mending aku ngaku anak UNDIP yang sedang magang. Aku bilang aja lagi semester 5, umur 20 tahun, lahir tahun 1987.. Wakakak kebangetan ya, habis gimana lagi??? Lha adiku saja kelahiran 1986 dan dia sekarang dah semester 7… Daripada ngaku anak STM, tambah parah lagi.. bisa2 aku ngaku umur 17 thn…
Dah dulu ah.. dah puas nulisnya.. sekarang aku mo focus buat presentasi tanggal 14 Des.. Dah ya…

Cinta

September 9th, 2007 by yanto82dr

Bila Ulama Bicara Tentang CINTA

Cinta Menurut Ibn Hazm

Karena keagungannya, arti cinta sangat rumit untuk digambarkan, maka
engkau tidak akan dapat menemukan hakikatnya kecuali dengan pengorbanan.

Cinta itu adalah cinta yang tidak akan hilang kecuali dengan datangnya
ajal.

Ia akan senantiasa berusaha, bertekad, mencari dan bersemangat untuk
bertemu dan ia akan selalu tertarik kepada tempat dimana mereka berdua dapat
saling berbagi.

Cinta menurut Ibnu Jauzi

Cinta adalah kecondongan jiwa yang sangat kuat kepada satu bentuk yang
sesuai dengan tabiatnya. Maka jika pemikiran jiwa itu kuat mengarah kesana, ia
akan selalu mengharapkannya.

Cinta menurut imam Ibnul Qoyyim

Faktor “pendorong” dalam masalah cinta terkadang yang dimaksudkan
adalah “perasaan” yang diikuti kehendak dan ketertarikan. Hal ini ada dalam
diri seorang yang sedang jatuh cinta, terkadang dimaksudkan juga sebagai
“sebab” yang karenanya dapat ditemukan cinta dan perasaan tergantung darinya.

Karena cinta kita kepada sesuatu akan membuat buta dan tuli, maka
seorang pecinta tidak melihat siapapuin yang lebih cantik selain kekasihnya.

Cinta akan hilang seiring dengan hilangnya maksud, karena sesungguhnya
cinta itu menuntut persesuaian dan kecocokan.

Semua cinta yang bukan karena Alloh Ta’ala akan berakhir dengan
kebencian dan kejengkelan..

Fitroh kesucian Jasmani

August 31st, 2007 by yanto82dr

Fitroh-Fitroh Manusia Dalam Kesucian Jasmani

Sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk menjalankan seluruh aspek kehidupannya sesuai dengan tuntunan kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya. Alloh berfirman, “Dan apa yang telah dibawa oleh Rosul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkan-lah.” (Al-Hasyr: 7). Di antara tuntunan itu adalah tuntunan dalam memelihara kesucian jasmani. Maka dari itu, seorang muslim semestinya melaksanakan tuntunan fitroh yang telah digariskan Alloh melalui lisan Rosul-Nya yaitu :“Lima hal termasuk bagian fitroh, yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), memotong kuku, mencabuti rambut ketiak dan memotong kumis.” (HR. Bukhori dan Muslim). Sabdanya pula, “Sepuluh hal termasuk fitroh: Memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq(menghirup air ke hidung), memotong kuku, mencuci sela lipatan jari, mencabuti rambut ketiak, mencukur rambut di sekitar kemaluan, dan istinja”, perowi berkata: “Saya lupa yang kesepuluh, mungkin kumur-kumur”. (HR. Muslim). Berikut ini beberapa point yang sering dianggap sepele oleh kaum muslimin,

Memotong kumis (jangan sampai menutup bibir)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan potonglah kumis-kumis.” (HR. Bukhari, Muslim). Sabdanya pula, “Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya, maka dia bukan termasuk dari (golongan) kami.” (shohih, HR. Tirmidzi). Ibnu Hazm rohimahulloh berkata, “Ada ijma’ yang menetapkan bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot (panjang) adalah fardhu.” (Tahrim Halq Al Liha)

Memelihara jenggot dan tidak memotongnya

Jenggot adalah rambut yang tumbuh di kedua pipi dan dagu. Jenggot merupakan perhiasan laki-laki yang merupakan lambang kesempurnaan dan membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dikatakan demikian sebab perempuan tidak berjenggot. Memeliharanya wajib dan mencukurnya harom, sebab hal ini merubah ciptaan Alloh. Dan perbuatan merubah ciptaan Alloh adalah wangsit dari syaithon, "Akan aku suruh mereka (untuk merubah ciptaan Alloh) lalu mereka merubahnya" (An Nisaa’: 119). Perbuatan ini juga merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) perbuatan orang kafir. Rosululloh bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik, perliharalah jenggot dan potonglah kumis" (HR. Bukhori Muslim). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan hadits-hadits yang shohih dan tidak ada seorang ulama pun yang membolehkannya." (Al Ikhtiyarot Al ‘Ilmiyyah). Jenggot inilah yang merupakan ciri khas para nabi, para sahabat, orang sholih dulu dan sekarang.

Namun sungguh sangat mencengangkan tatkala sebagian dari kaum muslimin mencela syariat yang mulia ini. Mereka menolak perintah ini dengan berbagai alasan yang lebih rapuh ketimbang sarang laba-laba bahkan menghina orang berjenggot dengan menggelari kambing, teroris, Amrozi dan berbagai julukan jelek lain. Allohu akbar! Ketahuilah, perbuatan mencela syariat adalah termasuk salah satu dari pembatal keislaman! Pantaskah seorang muslim bertindak demikian? Dimanakah nilai ketaatan mereka kepada Rosululloh?

Menggosok gigi / siwak

Mengosok gigi sangatlah dianjurkan, selain untuk kebersihan dan kesehatan, bersiwak juga mempunyai nilai ibadah yang sangat diridhai Alloh. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Siwak itu mensucikan mulut dan (mendatangkan) Keridhoan Ar-Robb.” (HR. Ahmad, An Nasai, Bukhori secara mu’allaq). Bersiwak disunnahkan pada beberapa waktu diantaranya setiap kali hendak wudhu, hendak sholat, membaca Al Qur’an, ketika bangun di malam hari dan beberapa waktu lain. Rosululloh bersabda, “Seandainya bukan karena khawatir memberatkan umatku, tentu kusuruh mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (HR. Bukhori, Muslim). Sabdanya pula, “Seandainya bukan karena khawatir memberatkan umat, tentu kuperintahkan mereka bersiwak (pada setiap wudhu).” (HR. Bukhori, Ahmad, An-Nasai). Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Adalah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bilamana bangun malam beliau menggosok giginya dengan siwak.” (HR. Bukhari,Muslim). Bahkan dalam keadaan berpuasa beliau juga bersiwak. Amir bin Robi’ah berkata, “Tidak terhitung saya melihat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersiwak dalam keadaan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi berkata derajad hadits ini hasan). [Buletin At Tauhid / Abu Uzair Boris]

Virus di Tengah Umat

August 26th, 2007 by yanto82dr

VIRUS YANG MEWABAH DITENGAH UMMAT

Sungguh aneh bin ajaib kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini dakwah yang menyerukan kepada tauhid dan mengingatkan pada syirik adalah sudah tidak relevan. Sebab di zaman yang modern seperti ini sudah banyak orang yang mempercayai adanya Tuhan dan sangat jarang ditemui ada orang yang menyembah patung, bintang, matahari, berhala dan sebagainya. Mereka juga mengatakan bahwa sekarang ini kita harus memfokuskan dan memperhatikan bagaimana kita harus melawan orang-orang kafir dan merebut kekuasaan. Pandangan seperti ini muncul karena memang dangkalnya ilmu dan pemahaman yang ada pada orang tersebut, tidak faham apa itu pengertian tauhid dan syirik dengan benar, serta tidak faham dengan inti dakwah setiap rosul. Bukan berarti bahwa melawan orang kafir itu tidak penting. Tidak, sekali-kali tidak! Dengan tulisan ini semoga dapat mendudukkan masalah ini secara benar dan dapat menyadarkan kaum muslimin dari keterlenaannya.

Tauhid bukan sekedar percaya adanya Tuhan

Sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa apabila seorang itu telah mengakui adanya Tuhan, maka dia sudah dikatakan bertauhid. Mereka lupa bahwa ini hanyalah bagian dari tauhid, bahkan hanya bagian kecil darinya. Dan belumlah seseorang itu dianggap bertauhid hanya dengan bagian yang ini saja. Sedangkan bagian tauhid yang lain bahkan yang paling pokok di antaranya justru tidak faham. Setiap orang wajib mengesakan Alloh dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat-Nya. Jika ketinggalan satu saja dari ketiga tauhid tersebut belumlah dia dikatakan sebagai seorang yang bertauhid.

Lihatlah kaum musyrik quroisy, bukankah mereka juga mengakui adanya Alloh, bahkan bukankah mereka juga menyembah Alloh? Kenapa mereka masih diperangi oleh Rosululloh? Alloh berfirman: ”Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak betakwa (kepada-Nya)?”(Yunus: 31).

Syirik bukan sekedar sujud kepada patung

Siyrik adalah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Alloh. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita syirik itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini.

Kita lihat juga kaum musyrik yang diperangi oleh Rosululloh dulu, apakah mereka murni benar-benar menyembah atau sujud kepada berhala dan yang lainnya hanya karena mereka batu dan pohon? Ternyata tidak, Alloh menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya” (Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan akan memerantarai pada Alloh.

Syirik juga tidak terhenti di sini, ada juga syirik dalam ketaatan. Tatkala Rosululloh membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tandingan (tuhan) selain Alloh” (At-Taubah : 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “Tidaklah kami itu menyembah mereka”. Maka Rosululloh menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut mengharamkan, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut menghalalkan?” Maka Adi bin Abi Hatim pun menjawab: “Benar”. Rosululloh berkata: ”Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya harom dengan landasan hawa nafsu? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan hati dan lisan. Alloh berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh” (Al Baqoroh : 165).

Realita yang ada dimasyarakat sekarang ini

Sungguh aneh masyarakat kita sekarang ini, mereka akan begitu sangat marah apabila ada orang non islam yang mempropagandakan agama mereka dan mengajak orang lain kepada agama mereka. Namun pada saat yang sama, dia telah membiarkan dirinya, anak-anaknya dan keluarganya untuk diseret dan dipengaruhi oleh kesyirikan dan dijauhkan dari aqidah yang lurus, yakni dengan membiarkan di rumahnya sebuah televisi yang tiap harinya selalu dijejali dengan acara-cara kesyirikan. Seolah-olah mereka mengatakan: “Mari silakan masuk, ajari dan pengaruhi keluarga kami dengan acara-acara syirik, bid’ah dan maksiat kalian”. Na’udzu billah!! Bukankah ini terjadi karena tidak fahamnya mereka terhadap apa itu syirik, ancaman dan bahayanya? Ataukah merasa juga telah merasa aman dan jauh akan terjatuh di dalamnya?

Anak-anak kita sudah terbiasa disuguhi dengan film tentang peri, hantu, dukun, sihir, jimat-jimat dan film misteri yang penuh kesyirikan. Sementara anak mudanya tenggelam dalam ramalan bintang/zodiak. Sadarlah wahai saudaraku! itu semua adalah termasuk amalan-amalan kesyirikan.

Dengan dalih Budaya dan Adat Istiadat

Lebih ironi lagi, ternyata kita juga hidup disuatu masyarakat yang diantara adat istiadat dan budaya mereka merupakan amalan-amalan kesyirikan. Ketika kita mengingatkan mereka ternyata mereka malah balik menuduh bahwa kita adalah orang yang kaku dan tidak faham terhadap esensi dan transformasi nilai. Namun sayang ketika mereka berusaha untuk dijelaskan dan diajak untuk “sedikit” berpikir, hati mereka sudah diliputi oleh dua penyakit yaitu taqlid (ikut-ikutan) dan ta’ashshub (fanatik). Kalau begitu, bagaimana kebenaran ini akan sampai?

Alloh berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqoroh : 170).

Kita lihat di sana ada acara nyadran, sekaten, ngelarung, sedekah bumi/laut, suronan dan lain-lain, yang mana acara-acara itu di masyarakat kita sudah mendarah daging, bahkan sudah menjadi komoditi bisnis dan mata pencaharian. Sungguh ironi, mereka beralasan bahwa ini adalah budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Allohu akbar !! Inilah alasan yang menjadi jurus pamungkas kaum musyrikin jaman Rosululloh tatkala mulut mereka tidak mampu lagi menjawab hujjah Alloh, Na’udzu billah.

Mengingat akan parahnya keadaan ini, maka sudah menjadi tugas kita semua untuk saling mengingatkan dan terus untuk mengingatkan. “Dan tetaplah beri peringatan, karena peringatan itu memberikan manfaat terhadap orang-orang yang beriman” (Adz-Dzariyat : 55 ). [Buletin At Tauhid / Yusuf Abu Hudzaifah]

MENGEMBALIKAN KEMULIAAN UMMAT

August 26th, 2007 by yanto82dr

MENGEMBALIKAN KEMULIAAN UMMAT

Tidak samar lagi bagi siapa yang mau mengamati kondisi umat Islam sekarang ini niscaya akan mendapati keadaan yang sangat memprihatinkan. Kaum muslimin hidup dalam kesengsaraan, kepedihan, berada di tengah keterpurukan dan mundur dalam hampir seluruh sisi kehidupan. Mereka telah direndahkan dan dihinakan oleh orang-orang kafir, harta mereka dirampas, negeri-negeri mereka diinjak-injak sehingga mereka pun hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan was-was.

Mencari jalan keluar dari kehinaan

Keadaan ummat Islam yang demikian ini telah mengundang semangat bagi sebagian kaum muslimim untuk mengubah dan memperbaiki kerusakan. Hanya saja mereka berbeda-beda cara dalam menanganinya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal ini karena umat Islam terbelakang secara ekonomi atau tertinggal dalam masalah sains dan teknologi atau tidak punya persenjataan modern. Di antara mereka ada yang nekat menceburkan diri dalam sistem politik kafir, berusaha merebut kursi pemerintahan dan kekuasaan. Ada juga yang membentuk gerakan bawah tanah dengan mengatasnamakan jihad kemudian membuat kerusakan dan pengeboman di mana-mana. Ada pula yang berdemonstrasi di jalan-jalan menuntut ditegakkannya kembali daulah Islam.

Subhanalloh, sungguh mereka ini hendak berjuang tetapi tanpa dilandasi ilmu! Padahal jika mereka mau merenungi sejenak hadits Rosululloh tentulah mereka akan mendapati jawaban dan solusi terbaik yang dapat mengentaskan umat Islam dari kehinaan ini. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba), disibukkan oleh peternakan dan pertanian, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian. (shohih, riwayat Abu Dawud)

Dari hadits Rosululloh tersebut maka jelaslah bagi kita bahwa keadaan buruk yang menimpa kaum muslimin dewasa ini disebabkan sangat jauhnya mereka dari ajaran agama, jauh dari kitab Alloh dan Sunnah Rosul-Nya. Mereka disibukkan dengan kehidupan dunia dan melalaikan hak-hak Robb-nya. Kesyirikan yang merupakan dosa terbesar seolah-olah sudah menjadi profesi sehari-hari dan menjadi bagian hidup mereka, ibadah mereka dipenuhi dengn kebid’ahan dan keseharian mereka dijalani dengan bermaksiat kepada Penciptanya. Kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan inilah kotoran-kotoran yang merupakan sebab kehancuran bangunan Islam.

Tashfiyyah dan Tarbiyyah

Karena itu wajib bagi kita memulai langkah dengan mempelajari Islam yang haq sebagaimana jalan yang ditempuh pertama kali oleh Rosululloh dengan men-tashfiyyah (memurnikan) Islam dari kotoran-kotoran yang melekat padanya kemudian kita men-tarbiyyah (mendidik) diri kita dengan mengamalkan Islam yang telah dimurnikan ini. Ibarat gelas yang kotor, maka cucilah dahulu kotorannya baru kemudian diisi air. Demikianlah janji Alloh dalam salah satu firman-Nya,”Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.” ( An-Nuur : 55) [ Buletin At Tauhid / Abu Ibrohim Hakim ]